SISTEM SURVEILEN PENYAKIT
PASCA BENCANA
1. Pendahuluan
Bencana merupakan setiap kejadian bahaya yang mengakibatkan kerusakan, gangguan ekonomi, kematian atau penurunan kondisi kesehatan dan pelayanan kesehatan sedemikian rupa sehingga memerlukan tanggapan luar biasa dari pihak luar wilayah tersebut atau penduduk yang mengalaminya.
Bencana, bukan suatu kejadian yang baru di Indonesia. Bencana terjadi hampir di seluruh daerah di Indonesia dan hampir terjadi tiap tahun. Bencana ini dapat terjadi secara alami dan dapat juga akibat ulah manusia serta akibat perkembangan teknologi. Bencana yang terjadi mengakibatkan banyak korban , seperti meninggal, hilang, dan luka-luka. Dibawah ini dapat dilihat diagram mengenai kejadian bencana dan korban yang diakibatkan bencana di indonesia tahun 2008 :
Diagram 1. Kejadian Bencana di Indonesia tahun 2008
Sumber : http:// bnpb.go.id /website/index.php
Diagram 2. Korban Meninggal dan Hilang Akibat Bencana Tahun 2008 
Sumber : http:// bnpb.go.id /website/index.php
Dari diagram di atas dapat dilihat bahwa hampir semua bencana terjadi di Indonesia Bencana dapat mengakibatkan berbagai kerugian seperti kerusakan tempat tinggal dan lingkungan, kesakitan, peningkatan kejadian penyakit menular, kelaparan yang dapat mengakibatkan kekurangan gizi, gangguan sosial ekonomi dan kematian sehingga memerlukan tanggapan yang luar biasa. Untuk itu, diperlukan pemantauan dan pengendalian akibat dari bencana tersebut.
Pemantauan dan pengendalian ini dilakukan agar kerugian yang diakibatkan bencana dapat dikurangi. Pemantauan dan pengendalian ini harus dilakukan secara terus-menerus sehingga dapat memantau kejadian dan peningkatan kasus akibat bencana. Pemantauan secara terus-menerus ini sering disebut surveilen.
Karena banyaknya kerugian dan akibat dari bencana yang memerlukan surveilen, maka penulis memfokuskan pembahasan artikel ini pada sistem surveilen penyakit pasca bencana.
II. Surveilen Penyakit dan Faktor Resiko
a. Faktor Resiko
Bencana dapat memperbesar resiko dan penyebaran penyakit. Peningkatan kasus penyakit akan sangat tinggi saat dan pasca bencana, dan dapat juga meningkat sampai tahap kejadian luar biasa. Peningkatan kasus penyakit menjadi KLB sebenarnya dapat dicegah, apabila penyebaran penyakit dapat dicegah dengan pelaksanaan sistem surveilen secara baik.
Peningkatan faktor resiko dan penyebaran penyakit ini terjadi karena adanya perubahan-perubahan pada bidang-bidang berikut :
1. Perpindahan penduduk, pemindahan korban dapat menyebabkan masuknya penyakit menular baik penduduk migrant maupun penduduk asli yang rentan.
2. Kepadatan penduduk, bencana menyebabkan penduduk harus diungsikan ketempat yang aman. Pengungsian penduduk ini menyebabkan adanya kontak yang dekat antar penduduk, sehingga berpotensi untuk meningkatkan penyakit bawaan udara (airborne disease). Selain itu, layanan sanitasi yang tersedia sering tidak cukup untuk mengatasi pertambahan penduduk yang mendadak.
3. Kerusakan dan pencemaran layanan sanitasi dan air, sistem penyedian air dan sistem pembuangan air kotor dan sistem saluran listrik adalah sistem yang sangat rentan dan mudah rusak akibat bencana. Air minum sangat rentan terhadap kontaminasi yang disebabkan oleh kebocoran saluran air kotor dan adannya bangkai binatang di sumber air.
4. Terganggunya program kesehatan masyarakat setelah bencana, tenaga dan dana biasanya dialihkan untuk kegiatan pemulihan. Jika program kesehatan masyarakat (misalnya program pengendalian vector dan vaksinasi) tidak dipelihara dan dipulihkan sesegera mungkin penyebaran penyakit menular dapat meningkat pada populasi yang tidak terlindung.
5. Perubahan ekologi yang mendukung perkembangan vector. Musim hujan yang tidak biasa, disertai atau tanpa banjir, kemungkinan dapat mempengaruhi kepadatan populasi vektor. Seperti pertambahan populasi nyamuk dan hewan pengerat di daerah banjir.
6. Pemindahan hewan peliharaan dan hewan liar. Pemindahan hewan akibat bencana dapat mengakibatkan penularan zoonosis yang ada pada hewan tersebut pada manusia dan hewan lain.
7. Persedian makanan, air, dan penampungan darurat dalam situasi bencana. Kebutuhan dasar penduduk sering disediakan dari sumber baru atau sumber yang berbeda. Hal ini kadang tidak dapat dipastikan apakah aman atau tidak bagi penduduk, atau malah sebagai sumber penyakit menular.
Waring, dalam bukunya yang berjudul ”Communicable Diseases Following Natural Disasters: A Public Health Response”, menuliskan faktor yang mendukung terjadinya KLB Penyakit adalah <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Author>Waring</Author><RecNum>8</RecNum><record><rec-number>8</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">8</key></foreign-keys><ref-type name="Audiovisual Material">3</ref-type><contributors><authors><author>Stephen C. Waring</author></authors></contributors><titles><title>Communicable Diseases Following Natural Disasters: A Public Health Response Associate Director Center for Public Health Preparedness, </title></titles><dates></dates><pub-location>Houston</pub-location><publisher>university of texas school of public health</publisher><urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(3)<!–[if supportFields]><![endif]–>:
· serangan cepat dan dampak luas
· kesulitan sumber air
· pemindahan penduduk secara besar-besaran,
· tempat pengungsian di tempat yang penuh sesak
· sanitasi yang tidak adekuat
· pengelolaan sampah yang compromise
· kekurangan bahan makanan
· kurang gizi
· tingkat imunitas
· perjangkitan KLB sebelum bencana :
infrastruktur yang tidak baik
persediaan yang kurang
kerentanan populasi
Untuk menghindari terjadinya penigkatan penularan dan peningkatan penyakit dapat dilakukan upaya pencegahan dan pengendalian penyakit menular pasca bencana. Adapun prinsip-prinsipnya adalah <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Author>Fauziah</Author><Year>2006</Year><RecNum>2</RecNum><record><rec-number>2</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">2</key></foreign-keys><ref-type name="Book">6</ref-type><contributors><authors><author>Munayah Fauziah</author></authors></contributors><titles><title>Bencana Alam Perlindungan Kesehatan Masyarakat</title></titles><dates><year>2006</year></dates><pub-location>Jakarta</pub-location><publisher>EGC</publisher><urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(2)<!–[if supportFields]><![endif]–>:
1. melakukan sesegera mungkin semua upaya kesehatan masyarakat yang mengurangi resiko penularan penyakit,
2. menyusun semua sistem pelaporan penyakit yang reliabel untuk mengidentifikasi KLB dan untuk memulai upaya pengendalian sesegera mungkin,
3. menyelidiki semua laporan KLB penyakit secara cepat. Klasifikasi awal mengenai situasi dapat mencegah pemakaian yang sebenarnya tidak diperlukan dari sumber daya yang jumlahnya terbatas dan mencegah terputusnya program yang biasa.
b. Sistem Surveilen penyakit
Selama ini pengertian konsep surveilen epidemiologi sering dipahami hanya sebagai kegiatan pengumpulan data dan penanggulangan KLB, pengertian seperti itu menyembunyikan makna analisis dan penyebaran informasi epidemiologi sebagi bagian yang sangat penting dari proses kegiatan surveilen epidemeiologi<!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Year>2003</Year><RecNum>5</RecNum><record><rec-number>5</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">5</key></foreign-keys><ref-type name="Government Document">46</ref-type><contributors><secondary-authors><author>Departemen Kesehatan</author></secondary-authors></contributors><titles><title>Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 1116/menkes/sk/viii/2003 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilen Epidemiologi Kesehatan Menteri kesehatan Republik Indonesia</title></titles><dates><year>2003</year></dates><pub-location>Jakarta</pub-location><publisher>Departemen Kesehatan</publisher><urls><related-urls><url>http://125.160.76.194/bidang/nakes/weblama/Docements/Perturan/Cetak%20Buku/Kepmenkes/KMK%20Surv.Epid.Kes%201116.2003.doc</url></related-urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–><!–[if supportFields]><![endif]–>. Surveilen merupakan analisis sistem pengumpulan data dan interpretasi data kesehatan, untuk memberikan umpan balik dan informasi dalam pencegahan penyakit dan mengukur pengendalian penyakit.
Dan Surveilen epidemilogi juga diartikan sebagai suatu proses pengamatan secara terus-menerus dan sistematis terhadap terjadinya penyebaran penyakit serta kondisi yang memperbesar resiko penularan dengan melakukan pengumpulan data, analisis, interpretasi, dan disseminasi atau penyebaran interpretasi data tersebut .
Sistem surveilen epidemiologi merupakan tatanan prosedur penyelenggaraan surveilen epidemiologi yang terintegrasi antara unit-unit penyelenggara surveilen dengan laboratorium, sumber-sumber data, pusat penelitian, pusat kajian dan penyelenggara program kesehatan, meliputi tata hubungan surveilen epidemiologi antar wilayah Kabupaten/Kota, Propinsi dan Pusat <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Year>2003</Year><RecNum>5</RecNum><record><rec-number>5</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">5</key></foreign-keys><ref-type name="Government Document">46</ref-type><contributors><secondary-authors><author>Departemen Kesehatan</author></secondary-authors></contributors><titles><title>Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 1116/menkes/sk/viii/2003 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilen Epidemiologi Kesehatan Menteri kesehatan Republik Indonesia</title></titles><dates><year>2003</year></dates><pub-location>Jakarta</pub-location><publisher>Departemen Kesehatan</publisher><urls><related-urls><url>http://125.160.76.194/bidang/nakes/weblama/Docements/Perturan/Cetak%20Buku/Kepmenkes/KMK%20Surv.Epid.Kes%201116.2003.doc</url></related-urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(4)<!–[if supportFields]><![endif]–>.
Surveilen Kesehatan masyarakat merupakan bagian yang penting pada situasi bencana dan dalam keadaan darurat, karena bagian vurnerability dari populasi yang terpengaruh, perubahan mendadak yang mengakibatkan ketidakstabilan situasi alam, dan kebutuhan pembagian data kuantitatif dengan cepat pada mitra untuk memungkinkan pengambilan tindakan cepat dan efektif. Selain itu, surveilen, merupakan strategi penting untuk pengendalian dan pencegahan KLB <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Year>2005</Year><RecNum>6</RecNum><record><rec-number>6</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">6</key></foreign-keys><ref-type name="Government Document">46</ref-type><contributors><secondary-authors><author>Office of the WHO Representative to India</author></secondary-authors></contributors><titles><title>Strengthening of post disaster disease surveillance in selected Tsunami affected districts in Tamil Nadu, Kerala, Andhra Pradesh and Pondicherry</title></titles><dates><year>2005</year></dates><pub-location>New Delhi</pub-location><publisher>WHO</publisher><urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(7)<!–[if supportFields]><![endif]–>.
Sedangkan pada kondisi bencana, surveilen penyakit dan faktor resiko merupakan suatu upaya untuk menyediakan informasi kebutuhan pelayanan di lokasi bencana dan pengungsian sebagai bahan tindakan kesehatan segera. Selain itu, surveilen dilakukan untuk menyediakan informasi kematian dan kesakitan penyakit potensial wabah yang terjadi di daerah bencana , mengidentifikasi sedini mungkin kemungkinan terjadinya peningkatan jumlah penyakit yang berpotensi KLB, mengidentifikasi kelompok resiko tinggi terhadap suatu penyakit tertentu, dan mengidentifikasi status gizi buruk dan sanitasi lingkungan <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Year>2007</Year><RecNum>4</RecNum><record><rec-number>4</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">4</key></foreign-keys><ref-type name="Government Document">46</ref-type><contributors><secondary-authors><author>departemen Kesehatan RI</author></secondary-authors></contributors><titles><title>Pedoman Teknis Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Panduan Bagi Petugas Kesehatan yang Bekerja dalam Penanganan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Di Indonesia</title></titles><dates><year>2007</year></dates><pub-location>Jakarta</pub-location><publisher>Depertemen kesehatan RI</publisher><urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(8)<!–[if supportFields]><![endif]–>.
Pelaksanaan surveilen bencana, harus menetapkan sistem surveilen secepat mungkin. Identifikasi sumber daya yang ada, dokter lokal, perawat, para pekerja kesehatan, rumah sakit yang masih berfungsi, persediaan medis yang masih tersedia, akses ke tempat korban seperti jalan, terusan, telekomunikasi, harus segera mungkin dilakukan <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Author>Waring</Author><RecNum>8</RecNum><record><rec-number>8</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">8</key></foreign-keys><ref-type name="Audiovisual Material">3</ref-type><contributors><authors><author>Stephen C. Waring</author></authors></contributors><titles><title>Communicable Diseases Following Natural Disasters: A Public Health Response Associate Director Center for Public Health Preparedness, </title></titles><dates></dates><pub-location>Houston</pub-location><publisher>university of texas school of public health</publisher><urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(3)<!–[if supportFields]><![endif]–>.
Selain identifikasi sumber daya yang ada, juga harus dilakukan penilaian kesehatan cepat yang diselenggarakan secepat mungkin, yang bertujuan segera menilai impact / kebutuhan kesehatan penduduk, mengarahkan perencanaan dan keputusan tepat waktu yang berdasarkan pada pre-impact informasi seperti demografi, geografi, lingkungan, fasilitas kesehatan dan jasa, rute transportasi dan lainnya <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Author>Waring</Author><RecNum>8</RecNum><record><rec-number>8</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">8</key></foreign-keys><ref-type name="Audiovisual Material">3</ref-type><contributors><authors><author>Stephen C. Waring</author></authors></contributors><titles><title>Communicable Diseases Following Natural Disasters: A Public Health Response Associate Director Center for Public Health Preparedness, </title></titles><dates></dates><pub-location>Houston</pub-location><publisher>university of texas school of public health</publisher><urls></urls></record></Cite><Cite><Author>Waring</Author><RecNum>8</RecNum><record><rec-number>8</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">8</key></foreign-keys><ref-type name="Audiovisual Material">3</ref-type><contributors><authors><author>Stephen C. Waring</author></authors></contributors><titles><title>Communicable Diseases Following Natural Disasters: A Public Health Response Associate Director Center for Public Health Preparedness, </title></titles><dates></dates><pub-location>Houston</pub-location><publisher>university of texas school of public health</publisher><urls></urls></record></Cite><Cite><Author>Waring</Author><RecNum>8</RecNum><record><rec-number>8</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">8</key></foreign-keys><ref-type name="Audiovisual Material">3</ref-type><contributors><authors><author>Stephen C. Waring</author></authors></contributors><titles><title>Communicable Diseases Following Natural Disasters: A Public Health Response Associate Director Center for Public Health Preparedness, </title></titles><dates></dates><pub-location>Houston</pub-location><publisher>university of texas school of public health</publisher><urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(3)<!–[if supportFields]><![endif]–>.
Sistem survelein pada waktu bencana dapat dibagi dalam dua fase yaitu fase saat bancana (darurat) dan fase setelah fase darurat, penjelasan dari masing-masing fase dapat dilihat pada tabel di bawah ini <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Author>Kusnanto</Author><RecNum>11</RecNum><record><rec-number>11</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">11</key></foreign-keys><ref-type name="Unpublished Work">34</ref-type><contributors><authors><author>Hari Kusnanto</author></authors></contributors><titles><title>Epidemiologi Bencana</title></titles><dates></dates><pub-location>yogyakarta</pub-location><publisher>Prodi S2 IKM UGM</publisher><urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(9)<!–[if supportFields]><![endif]–> :
Tabel 1. Surveilen dalam Kedaruratan Bencana
|
|
Fase Darurat
|
Fase Post Darurat
|
|
Waktu
Metode pengumpulan data
Prioritas utama
Type pengumpulan data
Ukuran populasi
Defenisi kasus
Investigasi wabah
Surveilen dan data yang di gunakan |
1-4 bulan
Screening, Penilaian Awal, Pengamatan dengan walking around,
Mengurangi angka kematian
Dilakukan dengan aktif, Data kualitatif
Metode survei sample
Tanda dan gejala klinis sederhana, Bebrapa kondisi umum
Informal Pengendalian campak dan kolera,
Simpel, data yang di butuhkan untuk tindakan immediated |
Dari permulaan bulan dan seterusnya
Survei populasi-reguler dasar, Sistem informasi kesehatan yang berkelanjutan
Mendeteksi KLB penyakit rancangan dan pengawasan program,
Aktip dan pasif lebih kwantitatif
Sensus dan survei bersifat tambahan
Bisa menambahkan konfirmasi laboratorium, lebih dalam jumlah,
Formal Laporan Daftar Penyakit,
Menyeluruh Data untuk menilai mutu, untuk kebutuhan kesehatan dalam waktu yang lama, lebih sedikit isu mendesak. s ( titik berat pad pendekatan kesehatan masyarakat)
|
Sumber : Epidemiologi Bencana, Hari Kusnanto – Prodi S2 IKM UGM
c. Proses Surveilen di Daerah Bencana
Partisipan dari program surveilen penyakit menerima laporan dari organisasi pemerintah dan non pemerintah. Informasi dari organisasi pemerintah berasal dari penyedia layanan kesehatan lokal yang melayani pasiennya, dan berasal dari petugas dinas kesehatan lokal untuk level pertama atau menengah (seperti kota, kabupaten, dan provinsi) dan dari sini dilanjutkan ke tim epidemiologi nasional <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Author>Western</Author><Year>2003</Year><RecNum>7</RecNum><record><rec-number>7</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">7</key></foreign-keys><ref-type name="Electronic Book">44</ref-type><contributors><authors><author>Karl A. Western</author></authors></contributors><titles><title>Epidemiologic Surveillance after Natural Disaster (PAHO-OPS, 1982, 105 p.)</title></titles><dates><year>2003</year></dates><pub-location>Washington</pub-location><publisher>Pan American Sanitary Bureau, Regional Office of the WHO</publisher><urls><related-urls><url>ww.disaster-info.net/infovolcanes/pdf/eng/doc13950/doc13950-1a.pdf+Epidemiologic+Surveillance+after+Natural+Disaster&cd=20&hl=en&ct=clnk</url></related-urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(10)<!–[if supportFields]><![endif]–>. Informasi juga dapat diterima dari non pemerintah seperti LSM, relawan penganggulangan bencana dan lainnya.
Adapun langkah-langkah dalam pelaksanaan surveilen di daerah bencana adalah :
1. Pengumpulan Data
Pada fase tanggap darurat, kita dituntut untuk melakukan penyelamatan sekaligus mengumpulkan data untuk penilaian cepat (rapid assessment). Beberapa metode penilaian cepat dapat dijadikan alternatif. Metode yang sering digunakan meliputi pengumpulan data dasar, pengamatan dari udara (helikopter, satelit), pengamatan kualitatif “walk-through”, survei singkat dan kasar (quick and dirty), surveilans rutin sampai ke survei khusus <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Author>Fuad</Author><Year>2005 
</Year><RecNum>9</RecNum><record><rec-number>9</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">9</key></foreign-keys><ref-type name="Electronic Article">43</ref-type><contributors><authors><author>Anis Fuad </author></authors></contributors><titles><title>Peranan Sistem Informasi Geografis Kesehatan dalam Bencana</title></titles><dates><year>2005 
</year></dates><urls><related-urls><url>(http://anisfuad.wordpress.com)</url></related-urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(11)<!–[if supportFields]><![endif]–>.
Pendekatan walk-through menghasilkan data non kuantitatif, cepat dan tidak memerlukan pelatihan khusus bagi surveyor, tetapi risiko bias lebih besar. Metode survei singkat dan kasar dapat dilakukan oleh tenaga dengan pelatihan minimal, cepat dan berisiko misinterpretasi <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Author>Fuad</Author><Year>2005 
</Year><RecNum>9</RecNum><record><rec-number>9</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">9</key></foreign-keys><ref-type name="Electronic Article">43</ref-type><contributors><authors><author>Anis Fuad </author></authors></contributors><titles><title>Peranan Sistem Informasi Geografis Kesehatan dalam Bencana</title></titles><dates><year>2005 
</year></dates><urls><related-urls><url>(http://anisfuad.wordpress.com)</url></related-urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(11)<!–[if supportFields]><![endif]–>.
· Data yang dikumpulkan pada waktu bencana
Pada hari pertama gempa, kegiatan pengumpulan data akan dilakukan secara serempak, hal ini dilakukan untuk menilai dan memenuhi kebutuhan yang mendesak. Dan apabila kondisi ini sudah terpenuhi, data yang dikumpulkan dapat berdasarkan topik tertentu untuk menentukan prioritas lebih lanjut.
Adapun data yang dikumpulkan dalam surveilen bencana adalah data kesakitan dan kematian <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Year>2007</Year><RecNum>4</RecNum><record><rec-number>4</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">4</key></foreign-keys><ref-type name="Government Document">46</ref-type><contributors><secondary-authors><author>departemen Kesehatan RI</author></secondary-authors></contributors><titles><title>Pedoman Teknis Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Panduan Bagi Petugas Kesehatan yang Bekerja dalam Penanganan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Di Indonesia</title></titles><dates><year>2007</year></dates><pub-location>Jakarta</pub-location><publisher>Depertemen kesehatan RI</publisher><urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(8)<!–[if supportFields]><![endif]–>. Selain data kesakitan dan kematian, data yang juga harus dikumpulkan adalah data pendukung. Data pendukung yang harus dikumpulkan dalam surveilen adalah <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Author>Fauziah</Author><Year>2006</Year><RecNum>2</RecNum><record><rec-number>2</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">2</key></foreign-keys><ref-type name="Book">6</ref-type><contributors><authors><author>Munayah Fauziah</author></authors></contributors><titles><title>Bencana Alam Perlindungan Kesehatan Masyarakat</title></titles><dates><year>2006</year></dates><pub-location>Jakarta</pub-location><publisher>EGC</publisher><urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(2)<!–[if supportFields]><![endif]–> :
a. Data mengenai area geografis terkena bencana,
b. Resiko penyakit utama di daerah bencana (misalnya, kolera dan malaria adalah penyakit endemik di daerah bencana), sumber daya yang tersedia,
c. Populasi yang beresiko dan yang terkena dampaknya.
Setiap bencana memerlukan tindakan prioritas dan kebutuhan informasi yang relatif berbeda. Prioritas tindakan dan kebutuhan informasi pada waktu bencana gempa bumi akan berbeda dengan bencana banjir. Namun secara umum, informasi yang dibutuhkan pada waktu penanganan bencana adalah <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Author>Fuad</Author><Year>2005 
</Year><RecNum>9</RecNum><record><rec-number>9</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">9</key></foreign-keys><ref-type name="Electronic Article">43</ref-type><contributors><authors><author>Anis Fuad </author></authors></contributors><titles><title>Peranan Sistem Informasi Geografis Kesehatan dalam Bencana</title></titles><dates><year>2005 
</year></dates><urls><related-urls><url>(http://anisfuad.wordpress.com)</url></related-urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(11)<!–[if supportFields]><![endif]–>:
a. wilayah serta lokasi geografis bencana dan perkiraan populasi,
b. status jalur transportasi dan sisem komunikasi,
c. ketersediaan air bersih, bahan makanan, fasilitas sanitasi dan tempat hunian,
d. jumlah korban,
e. kerusakan, kondisi pelayanan, ketersediaan obat-obatan, peralatan medis serta tenaga di fasilitas kesehatan,
f. lokasi dan jumlah penduduk yang menjadi pengungsi dan
g. estimasi jumlah yang meninggal dan hilang.
Pada tahap awal, tindakan kemanusiaan dan pengumpulan informasi dilakukan secara simultan. Pengumpulan data harus dilakukan secara cepat untuk menentukan tindakan prioritas yang harus dilakukan oleh manajemen bencana.
· Kriteria Data yang Dikumpulkan
Data yang dikumpulkan dalam surveilen bencana sebaiknya memenuhi kriteria-kriteria berikut ini <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Author>Kusnanto</Author><RecNum>11</RecNum><record><rec-number>11</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">11</key></foreign-keys><ref-type name="Unpublished Work">34</ref-type><contributors><authors><author>Hari Kusnanto</author></authors></contributors><titles><title>Epidemiologi Bencana</title></titles><dates></dates><pub-location>yogyakarta</pub-location><publisher>Prodi S2 IKM UGM</publisher><urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(9)<!–[if supportFields]><![endif]–>:
a. Simple : data mudah dikumpulkan dan di simpan, logis, suatu yang transparan,
b. Representative : indikator yang digunakan sesuai dengan masalah yang ditemukan, seperti berat per tinggi bukan berat per umur untuk menilai kekurangan gizi akut,
c. Relevant : batas informasi kesehatan masyarakat relevan dapat dan akan dilaksanakan, seperti prevalensi tukak lambung bukanlah indikator prioritas status kesehatan sepanjang fase darurat akut,
d. Timely : pada pendeteksian KLB
(tergantung frekuensi pengumpulan data)
e. Reliable : informasinya didapatkan dengan cara yang terstandar
(definisi kasus, alat, prosedur),
f. Standardized : indicator harus mempunyai arti sama untuk semua pengumpul data pada level tertentu, seperti definisi kasus untuk malaria adalah sama untuk semua CHWs,
g. Continuous : melaksanakan pengukuran yang berulang/continu pada indikator yang sama untuk mendeteksi suatu kecenderungan,
h. Acceptable : dapat diterima bagi populasi yang terpengaruh dan yang berwenang,
i. Flexible : dapat menyesuaikan ke permasalahan kesehatan baru atau perubahan program yang mendadak.
· Sumber Data
Data dikumpulkan melalui laporan langsung dari masyarakat, petugas pos kesehatan, petugas rumah sakit, koordinator penanggulangan bencana setempat. <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Year>2007</Year><RecNum>4</RecNum><record><rec-number>4</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">4</key></foreign-keys><ref-type name="Government Document">46</ref-type><contributors><secondary-authors><author>departemen Kesehatan RI</author></secondary-authors></contributors><titles><title>Pedoman Teknis Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Panduan Bagi Petugas Kesehatan yang Bekerja dalam Penanganan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Di Indonesia</title></titles><dates><year>2007</year></dates><pub-location>Jakarta</pub-location><publisher>Depertemen kesehatan RI</publisher><urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(8)<!–[if supportFields]><![endif]–>. Selain itu, data juga dapat di peroleh dari tenaga kemanusiaan, organisasi non pemerintah, dan berita dari media massa juga penting untuk diperhatikan <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Author>Fauziah</Author><Year>2006</Year><RecNum>2</RecNum><record><rec-number>2</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">2</key></foreign-keys><ref-type name="Book">6</ref-type><contributors><authors><author>Munayah Fauziah</author></authors></contributors><titles><title>Bencana Alam Perlindungan Kesehatan Masyarakat</title></titles><dates><year>2006</year></dates><pub-location>Jakarta</pub-location><publisher>EGC</publisher><urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(2)<!–[if supportFields]><![endif]–>.
2. Pengolahan Dan Penyajian Data
Data surveilen yang terkumpul diolah untuk menyajikan informasi epidemiologi sesuai kebutuhan. Penyajian data meliputi deskripsi maupun grafik data kesakitan penyakit menurut umur dan data kematian menurut penyebab akibat bencana <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Year>2007</Year><RecNum>4</RecNum><record><rec-number>4</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">4</key></foreign-keys><ref-type name="Government Document">46</ref-type><contributors><secondary-authors><author>departemen Kesehatan RI</author></secondary-authors></contributors><titles><title>Pedoman Teknis Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Panduan Bagi Petugas Kesehatan yang Bekerja dalam Penanganan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Di Indonesia</title></titles><dates><year>2007</year></dates><pub-location>Jakarta</pub-location><publisher>Depertemen kesehatan RI</publisher><urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(8)<!–[if supportFields]><![endif]–>.
Surveilen bencana tidak ditujukan untuk memberikan informasi yang teliti mengenai insidensi suatu penyakit. Yang terpenting disini adanya peringatan dini yang dapat mengidentifikasi kapan suatu penyakit atau kumpulan gejala tertentu dapat terjadi di daerah bencana <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Author>Fauziah</Author><Year>2006</Year><RecNum>2</RecNum><record><rec-number>2</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">2</key></foreign-keys><ref-type name="Book">6</ref-type><contributors><authors><author>Munayah Fauziah</author></authors></contributors><titles><title>Bencana Alam Perlindungan Kesehatan Masyarakat</title></titles><dates><year>2006</year></dates><pub-location>Jakarta</pub-location><publisher>EGC</publisher><urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(2)<!–[if supportFields]><![endif]–>.
Keefektifan suatu sistem surveilen dapat dilihat dari peningkatan jumlah pelaporan kasus penyakit dan sindrom yang umum maupun tidak umum. Hal ini karena adanya peningkatan jumlah unit yang melapor, peningkatan kesadaran publik, dan perhatian serta liputan media massa yang mencerminkan peningkatan kasus dari sebelum kejadian bencana <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Author>Fauziah</Author><Year>2006</Year><RecNum>2</RecNum><record><rec-number>2</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">2</key></foreign-keys><ref-type name="Book">6</ref-type><contributors><authors><author>Munayah Fauziah</author></authors></contributors><titles><title>Bencana Alam Perlindungan Kesehatan Masyarakat</title></titles><dates><year>2006</year></dates><pub-location>Jakarta</pub-location><publisher>EGC</publisher><urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(2)<!–[if supportFields]><![endif]–>.
3. Analisis Data
kajian epidemilogi merupakan kegiatan analisis dan interpretasi data epidemiologi yang dilaksanakan oleh tim epidemiologi.
Langkah-langkah pelaksanaan analisis <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Year>2007</Year><RecNum>4</RecNum><record><rec-number>4</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">4</key></foreign-keys><ref-type name="Government Document">46</ref-type><contributors><secondary-authors><author>departemen Kesehatan RI</author></secondary-authors></contributors><titles><title>Pedoman Teknis Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Panduan Bagi Petugas Kesehatan yang Bekerja dalam Penanganan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Di Indonesia</title></titles><dates><year>2007</year></dates><pub-location>Jakarta</pub-location><publisher>Depertemen kesehatan RI</publisher><urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(8)<!–[if supportFields]><![endif]–>:
· menentukan prioritas masalah yang akan dikaji,
· merumuskan pemecahan masalah dengan memperhatikan efektifitras dan efesiensi kegiatan,
· menetapkan rekomendasi sebagai tindakan korektif.
4. Penyebarluasan Informasi
Untuk mencegah timbulnya kejadian luar biasa pada situasi bencana, maka deteksi kasus dan respons pengendalian harus dilakukan secara simultan. Setiap informasi yang mengarah pada munculnya sebuah kasus penyakit prioritas di wilayah bencana (meskipun dalam bentuk rumor), harus ditindak lanjuti dengan proses verifikasi segera dengan melakukan penyelidikan epidemiologis. Tim epidemiolog lapangan harus sesegera mungkin diterjunkan ke lapangan untuk mengambil sampel penderita, melakukan verifikasi laboratorium, yang apabila memungkinkan dengan menggunakan tes cepat (rapid test), agar verifikasi diagnosis dapat dilakukan pada saat itu juga.
Hasil penyelidikan epidemiologis, kemudian didiseminasi pada rapat koordinasi sektor kesehatan, agar semua relawan kesehatan yang berada di wilayah bencana mempunyai informasi tentang risiko penyebaran penyakit di wilayah kerja mereka <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Author>Fuad</Author><Year>2005 
</Year><RecNum>9</RecNum><record><rec-number>9</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">9</key></foreign-keys><ref-type name="Electronic Article">43</ref-type><contributors><authors><author>Anis Fuad </author></authors></contributors><titles><title>Peranan Sistem Informasi Geografis Kesehatan dalam Bencana</title></titles><dates><year>2005 
</year></dates><urls><related-urls><url>(http://anisfuad.wordpress.com)</url></related-urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(11)<!–[if supportFields]><![endif]–>.
Diseminasi ini juga diperlukan agar semua stakeholder yang terkait dengan kegiatan pengendalian penyakit dapat berkoordinasi untuk menyatukan sumber daya, dan merencanakan program intervensi yang sistematik. Untuk keperluan itulah mengapa surveilans penyakit pada situasi bencana juga menekankan pada aspek kecepatan mendapatkan data, mengolah, menganalisa dan mendesimenasikan informasi tersebut pada semua pihak terkait <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Author>Fuad</Author><Year>2005 
</Year><RecNum>9</RecNum><record><rec-number>9</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">9</key></foreign-keys><ref-type name="Electronic Article">43</ref-type><contributors><authors><author>Anis Fuad </author></authors></contributors><titles><title>Peranan Sistem Informasi Geografis Kesehatan dalam Bencana</title></titles><dates><year>2005 
</year></dates><urls><related-urls><url>(http://anisfuad.wordpress.com)</url></related-urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(11)<!–[if supportFields]><![endif]–>.
d. Proses Kegiatan Surveilen pada tiap-tiap Pemberi Pelayanan dan Tingkat Daerah
Kegiatan surveilen sebaiknya dilakukan pada tiap-tiap pos kesehatan dan terpenting sekali pada tiap tingkat daerah, sehingga penetapan kebutuhan dan laporan data tidak ada yang terlupakan atau data tidak ada yang tidak terlaporkan, sehingga penetapan prioritas kegiatan dan pengambilan keputusan tindakan korektif yang akan diambil benar-benar sesuai dengan kondisi bencana.
Adapun kegiatan surveilen dapat dilakukan pada pos-pos dan tingkat daerah yang akan dijabarkan dibawah ini <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Year>2007</Year><RecNum>4</RecNum><record><rec-number>4</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">4</key></foreign-keys><ref-type name="Government Document">46</ref-type><contributors><secondary-authors><author>departemen Kesehatan RI</author></secondary-authors></contributors><titles><title>Pedoman Teknis Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Panduan Bagi Petugas Kesehatan yang Bekerja dalam Penanganan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Di Indonesia</title></titles><dates><year>2007</year></dates><pub-location>Jakarta</pub-location><publisher>Depertemen kesehatan RI</publisher><urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(8)<!–[if supportFields]><![endif]–>:
1. Pos Kesehatan
Kegiatan surveilen yang dilakukan di pos kesehatan, antara lain :
a. pengumpulan data kesakitan penyakit yang diamati dan kematian melalui pencatatan harian kunjungan rawat jalan
b. validasi data agar data menjadi sahih dan akurat, pengolahan data kesakitan menurut jenis penyakit dan golongan umur per minggu
c. pembuatan dan pengiriman laporan. Dalam kegiatan pengumpulan data kesakitan penyakit yang ditujukan pada penyakit-penyakit yang mempunyai potensi menimbulkan terjadinya wabah, dan masalah kesehatan yang bisa memberikan dampak jangka panjang terhadap kesehatan dan/atau memerlukan fasilitas tinggi.
2. Puskesmas
Kegiatan surveilen yang dilakukan di pos kesehatan, anatar lain :
a. pengumpulan data kesakitan penyakit yang diamati dan kematian melalui pencatatan harian kunjungan rawat jalan dan rawat inap pos kesehatan yang ada di wilayah kerja
b. validasi data agar data menjadi sahih dan akurat,
c. pengolahan data kesakitan menurut jenis penyakit, golongan umur dan tempat tinggal per minggu,
d. pembuatan dan pengiriman laporan.
3. Rumah Sakit
Kegiatan surveilen yang dilakukan di pos kesehatan, antara lain :
a. pengumpulan data kesakitan penyakit yang diamati dan kematian melalui pencatatan rujukan kasus harian kunjunagn rawat jalan dan rawat inap dari para korban bencana,
b. validasi data agar data menjadi sahih dan akurat,
c. pengolahan data kesakitan menurut jenis penyakit, golongan umur dan tempat tinggal per minggu,
d. pembuatan dan pengiriman laporan.
4. kabupaten/Kota
Kegiatan surveilen yang dilakukan di pos kesehatan, antara lain :
a. pengumpulan data berupa data jenis bencana, keadaan bencana, kerusakan sarana kesehatan, kesakitan penyakit yang diamati dan kematian para korban bencana yang berasal dari puskesmas, rumah sakit, atau Poskes khusus.
b. Surveilen aktif untuk penyakit tertentu,
c. validasi data agar data menjadi sahih dan akurat,
d. pengolahan data kesakitan menurut jenis penyakit, golongan umur dan tempat tinggal per minggu,
e. pertemuan tim epidemiologi kabupaten/kota untuk melakukan analisis data dan merumuskan rekomendasi rencana tindak lanjut penyebarluasan informasi.
5. Provinsi
Kegiatan surveilen yang dilakukan di pos kesehatan, antara lain :
a. pengumpulan data kesakitan penyakit yang diamati dan kematian para korban bencana yang berasal dari dinas kabupaten/kota,
b. Surveilen aktif untuk penyakit tertentu,
c. validasi data agar data menjadi sahih dan akurat,
d. pengolahan data kesakitan menurut jenis penyakit, golongan umur dan tempat tinggal per minggu,
e. pertemuan tim epidemiologi provinsi untuk melakukan analisis data dan merumuskan rekomendasi rencana tindak lanjut, penyebarluasan informasi, pembuatan dan pengiriman laporan.
Adanya rekomendasi dari hasil kajian analisis data oleh tim epidemilogi diharapkan dapat menetapkan rencana kegiatan korektif yang efektif dan efisien sesuai kebutuhan. Rencana kegiatan korektif ini diharapkan dapat menurunkan dan menekan peningkatan penyakit khususnya penyakit menular <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Year>2007</Year><RecNum>4</RecNum><record><rec-number>4</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">4</key></foreign-keys><ref-type name="Government Document">46</ref-type><contributors><secondary-authors><author>departemen Kesehatan RI</author></secondary-authors></contributors><titles><title>Pedoman Teknis Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Panduan Bagi Petugas Kesehatan yang Bekerja dalam Penanganan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Di Indonesia</title></titles><dates><year>2007</year></dates><pub-location>Jakarta</pub-location><publisher>Depertemen kesehatan RI</publisher><urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(8)<!–[if supportFields]><![endif]–>.
e. Bentuk-bentuk Pelaporan pada Saat Bencana
Sistem pelaporan pada saat bencana sangat menentukan keberhasilan pengumpulan data, dibawah ini ada beberapa contoh form pelaporan pada kondisi bencana.
1. Bentuk pelaporan penyakit menular yang digunakan Pan American Health Organization <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Author>Western</Author><Year>2003</Year><RecNum>7</RecNum><record><rec-number>7</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">7</key></foreign-keys><ref-type name="Electronic Book">44</ref-type><contributors><authors><author>Karl A. Western</author></authors></contributors><titles><title>Epidemiologic Surveillance after Natural Disaster (PAHO-OPS, 1982, 105 p.)</title></titles><dates><year>2003</year></dates><pub-location>Washington</pub-location><publisher>Pan American Sanitary Bureau, Regional Office of the WHO</publisher><urls><related-urls><url>ww.disaster-info.net/infovolcanes/pdf/eng/doc13950/doc13950-1a.pdf+Epidemiologic+Surveillance+after+Natural+Disaster&cd=20&hl=en&ct=clnk</url></related-urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(10)<!–[if supportFields]><![endif]–> :
|
Figure 1: Form for Weekly Report of Communicable Diseases Used at the Pan American Health Organization
Country___________________ Week ended___________________ 19___________________ Number___________________
Disease and Category International Classification of Diseases (1975 Revision) Cumulative for Total Week for Total Year
Diseases Subject to the International Health Regulations + Cholera (001) Plague (020) Smallpox (050) Sylvatic yellow fever (060.0) Urban yellow fever (060.1) Unspecified yellow fever (060.9)
Diseases under International Surveillance Influenza (487) Louse-borne (epidemic) typhus (080) Louse-borne relapsing fever (087.0) Malaria (084)
Diseases of the Expanded Program on Immunization Poliomyelitis, acute (045) Measles (055) Diphtheria (032) Tetanus (excludes neonatorum) (037) Tetanus neonatorum (771.3) Whooping cough (033)
Other Diseases of Regional Interest Typhoid fever (002.0) Dengue (061) Meningococcal infection (036) Arenaviral hemorrhagic fever (Argentinian or Bolivian hemorrhagic fever) (078.7) Mosquito-borne viral encephalitis (062) Western equine encephalitis (062.1) Eastern equine encephalitis (062.2) St. Louis encephalitis (062.3) Venezuelan equine fever (066.2) Other encephalitides (specify)
Other Diseases of Sub-regional or National Interest
+ Complete information on reverse. … Data not available. – Quantity zero. * Disease not notifiable.
Date: ___________________ Signature: ___________________ Title: ___________________ |
Sumber : . Epidemiologic Surveillance after Natural Disaster (PAHO)
4. Contoh format pelaporan untuk pengamatan pola penyakit dan kematian di wilayah bencana <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Year>2006</Year><RecNum>12</RecNum><record><rec-number>12</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">12</key></foreign-keys><ref-type name="Electronic Book">44</ref-type><contributors></contributors><titles><title>Surveilans dan Pengendalian Penyakit Menular Paska Bencana</title></titles><dates><year>2006</year></dates><urls><related-urls><url>http://www.desentralisasi-kesehatan.net/id/moduldm/id/tt_4/bacaan/Surveilans_dan_Pengendalian_Penyakit_Menular.pdf</url></related-urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(12)<!–[if supportFields]><![endif]–>:

Sumber : Surveilans dan Pengendalian Penyakit Menular Paska Bencana.
5. Pelaporan kejadian bencana melalui sms,
|
KETERANGAN PELAPORAN KEJADIAN BENCANA MELALUI SHORT MESSAGE SERVICE (SMS) Tanggal/Bulan/Tahun (TBT) :……………………. Jenis Bencana (JB) :……………………. Lokasi Bencana (LOK) :……………………. Waktu Kejadian Bencana (PKL) :……………………. Jumlah Penduduk Terancam (PAR) :…………… Orang Jumlah Korban · a. Meninggal (MGL) :………………..Orang · b. Hilang (HLG) :………………..Orang · c. Luka Berat (LB) :………………..Orang · d. Luka Ringan ( LR ) :……………….Orang · e. Dirawat · Puskesmas (RWP) :………………..Orang · Rumah Sakit (RWS) :………………..Orang CARA PENULISAN SMS: (TBT)……., (JB)…….., (LOK)……….., (PKL)………, (PAR)……….., (MGL)…….., (HLG)………, (LB)………, (LR)………., (RWP)………, (RWS)………. Catatan : Titik titik diisi dengan angka atau huruf sesuai dengan data-data yang ada Contoh : (TBT)160507, (JB)Banjir, (LOK)ds antasari, (PKL)10.30wib, (PAR)200, (MGL)25, (HLG)10, (LB)25, (LR)75, (RWP)10, (RWS)
|
Sumber : http://www.ppk-depkes.org
6. Form Pelaporan Register Harian Penyakit pada Korban Bencana,
Form BA-3Pelaporan Register Harian Penyakit pada Korban Bencana
Poskes : ……………..
Kecamatan : ……………..
Kab/Kota : ……………..
Tanggal : …………….. Bulan : ………………….
No. |
Nama Penderita |
Umur |
L/P |
Alamat |
Ket |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Sumber : Fauziah M. Bencana Alam Perlindungan Kesehatan Masyarakat
7. Form Rekapitulasi Penyakit Harian pada Bencana,
Form BA-4 Rekapitulasi Penyakit Harian pada Bencana
Nama Poskes : ……………. Kec. : …………… Kab/Kota : …………….
Tgl mulai Kejadian : ……………. Bulan : ……………
No. |
Jenis Penyakit |
|||||||||||||||
Diare |
ISPA |
Kulit |
Dst….. |
|||||||||||||
|
|
< 1 th |
1-5 th |
>5 th |
total |
< 1 th |
1-5 th |
>5 th |
total |
< 1 th |
1-5 th |
>5 th |
total |
< 1 th |
1-5 th |
>5 th |
total |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Sumber : Fauziah M. Bencana Alam Perlindungan Kesehatan Masyarakat
8. Form Laporan Mingguan Penyakit Korban Bencana,
FormBA-5 Laporan Mingguan Penyakit Korban Bencana
Tanggal Kejadian Bencana : …………….. Bulan : …………….
Nama Poskes : …………….. Desa : …………….
Kecamatan : …………….. Kab/Kota : …………….
Minggu kejadian ke : ……………..
No. |
Nama Penyakit |
Kelompok Umur |
|||
< 1 th |
1-5 th |
> 5 th |
Total |
||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Sumber : Fauziah M. Bencana Alam Perlindungan Kesehatan Masyarakat
f. Pengendalian Pengendalian
Bencana mengakibatkan banyaknya kerugian pada manusia.. Selain mungkin kehilangan keluarga, tempat tinggal, harta, ‘penderitaan’ lanjutan siap menunggu. Akibat rusaknya lingkungan, berbagai penyakit dapat menyerang korban yang selamat karena daya tahan menurun, air dan lingkungan tercemar, konsumsi makan yang tidak terjamin.
Peningkatan penyakit menular sangat jarang terjadi seketika bencana melanda. peningakatan ini terjadi setelah beberapa hari setelah bencana melanda. Hal ini, didukung oleh berbagai faktor resiko yang telah diuraikan pada bagian faktor resiko diatas. Walaupun demikian, tim surveilen harus segera melakukan pengamatan dan pengumpulan data untuk mengurangi resiko kesakitan dan untuk pengendalian penyakit agar tidak terjadi KLB, mengurangi kematian, dan kerugian lainnya.
Beberapa penyakit menular yang berpotensi KLB adalah :
f. Diarrhea akut ( mencakup disentri dan kolera)
g. Sindrom Penyakit kuning akut
h. Infeksi/Peradangan berhubung pernapasan akut
i. Malaria
j. Penyakit tipus
k. Demam berdarah
l. Penyakit otak akut
m. Campak
n. Radang selaput [otak,sumsum belakang] pyogenic akut
Beberapa definisi kasus penyakit prioritas yang digunakan WHO dalam
kegiatan surveilans pasca bencana yang di gunakan pada format pelaporan rawat jalan, Surveilans pasca gempa Jogjakarta 2006, <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Year>2006</Year><RecNum>12</RecNum><record><rec-number>12</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">12</key></foreign-keys><ref-type name="Electronic Book">44</ref-type><contributors></contributors><titles><title>Surveilans dan Pengendalian Penyakit Menular Paska Bencana</title></titles><dates><year>2006</year></dates><urls><related-urls><url>http://www.desentralisasi-kesehatan.net/id/moduldm/id/tt_4/bacaan/Surveilans_dan_Pengendalian_Penyakit_Menular.pdf</url></related-urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(12)<!–[if supportFields]><![endif]–> <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Year>2004</Year><RecNum>13</RecNum><record><rec-number>13</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">13</key></foreign-keys><ref-type name="Electronic Article">43</ref-type><contributors></contributors><titles><title>Pencegahan Wabah Penyakit Pasca-bencana
</title></titles><dates><year>2004</year></dates><urls><related-urls><url>http://cybermed.cbn.net.id/cbprtl/cybermed/detail.aspx?x=Health+News&y=cybermed|0|0|5|2709</url></related-urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(13)<!–[if supportFields]><![endif]–> :
a. Meningitis
Suspek kasus: Demam tinggi mendadak (>38.5) dengan kaku kuduk. Pada pasien bayi ditandai dengan mencembungnya ubun-ubun.
Probable meningitis bakterial: suspek kasus seperti definisi diatas dengan cairan cerebrospinal yang keruh.
Probable meningococcal meningitis : suspek kasus seperti definisi diatas dengan pengecatan gram menunjukkan bakteri diplococcus gram negatif atau saat terjadi epidemi atau adanya petekie atau rash purpura.
Confirmed case: kasus suspek atau probable seperti definisi dicatat dengan cairan serebrospinal positif terhadap antigen N. meningitis atau kultur positif cairan serebrospinal atau darah terhadap N. meningitidis.
b. Sindroma jaundice akut:
Kumpulan gejala yang ditandai dengan kejadian jaundice dan demam.
c. Infeksi saluran paru akut (ISPA):
Istilah ini diadaptasi dari istilah dalam bahasa Inggris acute respiratory infections (ARI). Istilah ISPA merupakan penyakit infeksi akut yang menyerang sistem pernafasan.
Pencegahan
· Pengadaan rumah dengan ventilasi yang memadai, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Peningkatan gizi balita.
· Menurut dr Bambang Suprianto dari Bagian Anak RSCM, untuk ISPA yang ringan seperti batuk diberikan obat batuk biasa, sedang penderita ISPA yang berat dan pneumonia harus diberi antibiotik.
d. Diare cair akut:
Tinja cair atau lembek tiga kali atau lebih dalam 24 jam terakhir, dengan atau tanpa dehidrasi.
Gejala
· Frekuensi buang air besar melebihi normal
· Kotoran encer/cair
· Sakit/kejang perut
· Demam dan muntah, pada beberapa kasus
Penyebab
- Anxietas/rasa cemas
- Keracunan makanan
- Infeksi virus dari usus
- Alergi terhadap makanan tertentu
Yang dapat dilakukan
· Minum banyak cairan
· Hindari makanan padat atau yang tidak berperasa selama 1-2 hari
· Minum cairan rehidrasi oral-oralit
- Periksa dokter bila bertambah berat
- Diare pada bayi sebaiknya segera dibawa ke dokter
Pencegahan Cuci tangan dengan baik setiap habis buang air besar dan sebelum menyiapkan makanan. Tutup makanan untuk mencegah kontaminasi dari lalat, kecoa dan tikus.
e. Suspek Flu burung:
Demam >38oC dan salah satu atau lebih gejala berikut: Batuk, sakit tenggorokan, sesak nafas, dan
- Riwayat paparan terhadap hal berikut ini dalam 7 hari sebelum timbul gejala:
- Kontak dengan burung yang sakit, atau burung yang mati karena suatu penyakit,
- atau kotorannya
- Kontak dengan kasus flu burung pada manusia baik yang suspek maupun Terkonfirmasi, atau
- Setiap orang yang memerlukan rawat inap untuk penyakit serupa influenza dan tinggal di atau berasal dari daerah dimana terdapat outbreak flu burung, atau
- Setiap orang yang meninggal karena penyakit pernapasan yang tidak diketahui sebabnya.
f. Diare berdarah:
Diare akut dengan darah terlihat pada tinja.
g. Kecuriga terhadap kasus cholera:
Penderita berumur lebih dari 5 tahun dengan dehidrasi berat atau meninggal akibat diare cair akut dengan atau tanpa muntah. Pada penderita berumur lebih dari 2 tahun dengan diare cair akut di daerah dimana sedang terjadi KLB cholera.
Cara penularan
Kuman ini ditularkan lewat makanan dan minuman yang tercemar bakteri vibrio cholera.
Gejala
- Penderita mengalami mencret ringan dan diikuti dengan mencret hebat dengan tidak dapat menahan buang air besar
- Tinja encer, berair, dan berwarna coklat keabu-abuan
- Penderita merasa seperti tertekan dan nyeri di bagian perut bawah, diikuti
- dengan kekejangan otot yang serupa
- Perasaan mual dan muntah-muntah biasanya datang setelah mencret berkembang.
- Kehilangan cairan dengan tiba-tiba membuat penderita merasa haus.
- Lidah nampak putih dan kering. Kulit mengerut, bola mata cekung, pipi masuk ke dalam, dan pernapasan mendengkur dan sulit
- Tekanan darah turun dan suhu tubuh bisa di bawah normal dan denyut nadi cepat.
Pengobatan
- Pengobatan utama pada penderita kolera adalah penggantian cairan tubuh yang keluar.
- Penggantian cairan dapat dilakukan dengan minum oralit (cairan garam-gula).
- Bila kehilangan cairan sudah cukup banyak dan penderita sudah tidak dapat menerima cairan dari mulut maka cairan pengganti diberikan melalui infus (cairan ringer laktat).
Pencegahan
· Penyakit ini dapat dicegah dengan menjaga kebersihan air dengan baik
· Buang air besar pada tempat khusus yaitu jamban atau WC
· Menjaga kebersihan makanan dan minuman, dan vaksinasi.
· Jangan lupa untuk selalu menyediakan oralit di rumah sebagai pencegah kehilangan cairan tubuh.
h. Demam berdarah dengue:
Demam tinggi >38.0°C yang terjadi secara mendadak selama 2-7 hari dengan 2 atau lebih gejala berikut ini: sakit kepala, nyeri retro orbital, mialgia, athralgia, rash, leucopenia, dan gejala perdarahan (Test tourniket positif, petechiae, purpura, perdarahan mukosa, saluran pencernaan, tempat suntikan, hematemesis, melena)
i. Malaria:
Penderita dengan demam atau riwayat demam pada 48 jam terakhir (dengan atau tanpa gejala seperti mual, muntah dan diare, sakit kepala, sakit punggung, menggigil, sakit otot) dengan hasil positif pada pemeriksaan laboratorium parasit malaria [apusan darah (tebal atau tipis) atau rapid diagnostic test].
Gejala malaria terdiri atas 3 stadium berurutan:
- menggigil (selama 15-60 menit), terjadi setelah pecahnya sizon dalam eritrosit dan keluar zat-zat antigenik.
- Demam (selama 2-6 jam), timbul setelah penderita menggigil, demam dengan suhu badan sekitar 37,5-40 derajat Celcius, pada penderita hiper parasitemia (lebih dari 5%) suhu meningkat sampai lebih dari 40 derajat celcius.
- Berkeringat (selama 2-4 jam), timbul setelah demam, terjadi akibat gangguan metabolisme tubuh sehingga produksi keringat bertambah. Kadang keringat sampai membasahi tubuh seperti orang mandi. Biasanya setelah berkeringat, penderita merasa sehat kembali.
Di daerah endemis malaria di mana penderita telah imun terhadap malaria gejala klasik di atas timbul tidak berurutan atau muncul gejala lain. Gejala malaria dalam program pemberantasan malaria antara lain demam, menggigil, berkeringat, dan dapat disertai dengan gejala lain seperti sakit kepala, mual dan muntah.
Pengobatan Jenis obat malaria sendiri antara lain:
- Obat standar : klorokuin dan primakuin
- Obat alternatif : Kina dan Sp (Sulfadoksin + Primetamin)
- OBat penunjang : Vitamin B Complex, vitamin C dan SF (Sulfas Ferrosus)
- Obat malaria berat: Kina HCL 25% injesi (1 ampul 2 cc) – obat standar
- Klorokuin injeksi ( 1 ampul 2 cc) sebagai obat alternatif
Pencegahan Tidur dengan kelambu dan menggunakan lotion anti nyamuk atau dalam kondisi tertentu bisa menggunakan sampo.(Pencegahan Wabah Penyakit Pasca-bencana, Health News Fri, 31 Dec 2004 13:41:00 WIB )
j. Campak:
Demam dengan ruam maculopapular (i.e. non-vesicular) dan batuk, pilek (hidung berair) atau konjungtivitis (i.e. mata merah) atau setiap penderita dimana petugas kesehatan mencurigai infeksi campak
k. Pneumonia:
Selain ISPA sering juga ditemukan pneumonia yaitu proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli). Terjadinya pneumonia pada anak seringkali bersamaan dengan proses infeksi akut pada bronkus (biasa disebut bronchopneumonia).
Gejala penyakit ini berupa napas cepat dan napas sesak, karena paru meradang secara mendadak. Pada anak <5 tahun: Batuk atau kesulitan bernafas , dan pernapasan 50 kali permenit atau lebih, pada anak berumur 2 bulan hingga 1 tahun atau pernapasan 40 kali per menit atau lebih pada anak berumur 1 hingga 5 tahun, dengan atau tanpa ada tarikan dinding dada ke dalam, atau ada stridor. Pada anak di bawah usia dua bulan, tidak dikenal diagnosis pnemonia.
III. Beda survei dan surveilen
Beda survei dan surveilen dapat dilihat dalam tabel berikut ini <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Author>Kusnanto</Author><RecNum>11</RecNum><record><rec-number>11</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">11</key></foreign-keys><ref-type name="Unpublished Work">34</ref-type><contributors><authors><author>Hari Kusnanto</author></authors></contributors><titles><title>Epidemiologi Bencana</title></titles><dates></dates><pub-location>yogyakarta</pub-location><publisher>Prodi S2 IKM UGM</publisher><urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(9)<!–[if supportFields]><![endif]–>:
Tabel 2. Beda Survei dan Surveilen
|
No. |
SURVEI |
SURVEILEN |
|
1.
2.
3.
4.
5.
|
Berkala (intermittent), fokus pada pengumpulan data dasar populasi, aktif
Pengumpulan informasi demografi, morbidity (kesakitan), mortality (kematian), status gizi (kekurangan gizi akut), indikator program (seperti : EPI, ANC, SFP, penggunaan pelayanan kesehatan)
Kemungkinan terbatas pada agen/fasilitas terkait.
Menggunakan sampling yang sesuai, mempertimbangkan kesenjangan informasi pada level komunitas
Memerlukan tim dan sumber daya yang lebih untuk mengorganisir, tapi pada satu waktu hanya biaya. |
Berkelajutan, pengumpulan secara sistematis, analisis dan interpretasi data fasilitas dan data dasar, secara pasif
Pengumpulan informasi demografi, morbidity (kesakitan), mortality (kematian), gizi (defisiensi gizi micro), indikator pelayanan kesehatan adn kesehatan lingkungan.
Melibatkan semua agen dan fasilitas kesehatan.
Mengamati mereka yang mengunjungi fasilitas pelayanan dasar, oleh karena itu tidak mewakili semua kelompok yang membutuhkan. Lebih sedikit mahal karena terintegrasi di dalam pelayanan rutin dan sistem yang berjalan. |
<!–[if supportFields]> ADDIN EN.REFLIST <![endif]–>DAFTAR PUSTAKA
1. Efendi F. Konsep Bencana Definisi Bencana (Disaster). Journal [serial on the Internet]. 2007 Date: Available from: http://ferryefendi.blogspot.com/2007/12/konsep-bencana-disaster.html.
2. Fauziah M. Bencana Alam Perlindungan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: EGC; 2006.
3. Waring SC. Communicable Diseases Following Natural Disasters: A Public Health Response Associate Director Center for Public Health Preparedness, . Houston: university of texas school of public health.
4. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 1116/menkes/sk/viii/2003 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilen Epidemiologi Kesehatan Menteri kesehatan Republik Indonesia. In: Kesehatan D, editor. Jakarta: Departemen Kesehatan; 2003.
5. Djafri D. Disaster Surveilen In press 2009.
6. Azam M. Surveilen Epidemiologi
Journal [serial on the Internet]. 2007 Date.
7. Strengthening of post disaster disease surveillance in selected Tsunami affected districts in Tamil Nadu, Kerala, Andhra Pradesh and Pondicherry. In: India OotWRt, editor. New Delhi: WHO; 2005.
8. Pedoman Teknis Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Panduan Bagi Petugas Kesehatan yang Bekerja dalam Penanganan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Di Indonesia. In: RI dK, editor. Jakarta: Depertemen kesehatan RI; 2007.
9. Kusnanto H. Epidemiologi Bencana. In.
10. Western KA. Epidemiologic Surveillance after Natural Disaster (PAHO-OPS, 1982, 105 p.). Washington: Pan American Sanitary Bureau, Regional Office of the WHO; 2003 [cited. Available from: ww.disaster-info.net/infovolcanes/pdf/eng/doc13950/doc13950-1a.pdf+Epidemiologic+Surveillance+after+Natural+Disaster&cd=20&hl=en&ct=clnk.
11. Fuad A. Peranan Sistem Informasi Geografis Kesehatan dalam Bencana. Journal [serial on the Internet]. 2005
Date: Available from: (http://anisfuad.wordpress.com).
12. Surveilans dan Pengendalian Penyakit Menular Paska Bencana. 2006 [cited. Available from: http://www.desentralisasi-kesehatan.net/id/moduldm/id/tt_4/bacaan/Surveilans_dan_Pengendalian_Penyakit_Menular.pdf.
13. Pencegahan Wabah Penyakit Pasca-bencana
Journal [serial on the Internet]. 2004 Date: Available from: http://cybermed.cbn.net.id/cbprtl/cybermed/detail.aspx?x=Health+News&y=cybermed|0|0|5|2709.
<!–[if supportFields]><![endif]–>
