Pendahuluan
Pada tahun 2000 terjadi peningkatan penyebaran HIV secara nyata melalui pekerja seks komersial, tetapi ada fenomena baru penyebaran HIV/AIDS melalui pengguna narkoba suntik (IDU). Tahun 2002 HIV sudah menyebar ke rumah tangga.
Sejauh ini, lebih dari 6,5 juta perempuan di Indonesia jadi populasi rawan tertular HIV. Lebih dari 24 ribu perempuan usia subur telah terinfeksi HIV dan sedikitnya 9 ribu perempuan hamil terinfeksi HIV positif setiap tahun. Bila tidak ada program pencegahan, lebih dari 30% diantaranya melahirkan bayi yang tertular HIV. Pada tahun 2015, diperkirakan akan terjadi penularan pada 38.500 anak yang dilahirkan dari ibu yang terinfeksi HIV. Sampai tahun 2006, diprediksikan 4.360 anak terkena HIV dan 50% diantaranya meninggal dunia.
Penularan HIV dari ibu ke bayi (MTCT-mother-to-child transmission) selama proses kehamilan, persalinan dan kelahiran atau menyusui disebut sebagai penularan/transmisi perinatal. Penularan secara vertikal terjadi dari ibu yang terinfeksi HIV ke bayinya. Penularan perinatal ini adalah cara penularan HIV yang paling sering pada bayi dan anak.
Anak yang didiagnosis HIV juga akan menyebabkan terjadinya trauma emosi yang mendalam bagi keluarganya. Orang tua harus menghadapi masalah berat dalam perawatan anak, pemberian kasih sayang, dan sebagainya sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan mental anak. Orangtua memerlukan waktu untuk mengatasi masalah emosi, syok, kesedihan, penolakan, perasaan berdosa, cemas, marah, dan berbagai perasaan lain. Dukungan nutrisi pemberian ARV, psikososial dan perawatan membantu anak menghadapi HIV/AIDS.
Kebanyakan wanita mengurus keluarga dan anak-anaknya selain mengurus dirinya sendiri sehingga gangguan kesehatan pada wanita akan mempengaruhi seluruh keluarganya. Wanita dengan HIV harus mendapatkan dukungan dan perawatan mencakup penyuluhan yang memadai tentang penyakitnya, perawatan, pengobatan, serta pencegahan penularan pada anak dan keluarganya.
Pengantar HIV/AIDS
HIV singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. HIV adalah virus penyebab AIDS. Cara kerja HIV adalah dengan menyerang sistem kekebalan tubuh yang fungsinya melindungi tubuh dari serangan berbagai penyakit.
AIDS singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome. AIDS didefenisikan sebagai suatu kumpulan gejala penyakit yang disebabkan menurunnya sistem kekebalan tubuh karena infeksi HIV. Karena HIV selalu menyebabkan AIDS atau AIDS selalu diakibatkan oleh HIV maka saat ini penyebutannya selalu disatukan menjadi HIV/AIDS.
Kasus AIDS pertama kali ditemukan di Indonesia pada 1987. Berdasar pada data statistik, total kasus yang tercatat sejak saat itu (1 Juli 1987) hingga 31 Maret 2008 adalah 11.868 penderita AIDS dan 6.130 positif HIV. Jumlah ini menunjukkan peningkatan sangat tajam. Padahal, seperti diketahui, fenomena kasus HIV-AIDS ibarat gunung es sehingga diduga masih banyak kasus belum terdeteksi.
Bahaya yang ditimbulkan infeksi HIV (human immunodeficiency virus) ini memang tidak langsung terjadi dalam waktu singkat. Bahkan, orang yang terinfeksi bisa hidup normal dalam jangka waktu lima sampai sepuluh tahun untuk sampai pada stadium munculnya gejala klinis. Hal ini merupakan salah satu penyebab mengapa masih banyak kasus yang belum terdeteksi. Penderita baru memeriksakan diri bila sudah timbul gejala-gejala klinis.
Kematian yang disebabkan infeksi HIV kebanyakan bukan karena infeksi virus, melainkan karena turunnya kekabalan tubuh. Virus ini menyerang sistem kekebalan tubuh manusia sehingga manusia mudah terkena penyakit lain atau dikenal dengan infeksi oportunistik. Maka AIDS (acquired immuno deficiency syndrome) dapat didefinisikan sebagai suatu sindrom klinis atau kumpulan gejala-gejala penyakit yang disebabkan human immunodeficiency virus.
Memang orang yang terinfeksi HIV belum tentu menjadi penderita AIDS, bergantung pada tingkat imunitas atau kekebalan tubuh orang tersebut yang dapat dilihat melalui komponen CD4. Jika terjadi penurunan CD4 sampai kurang dari 200, orang akan makin lemah daya tahan tubuhnya dan jatuh pada kondisi AIDS.
Total kematian yang disebabkan HIV-AIDS sejak 1987 hingga sekarang berjumlah 2.486. Kasus-kasus HIV-AIDS sudah ditemukan di beberapa daerah di Indonesia. Mengingat kondisi geografis Indonesia serta kemajuan industri pariwisata dan meningkatnya praktek seks komersial terselubung, makin mempermudah penularan penyakit ini .
Cara-cara penularan HIV/AIDS
Virus HIV ada dalam semua cairan tubuh manusia yang telah terinfeksi HIV. Tetapi hanya virus HIV yang terdapat di dalam:
1. Darah
2. Sperma
3. Cairan vagina
Ada 4 cara penularan HIV:
1. Melalui hubungan seksual dengan pengidap HIV tanpa perlindungan (kondom).
2. Melalui transfusi darah yang tercemar HIV.
3. Penggunaan jarum suntik, tindik, tato atau alat lain yang dapat menimbulkan luka dan tidak disterilkan dan sebelumnya telah dipakai orang yang terinfeksi HIV.
4. Dari ibu hamil yang terinfeksi HIV kepada anak yang dikandungnya.
Selama ini fokus penanggulangan HIV-AIDS pada penasun maupun PSK banyak dilakukan. Namun, pada bayi yang tertular dari ibunya belum banyak mendapat perhatian. Padahal muncul kecendrungan terjadinya peningkatan jumlah wanita terutama ibu rumah tangga yang tertular HIV-AIDS pada usia reproduksi mereka (80%). Jika wanita ini hamil, berpotensi menulari anak yang dikandungnya.
Menurut data epidemiologi AIDS nasional, lebih dari 24 ribu wanita usia subur di Indonesia tertular HIV dan lebih dari 9.000 wanita dengan HIV (+) dalam kondisi hamil tiap tahun.
Kondisi ini amat memprihatinkan dan menuntut kewaspadaan kita karena anak adalah generasi penerus bangsa sehingga status kesehatannya akan menentukan perannya di masa depan. Upaya yang harus dilakukan adalah memutus rantai penularan HIV-AIDS.
Faktor Risiko Penularan HIV dari Ibu ke Bayi
Ada dua faktor utama untuk menjelaskan faktor risiko penularan HIV dari ibu ke bayi (4):
1. Faktor ibu dan bayi
2. Faktor cara penularan
Faktor Ibu
Faktor yang paling utama mempengaruhi risiko penularan HIV dari ibu ke bayi adalah kadar HIV (viral load) di darah ibu pada menjelang ataupun saat persalinan dan kadar HIV di air susu ibu ketika ibu menyusui bayinya.
Umumnya, satu atau dua minggu setelah seseorang terinfeksi HIV, kadar HIV akan cepat sekali bertambah di tubuh seseorang. Kadar HIV tertinggi sebesar 10 juta kopi/ml darah terjadi 3-6 minggu setelah terinfeksi (disebut infeksi primer). Setelah beberapa minggu, biasanya kadar HIV mulai berkurang dan relatif terus rendah selama beberapa tahun pada periode tanpa gejala (asimptomatik). Ketika memasuki masa stadium AIDS (dimana tanda-tanda gejala AIDS mulai muncul), kadar HIV kembali meningkat.
Cukup banyak orang dengan HIV/AIDS (Odha) yang kadar HIV-nya sangat rendah sehingga menjadi sulit untuk dideteksi di dalam darah (kurang dari 100 kopi/ml). Umumnya, kondisi ini terjadi pada Odha yang telah minum obat antiretroviral secara teratur dengan benar. Pada kebanyakan Odha, kadar HIV berkisar antara 10.000 – 100.000 kopi/ml. Risiko penularan HIV sangat kecil jika kadar HIV rendah (kurang dari 1.000 kopi/ml), sementara jika kadar HIV di atas 100.000 kopi/ml risiko penularan HIV dari ibu ke bayi menjadi tinggi.
Risiko penularan akan lebih besar jika ibu memiliki kadar HIV yang tinggi pada menjelang ataupun saat persalinan.
Status kesehatan dan gizi ibu juga mempengaruhi risiko penularan HIV dari ibu ke bayi. Ibu dengan sel CD4 yang rendah (menurunnya sistem pertahanan tubuh) mempunyai risiko penularan yang lebih besar, terlebih jika jumlah sel CD4 kurang dari 200. Ada hubungan langsung antara CD4 dan kadar HIV karena semakin tinggi kadar HIV semakin rendah CD4 di tubuh Odha.
Jika ibu memiliki berat badan yang rendah selama kehamilan serta kekurangan vitamin dan mineral, maka risiko terkena berbagai penyakit infeksi juga meningkat. Biasanya, jika ibu menderita infeksi menular seksual (IMS) atau infeksi reproduksi lainnya maka kadar HIV akan meningkat, sehingga meningkatkan pula risiko penularan HIV ke bayi. Malaria juga bisa meningkatkan risiko penularan, karena parasit malaria merusak plasenta sehingga memudahkan HIV menembus plasenta untuk menginfeksi bayi. Malaria juga meningkatkan risiko bayi lahir prematur yang dapat memperbesar risiko penularan HIV dari ibu ke bayi.
Semakin rendah jumlah sel CD4, akan semakin besar risiko penularan HIV dari ibu ke bayi melalui pemberian air susu ibu (ASI). Sebuah studi menunjukkan bahwa ibu dengan CD4 kurang dari 200 memiliki risiko untuk menularkan HIV ke bayinya jauh lebih besar dibandingkan ibu dengan CD4 di atas 500. Risiko penularan HIV melalui pemberian ASI akan bertambah jika terdapat adanya masalah pada payudara ibu, seperti mastitis, abses, luka di puting payudara. Sebagian besar masalah payudara dapat dicegah dengan teknik menyusui yang baik. Konseling kepada ibu tentang cara menyusui yang baik dengan demikian dapat mengurangi risiko masalah-masalah payudara dan risiko penularan HIV.
Risiko penularan HIV pasca persalinan akan menjadi berlipat (sekitar 30%), jika ibu terinfeksi HIV ketika sedang masa menyusui bayinya karena kadar HIV meningkat pesat pada saat tersebut (infeksi primer) yang bisa memperbesar risiko penularan HIV ke bayi. Dengan demikian, berbagai upaya harus dilakukan untuk mencegah terjadinya penularan HIV pada ibu yang sedang hamil dan menyusui, serta menjaga kondisi kesehatan dan nutrisinya selama masa menyusui.
Faktor Bayi
Bayi yang lahir prematur dan memiliki berat badan lahir rendah diduga lebih rentan untuk tertular HIV dikarenakan sistem organ tubuh bayi tersebut belum berkembang baik, seperti sistem kulit dan mukosa, dll. Sebuah studi di Tanzania menunjukkan bahwa bayi yang dilahirkan sebelum 34 minggu memiliki risiko tertular HIV yang lebih tinggi pada saat persalinan dan masa-masa awal kelahiran.
Seorang bayi dari ibu HIV positif bisa jadi tetap HIV negatif selama masa kehamilan dan proses persalinan, tetapi mungkin akan terinfeksi HIV melalui pemberian ASI.
HIV terdapat di dalam ASI, meskipun konsentrasinya jauh lebih kecil dibandingkan dengan HIV di dalam darah. Antara 10-20% bayi yang dilahirkan oleh ibu HIV positif akan terinfeksi HIV melalui pemberian ASI (hingga 18 bulan atau lebih).
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat risiko penularan HIV melalui pemberian ASI, yaitu:
1. Umur Bayi.
Risiko penularan melalui ASI akan lebih besar pada bayi yang baru lahir. Antara 50–70% dari semua penularan HIV melalui ASI terjadi pada usia enam bulan pertama bayi. Setelah tahun kedua umur bayi, risiko penularan menjadi lebih rendah.
2. Luka di Mulut Bayi.
Bayi yang memiliki luka di mulutnya memiliki risiko untuk tertular HIV lebih besar ketika diberikan ASI.
Faktor Cara Penularan
Sebagian besar penularan HIV dari ibu ke bayi terjadi pada saat persalinan. Ketika proses persalinan, tekanan pada plasenta meningkat yang bisa menyebabkan terjadinya sedikit percampuran antara darah ibu dan darah bayi. Hal ini lebih sering terjadi jika plasenta meradang atau terinfeksi.
Pada saat persalinan, bayi terpapar darah dan lendir ibu di jalan lahir. Kulit dari bayi yang baru lahir masih sangat lemah dan lebih mudah terinfeksi jika kontak dengan HIV. Bayi mungkin juga terinfeksi karena menelan darah ataupun lendir ibu.
Semakin lama proses persalinan berlangsung, risiko penularan HIV dari ibu ke bayi juga semakin meningkat karena akan semakin lama terjadinya kontak antara bayi dengan darah dan lendir ibu. Ketuban pecah lebih dari empat jam sebelum persalinan akan meningkatkan risiko penularan hingga dua kali lipat dibandingkan jika ketuban pecah kurang dari empat jam sebelum persalinan.
Faktor lain yang kemungkinan meningkatkan risiko penularan selama proses persalinan adalah penggunaan elektrode pada kepala janin, penggunaan vakum atau forseps, dan tindakan episiotomi.
Bayi yang diberikan ASI eksklusif kemungkinan memiliki risiko terinfeksi HIV lebih rendah dibandingkan bayi yang mengkonsumsi makanan campuran (mixed feeding), yaitu tak hanya ASI tetapi juga susu formula dan makanan padat lainnya. Penelitian di Afrika Selatan menunjukkan bahwa bayi dari ibu HIV positif yang diberi ASI eksklusif selama tiga bulan memiliki risiko tertular HIV lebih rendah (14,6%) dibandingkan bayi yang mendapatkan makanan campuran, yaitu susu formula dan ASI (24,1%). Hal ini diperkirakan karena air dan makanan yang kurang bersih (terkontaminasi) akan merusak usus bayi yang mendapatkan makanan campuran, sehingga HIV dari ASI bisa masuk ke tubuh bayi.
Semakin lama pemberian ASI, akan semakin besar kumulatif risiko penularan HIV dari ibu ke bayi. Pada usia 5 bulan pertama pemberian ASI diperkirakan risiko penularan sebesar 0,7% per bulan. Antara 6-12 bulan, risiko sebesar 0,5% per bulan; dan antara 13–24 bulan, risiko bertambah lagi sebesar 0,3% per bulan. Dengan demikian, memperpendek masa pemberian ASI dapat mengurangi risiko bayi terinfeksi HIV.
Penularan HIV dari Wanita kepada Bayinya
Penularan HIV ke ibu bisa akibat hubungan seksual yang tidak aman (biseksual, homoseksual), pemakaian narkoba injeksi dengan jarum suntik bergantian bersama pengidap HIV, tertular melalui darah dan produk darah, penggunaan alat kesehatan yang tidak steril, serta alat untuk menoreh kulit. Menurut CDC, penyebab terjadinya infeksi HIV pada wanita secara berurutan dari yang terbesar adalah pemakaian obat terlarang melalui injeksi 51%, wanita heteroseksual 34%, transfusi darah 8%, dan tidak diketahui sebanyak 7%.
Disamping itu, diketahui pula persentase kumulatif AIDS di Indonesia berdasarkan cara penularan s.d. 30 September 2007, dimana cara penulara melalui IDU menempati persentase tertinggi (49,5%) sedangkan untuk penularan melalui perinatal sendiri yaitu sebesar 1,6%. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada grafik berikut:
Transmisi atau penularan dari ibu hamil dengan HIV (+) ke anaknya dapat melalui tiga cara, yaitu selama kehamilan (5%–10%), selama persalinan (10%–20%), dan melalui air susu ibu (ASI) (10%–15%) (2).
Penularan HIV ke bayi dan anak bisa dari ibu, penularannya melalui darah, pelecehan seksual pada anak. Penularan dari ibu ke anak terjadi karena wanita yang menderita HIV/AIDS sebagian besar (85%) berusia subur (15-44 tahun), sehingga terdapat risiko penularan infeksi yang bisa terjadi pada saat kehamilan. Berdasarkan laporan CDC Amerika, prevalensi penularan HIV dari ibu ke bayi 0,01 – 0,7%. Bila ibu baru terinfeksi HIV dan belum ada gejala AIDS kemungkinan bayi terinfeksi sebanyak 20% – 35%, sedangkan bila gejala AIDS sudah jelas pada ibu kemungkinannya mencapai 50%.
Penularan terjadi selama proses persalinan melalui transfusi feromaternal atau kontak antara kulit atau membran mukosa bayi dengan darah atau sekresi maternal saat melahirkan. Semakin lama proses kelahiran, semakin besar risiko penularan. Sehingga lama persalinan bisa dicegah dengan operasi sectio caesaria. Transmisi lain terjadi selama periode post-partum melalui ASI, risiko bayi tertular melalui ASI dari ibu yang positif sekitar 10%.
Diagnosis HIV pada Wanita dan Anak
1. Diagnosa HIV pada Bayi dan Anak
Bayi yang tertular HIV dari ibu bisa saja tampak normal secara klinis selama periode neonatal. Penyakit penanda AIDS tersering ditemukan pada anak adalah pneumonia yang disebabkan oleh Pneumocystis caranii. Gejala umum yng ditemukan pada bayi dengan infeksi HIV adalah gangguan tumbuh kembang, kandidiasis oral, diare kronis, atau hepatosplenomegali (pembesaran hepar dan lien).
Karena antibodi ibu bisa dideteksi pada bayi sampai bayi bersia 18 bulan, maka tes ELISA dan Western Blot akan positif meskipun bayi tidak terinfeksi HIV karena tes ini, berdasarkan ada atau tidaknya antibodi terhadap virus HIV. Tes paling spesifik untuk mengidentifikasi HIV adalah PCR untuk DNA HIV. Kultur HIV yang positif juga menunjukkan pasien terinfeksi HIV. Untuk pemeriksaan PCR bayi harus dilakukan pengambilan sampel darah untuk tes PCR pada dua saat yang berlainan. DNA PCR pertama diambil saat bayi berusia 1 bulan karena tes ini kurang sensitif selama periode 1 bulan setelah lahir. CDC merekomendasikan pemeriksaan DNA PCR setidaknya diulang pada saat bayi berusia 4 bulan. Jika tes ini negatif, maka bayi tidak terinfeksi HIV. Tetapi bila bayi tersebut mendapatkan ASI, maka bayi beresiko tertular HIV sehingga tes PCR perlu diulang setelah bayi disapih. Pada usia 18 bulan, pemeriksaan ELISA bisa dilakukan pada bayi bila tidak tersedia sarana pemeriksaan yang lain.
Anak-anak berusia lebih dari 18 bulan bisa didiagnosis dengan menggunakan kombinasi antara gejala klinis dan pemeriksaan laboratorium. Anak dengan HIV sering mengalami infeksi bakteri kumat-kumatan, gagal tumbuh atau Wasting, limfadenopati menetap, keterlambatan berkembang, sariawan pada mulut dan faring. anak usia berusia lebih dari 18 bulan bisa didiagnosis dengan ELISA dan tes konfirmasi lain seperti pada dewasa. Terdapat 2 klasifkasi yang bisa digunakan untuk mendiagnosis bayi dan anak dengan HIV yaitu menurut CDC dan WHO. CDC mengembangkan klasifikasi HIV pada bayi dan anak berdasarkan hitung limfosit CD4+ dan manifestasi klinis penyakit. Pasien dokategorikan berdasarkan derajat imunosupresi (1, 2, atau3) dan kategori klinis (N, A, B, C, E). Klasifikasi ini memungkinkan adanya surveilans serta perawatan pasien yang lebih baik. Klasifikasi klinis dan imunologis ini bersifat ekslusif, sekali pasien diklasifikasikan dalam suatu kategori, maka klasifikasi ini tidak berubah meskipun terjadi perbaikan status karena pemberian terapi atau faktor lain.
WHO mengembangkan diagnosis HIV hanya berdasarkan penyakit klinis dengan mengelompokkan tanda dan gejala dalam kriteria mayor dan minor. Seorang anak yang mempunyai 2 gejala mayor dan 2 gejala minor bisa didiagnosis HIV meskipun tanpa pemeriksaan ELISA atau tes laboratorium lain.
2. Diagnosa HIV pada Wanita
Gejala HIV pada wanita seringkali ditandai dengan gejala ginekologis, tetapi, belum termasuk dalam gejala HIV/AIDS menurut CDC sehingga dokter tidak mencurigainya sebagai infeksi HIV. Oleh sebab tersebut maka diagnosis HIV/AIDS pada wanita sering terlambat. Faktor lain yang menjadi penyebabnya adalah sulitnya fasilitas untuk didatangi, buruknya penggunaan fasilitas kesehatan, sedikitnya kecurigaan terhadap timbulnya aids pada wanita. Selain itu, wnita yang mempunyai risiko HIV/AIDS tidak menyadari gejala awal dari infeksi HIV. Banyak wanita yang mengetahui status HIV mereka melalui pemeriksaan prenatal.
Gejala ginekologis HIV pada wanita antara lain kandidiasis vulva vagina persisten sering timbul dan tidak responsif terhadap terapi, displasia sering sampai invasif, penyakit inflamasi pelvis disertai abses tuba dan ovarium, ulkus herpes simplek yang timbul lebih dari satu bulan. Gejala lain adalah ulkus genital, human papiloma, sifilis, dan kondiloma kuminata.
Pemeriksaan yang perlu dilakukan pada wanita yang terdiagnosis HIV meliputi:
1. Pengambilan riwayat ginekologis lengkap, termasuk riwayat menstruasi, obstetri, konsepsi dan aktivitas seksual
2. Pemeriksaan fisik termasuk pemeriksaan payudara dan pelvis
3. Pemeriksaan laboratorium: papsmear, kultur servik untuk mencari adanya klamedia, dan gonorhoe, VDRI, dan tes kehamilan jika ada indikasi
4. Mamogram untuk wanita yang berusia 35-39 tahun, dua tahun sekali sampai berusia 49 tahun dan kemudian setiap tahun untuk wanita yang berusia 50 tahun atau lebih
5. Kolposkopi
Komplikasi medis HIV/AIDS pada wanita antara lain esofagitis candida dan pneumocystis carinii. Selain itu juga bisa ditemukan virus human papiloma dan penyakit serviks, virus herpes simpleks, chancroid, sifilis, ulkus genital HIV, penyakit inflamasi pelvis, dan kandidiasis vagina.
Pencegahan Penularan HIV pada Wanita dan Anak
Karena adanya peningkatan kasus penularan HIV dari ibu ke bayi, maka diperlukan program pencegahan penularan infeksi HIV dari ibu ke bayi (PMCT). Progam pencegahan tersebut melibatkan ibu dengan infeksi HIV, anak mereka dan keluarganya ke dalam pengobatan, pelayanan dan dukungan. Dasar dari program pencegahan infeksi HIV ibu ke anak (PMTCT) :
• Tes HIV dan konseling
• Obat antiretroviral (obat yang menurunkan pertambahan dan jumlah virus HIV) pada masa kehamilan dan persalinan
• Pelayanan persalinan yang aman
• Pelayanan pemberian nutrisi bagi bayi yang aman
Adapun upaya lain yang dapat dilakukan untuk mencegah penularan HIV/AIDS dari ibu ke bayi, yaitu persalinan dengan sectio caesaria, serta pemberian susu formula pada bayi .
Upaya tersebut merupakan bagian pencegahan penularan HIV-AIDS dari ibu ke anak atau dikenal dengan istilah PMTCT (prevention mother to child transmission). Pencegahan ini dilakukan secara komprehensif yang terdiri dari empat cara, yaitu pencegahan pada usia reproduktif, pencegahan kehamilan yang tidak direncanakan pada ibu dengan HIV (+), pencegahan penularan dari ibu dengan (+) HIV yang hamil ke bayi yang dikandungnya, serta memberi dukungan psikologis, sosial, dan perawatan kepada ibu HIV (+) beserta bayi dan keluarganya.
Cara yang pertama idealnya dilakukan dengan tidak melakukan hubungan seks bebas. Ibu-ibu dapat tertular melalui hubungan seks dari suami atau pasangannya yang tertular. Kebanyakan suami tersebut adalah pelanggan wanita pekerja seks sehingga upaya ini dapat dilakukan dengan bersikap setia pada pasangannya.
Kenyataannya, apabila terjadi hubungan seks bebas, harus menggunakan kondom. Ini sangat memerlukan kesadaran bagi pria pelanggan wanita pekerja seks bahwa dampak yang ditimbulkan dapat berbuntut panjang dan bahkan merugikan keluarganya.
Cara kedua, apabila seorang ibu telanjur tertular HIV, sebaiknya mengatur kehamilannya agar bayi yang dikandungnya kelak tidak tertular dengan mengikuti KB yang tepat. Selain itu, konseling dan tes HIV sukarela untuk pasangan di klinik VCT (voluntary consulting test).
VCT merupakan pintu masuk penting untuk pencegahan dan perawatan HIV karena merupakan screenning awal bagi pasangan yang tertular HIV-AIDS sehingga menentukan intervensi PMTCT. Akan tetapi, kendalanya adalah keengganan bagi pasangan memeriksakan diri dan layanan klinik VCT yang masih langka. Layanan ini dapat didirikan pemerintah seperti puskesmas maupun rumah sakit serta pihak swasta.
Cara ketiga, sudah dibahas sebelumnya, antara lain pemberian ARV, persalinan dengan seksio caesaria serta susu formula pada bayi. Kendala yang dihadapi adalah ketersediaan ARV yang sesuai dengan kebutuhan.
Pemerintah hendaknya memberikan alokasi anggaran yang tepat agar tidak sampai kekurangan karena putus ARV akan menurunkan tingkat kekebalan secara drastis selain itu juga dapat memicu resistensi. Seksio caesaria juga tidak mudah dilakukan karena memerlukan biaya yang tinggi sehingga diperlukan bantuan bagi mereka yang tidak mampu agar dapat menjalani operasi tersebut.
Meskipun demikian, risiko medis tetap ada selama operasi akibat perlukaan jalan lahir, perlukaan pada janin, yang dapat menyebabkan penularan HIV.
Mengenai pemberian ASI, harus tetap menghargai hak seorang ibu apabila ia tetap ingin memberikan ASI kepada bayinya. Perlu diinformasikan pada ibu tersebut bahwa pemberian ASI dapat meningkatkan risiko bayi tertular meningkat menjadi 5%–20%. Ini memerlukan konseling oleh tenaga kesehatan kepada ibu mengenai alternatif pemberian susu formula ataupun makanan pada bayinya.
Cara keempat atau terakhir yaitu perawatan medis; dapat dilakukan dengan terapi pencegahan, terapi ARV, terapi infeksi oprtunistik, maupun terapi untuk menunjang kehidupan pada penderita yang sudah sampai stadium akhir. Dukungan psikologis dapat dilakukan dengan konseling, dukungan spiritual, pendampingan oleh tenaga kesehatan maupun orang terdekat, serta dukungan masyarakat. Sebaiknya tidak ada diskriminasi bagi ODHA dalam kehidupan sehari-hari sehingga mereka tetap dapat hidup dan terjamin hak asasinya.
Dukungan sosio-ekonomi juga diperlukan agar mereka dapat tetap produktif sehingga dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Ini mengingat bahwa menurut data statistik, sebagian besar penderita HIV-AIDS berada pada kelompok umur produktif.
Dari program PMTCT, tampak program ini memerlukan upaya ekstra dan berkesinambungan segenap instansi tidak hanya di bidang kesehatan. Upaya pencegahan komprehensif ini harus segera dilakukan agar jangan sampai terjadi peningkatan jumlah bayi yang tertular HIV-AIDS.
Pelayanan PMTCT melibatkan pasangan, dimana keduanya (ibu dan pasangan) harus sadar akan pentingnya hubungan seks yang aman selama kehamilan dan menyusui, keduanya melakukan tes dan konsultasi HIV, keduanya peduli dan disediakan pelayanan PMTCT.
Oleh karena itu strategi-strategi dari pencegahan penularan dari ibu ke bayi (PMCTC) :
1. Pencegahan infeksi HIV
• Promosi hubungan seksual yang bertanggung jawab dan aman
• Menyediakan akses kepada kondom
• Menyedialkan pelayanan untuk diagnosis dini dan pengobatan infeksi menular seksual
• Membuat tes HIV dan konseling tersedia luas
• Menyediakan konseling untuk perempuan HIV negatif
2. Pencegahan kehamilan tak diinginkan pada perempuan dengan infeksi HIV :
• Menyediakan pelayanan keluarga berencana yang efektif
• Promosi kepada kontrasepsi yang aman dan efektif
• Promosi hubungan seks yang aman
3. Pencegahan penularan ibu ke bayi
• Menyediakan tes dan konseling HIV
• Menyediakan pengobatan dan pencegahan dengan obat antiretroviral
• Promosi praktek kelahiran yang aman
• Edukasi dan dukungan pada praktek pemberian nutrisi untuk bayi yang aman
4. Menyediakan pelayanan pengobatan, dukungan dan perawatan kepada perempuan dengan infeksi HIV, bayi dan keluarga mereka.
• Menyediakan pelayanan pengobatan, perawatan dan dukungan kepada perempuan
• Menyediakan diagnosis awal, prawatan dan dukungan kepada bayi dan anak yang terinfeksi HIV
• Promosi kepada layanan berbasis komunitas untuk memberikan pelayanan keluarga yang menyeluruh .
Selain hal diatas, pencegahan penularan HIV pada wanita dapat dilakukan secara primer yang mencakup mengubah perilaku seksual dengan menerapkan prinsip ABC, yaitu Abstinence (tidak melakukan hubungan seksual), Be faithful (setia kepada pasangan), dan kondom (pergunakan kondom jika terpaksa melakukan hubungan dengan pasangan). Wanita juga disarankan untuk tidak menggunakan narkoba terutama narkoba suntikan dengan pemakaian jarum yang bergantian, serta pemakaian alat menoreh kulit dan benda tajam secara bergantian dengan orang lain (misalnya tindik, tato, silet, cukur, dll). Petugas kesehatan perlu menerapkan kewaspadaan universal dan menggunakan darah sertaproduk darah yang bebas dari HIV untuk pasien.
Menurut Depkes RI (2003), WHO empat strategi untuk mencegah penularan HIV dari ibu ke bayi dan anak, yaitu :
1. Mencegah jangan sampai wanita terinfeksi HIV/AIDS,
2. Apabila sudah dengan HIV/AIDS, dicegah supaya tidak hamil
3. Apabila sudah hamil, dilakukan pencegahan supaya tidak menular pada bayi dan anaknya,
4. Apabila ibu dan anak sudah terinfeksi maka sebaiknya diberikan dukungan dan perawatan bagi ODHA dan keluarganya.
Penularan HIV dari ibu ke bayi bisa dicegah melalui 4 cara, mulai saat hamil, saat melahirkan, dan setelah lahir yaitu: penggunaan antiretroviral selama kehamilan, penggunaan antiretroviral saat persalinan dan bayi yang baru dilahirkan, penanganan obstetrik selama persalinan, penatalaksanaan selama menyusui. Pemberian antiretroviral bertujuan agar viral load rendah sehingga jumlah virus yang ada dalam darah dan cairan tubuh kurang efektif untuk menularkan HIV. Obat yang bisa dipilih untuk negara berkembang adalah Nevirapine, pada ibu saat persalinan diberikan 200 mg dosis tunggal sedangkan pada bayi isa diberikan 2 mg/kg BB 72 jam pertama setelah lahir dodis tunggal. Obat lain yang bisa dipilih adalah AZT yang diberikan mulai kehamilan 36 minggu 2x 300 mg per hari dan 300 mg setiap jam selama persalinan berlangsung.
Persalinan sebaiknya dipilih dengan metode sectio caesaria karena terbukti mengurangi risiko penularan HIV dari ibu ke bayi sampai 80%. Bila bedah caesar selektif disertai penggunaan terapi antiretroviral, maka risiko dapat diturunkan sampai 87%. Walaupun demikian bedah caesar juga mempunyai resiko karena imunitas ibu yang rendah sehingga bisa terjadi keterlambatan penyembuhan luka, bahkan bisa terjadi kematian saat operasi. Oleh karea itu, persalinan pervagina atau sectio caesaria harus dipertimbangkan sesuai kondisi gizi, keuangan, dan faktor lain. Bila persalinan pervagina yang dipilih tindakan invasif seperti episiotomi rutin, ekstraksi vakum, ekstraksi cunam, memecahkan ketuban sebelum pembukaan lengkap, terlalu sering melakukan periksa dalam, serta memantau analisa gas darah dengan mengambil sampel dari kulit kepala janin selama persalinan harus dihindari karena meningkatkan risiko penularan HIV dari ibu ke janin.
Refensi :
1. Nursalam, Kurniawati ND. Asuhan Keperawatan pada Pasien Terinfeksi HIV/AIDS. Jakarta: Salemba Medika; 2008.
2. Perdani RRW. Waspadai Penularan HIV-AIDS pada Bayi. Lampung; 2008 [updated 2008; cited 2009 31 Maret]; Available from: http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=849.
3. BKKBN. Mengenal HIV/AIDS Lebih Dekat Lagi. Warta Kependudukan. 2007 Februari.
4. Resiko Penularan dari Ibu ke Bayi. 2008 [updated 2008; cited 2009 31 Maret]; Available from: www.PMTCT.net
5. Anto. Pencegahan Penularan dari Ibu ke bayi (Prevention of Mother-to-child Transmission -PMTCT). 2008 [updated 2008 18 November; cited 2009 31 Maret]; Available from: http://www.cdc.gov/.