STUDI EPIDEMIOLOGI TB PARU
DENGAN PENDEKATAN SPASIAL DAN TEMPORAL SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS
DI KOTA PADANG TAHUN 2007-2009
Usulan Penelitian Skripsi
Diajukan ke Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Univesitas Andalas sebagai Pemenuhan Syarat untuk Melaksanakan
Penelitian Skripsi Sarjana Kesehatan Masyarakat
Oleh :
MAIYULIA FITRI
No. BP. 06122013
PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG, 2010
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Penyakit Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit kronis (menahun) yang telah lama dikenal oleh masyarakat luas dan ditakuti karena menular.(1) Tuberkulosis disebabkan oleh kuman Micobacterium tuberculosis dan muncul sebagai epidemi kesehatan masyarakat.(2,3)
Tuberkulosis merupakan salah satu penyakit infeksi penting penyebab morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia dan setiap negara berbeda angka insidennya.(4) Sekitar sepertiga populasi dunia diperkirakan telah terinfeksi kuman Micobacterium tuberculosis dengan angka kematian tiga juta orang pertahun, atau 8000 setiap harinya, maka setiap detiknya ada satu orang terinfeksi Micobacterium tuberculosis dan dalam dekade mendatang tidak kurang dari 300 juta orang akan terinfeksi oleh Micobacterium tuberculosis.(4,5) World Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa lebih dari 1,7 milyar orang diseluruh dunia telah terinfeksi Micobacterium tuberculosis dan sekitar 10% berkembang menjadi penyakit.(4)
Laporan WHO tahun 2004 menyebutkan bahwa terdapat 8,8 juta kasus baru TB pada tahun 2002, dengan kasus BTA+ sebanyak 3,9 juta.(6) Secara global, terdapat sekitar 9,27 juta insiden kasus TB pada tahun 2007. Kasus ini meningkat dari 9,24 juta kasus pada tahun 2006, 8,3 juta kasus pada tahun 2000 dan 6,6 juta kasus pada tahun 1990. Sebagian besar dari perkiraan jumlah kasus tahun 2007 berada di Asia (55%) dan di Afrika (31%), dengan proporsi kecil kasus di wilayah Mediterania Timur (6%), Kawasan Eropa (5%) dan Amerika (3%). Lima negara yang menjadi peringkat pertama untuk kejadian TB, dalam hal jumlah total kasus pada tahun 2007 adalah India (2,0 juta), Cina (1,3 juta), Indonesia (0,53 juta), Nigeria (0,46 juta) dan Afrika Selatan (0,46 juta).(7)
Di dunia tercatat ada 22 negara dengan jumlah kasus TB terbanyak, dan 22 negara ini disebut sebagai high burden countries. Indonesia termasuk dalam negara high burden countries.(8) Indonesia tercatat sebagai negara yang memberikan konstribusi penderita TB nomor tiga terbesar di dunia setelah India dan Cina.(9)
Di Indonesia penyakit TB masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dan jumlah penderita TB dari tahun ke tahun terus meningkat.(2) Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 2004, TB merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan saluran nafas, dan nomor satu di antara penyakit infeksi.(10)
Data tahun 2008, kasus TB BTA+ yang ditemukan di Indonesia sebesar 166.376 kasus dari perkiraan 298.392 kasus. Case Detection Rate (CDR) TB di Indonesia yaitu 72,82%. Case Detection Rate dan success rate (SR) TB di Indonesia memperlihatkan kenaikan dari tahun ke tahun, tahun 2005 CDR dan SR TB yaitu 54,0% dan 91,0 %, pada tahun 2006 terjadi kenaikan CDR yaitu 76,0%, tahun 2007 terjadi penurunan yaitu hanya 69,1% dan tahun 2008 terjadi kenaikan CDR yaitu 72,8% tetapi SR mengalami penurunan yaitu 87%.(11)
Kasus baru TB di Indonesia menurut laporan WHO (2009) adalah 119 per 100.000 penduduk.(7) Data insiden TB BTA+ menurut jenis kelamin memperlihatkan bahwa kasus tertinggi terjadi pada kelompok jenis kelamin laki-laki yaitu 94.518 (58,80%), sedangkan insiden pada perempuan yaitu 66.223 kasus (41,20%).(11)
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2007, secara nasional Prevalensi TB adalah 0,99%. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Tuberkulosis diatas prevalensi nasional dan Sumatera Barat termasuk kedalam 17 provinsi dengan prevalensi TB diatas prevalensi nasional.(12)
Angka perkiraan penderita TB di Sumatera Barat pada tahun 2007 adalah 3.693 orang, dan kasus sembuh sebanyak 2.995 orang (82,76%). Perkiraan CDR pada tahun 2007 adalah 48,3% terjadi penurunan CDR dari tahun 2006 yaitu 50,1%.(13)
Di Sumatera Barat, cakupan penemuan penderita TB BTA+ atau CDR tahun 2008 berdasarkan laporan tahunan 2009 adalah 45,8%, angka ini sedikit menurun jika dibandingkan dengan pencapaian tahun 2007 sebesar 48,0 %. Namun, dari hasil pengobatan kasus yang diobati pada tahun 2008 menunjukan hasil yang menggembirakan, dimana telah dapat dicapai angka SR sebesar 88,2%.(14)
Berdasarkan laporan tahunan dinas kesehatan Sumatera Barat, tahun 2006 Kota Padang merupakan kota dengan penemuan kasus TB BTA+ tertinggi di Sumatera Barat yaitu 662 kasus, diikuti Kabupaten Pariaman 455 kasus dan Kabupaten Agam 413 kasus.(13)
Perkiraan penemuan penderita TB BTA+ di kota Padang mengalami kenaikan pada tiga tahun terakhir. Tahun 2007 ditemukan penderita TB BTA+ sebesar 585 orang, tahun 2008 yaitu 699 kasus dari perkiraan 4841 kasus, dan tahun 2009 penderita TB BTA+ sebesar 784 kasus dari perkiraan 5216 kasus.(15)
Sistem surveilens TB di Indonesia secara nasional berada di bawah pengawasan Direktorat Jenderal PP-PL (Pemberantasan penyakit dan penyehatan lingkungan) Departemen Kesehatan RI.(16) Untuk perencanaan pengendalian penyakit, sistem surveilen sebaiknya mengidentifikasi lokasi penderita agar dapat dipetakan dengan menggunakan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG). Sistem Informasi Geografis merupakan sistem berbasis komputer yang didesain untuk mengumpulkan, mengolah, memanipulasi, dan menampilkan informasi spasial (keruangan). Data yang digunakan dan dianalisis dalam suatu SIG yaitu berbentuk data peta (spasial).(17)
Sistem informasi geografis dapat dimanfaatkan untuk membuat peta kabupaten dan mendapatkan informasi seperti: fasilitas kesehatan, sekolah dan data epidemiologi. Informasi ini ketika dipetakan, akan menjadi alat yang berguna untuk memetakan risiko penyakit, identifikasi pola distribusi penyakit, memantau surveilens dan kegiatan penanggulangan penyakit, mengevaluasi aksebilitas ke fasilitas pelayanan kesehatan dan memperkirakan jangkauan wabah penyakit.(18) Di Kota Padang penelitian tentang TB sudah banyak dilakukan, tetapi belum ada penelitian yang mengkaji TB dengan tinjauan aspek spasial.
Aspek spasial (wilayah) ini penting untuk dikaji, karena antara satu wilayah dengan wilayah lain mempunyai perbedaan karakteristik. Keragaman karakteristik antar wilayah menentukan kualitas kesehatan pada daerah tersebut.(19) Kajian spasial Sistem Informasi Geografi yang berhubungan dengan TB BTA+ diharapkan dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pembuatan kebijakan dalam upaya penanggulangan TB.
1.2. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah diperolehnya gambaran spacial dan temporal TB di kota Padang tahun 2009 dengan pendekatan SIG.
Selain itu penelitian ini juga bertujuan untuk :
- Mengetahui kondisi spasial kejadian TB di Kota Padang
- Mengetahui gambaran distribusi TB menurut tren waktu di kota Padang
- Mengetahui kecamatan atau wilayah dengan kasus TB tertinggi di Kota Padang
- Mengetahui gambaran penemuan kasus TB di kecamatan atau wilayah di Kota Padang tahun 2009.
1.3. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah :
- Bagi peneliti
Meningkatkan kemampuan peneliti dalam menganalisis masalah dan menambah wawasan peneliti tentang TB dan meningkatkan keterampilan peneliti melakukan analisis spasial dan temporal dengan pendekatan SIG.
- Bagi Dinas Kesehatan Kota Padang
Sebagai masukan, pertimbangan dan informasi bagi pihak Dinas Kesehatan Kota Padang terutama bagian penganggulangan TB, untuk perencanaan upaya pencegahan dan penanggulangan kejadian TB di kota Padang.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.Tuberkulosis
2.1.1. Pengertian Tuberkulosis
Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi kronis menular langsung yang disebabkan oleh bakteri Micobacterium tuberculosis. Tuberkulosis dapat menyerang berbagai organ tubuh manusia, namun lebih sering menyerang organ pernapasan atau paru.(2,20,21)
2.1.2. Penyebab Tuberkulosis
Penyakit TB disebabkan oleh bakteri Micobacterium tuberculosis. Bakteri ini berbentuk batang yang mengelompok (koloni) dan bersifat tahan asam sehingga dikenal juga sebagai Batang Tahan Asam (BTA).(2,21)
2.1.3. Cara Penularan Tuberkulosis
Sumber dari penularan TB adalah penderita dengan TB BTA+ yaitu penderita yang dahaknya megandung kuman Micobacterium tuberculosis. Penularan TB terjadi melalui udara saat penderita batuk, bersin dan berbicara. Pada saat penderita batuk, bersin dan berbicara, penderita akan menyebarkan kuman Micobacterium tuberculosis ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei). Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak.(2,8)
Penularan terjadi jika orang menghirup kuman Micobacterium tuberculosis yang dihasilkan dari percikan penderita tadi. Umumnya, penularan terjadi didalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu yang lama. Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman Micobacterium tuberculosis yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derjat kepositifan hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita tesebut. Faktor yang memungkinkan sesorang terpajan TB ditentukan oleh konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara yang mengandung percikan tersebut.(2,8,21)
Semua orang dapat terinfeksi TB, baik itu laki-laki, perempuan, tua, muda, kaya maupun miskin, terutama yang tinggal di dalam rumah yang gelap, lembab, dan ventilasi udara yang tidak baik. Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan yang gelap dan lembab. Ventilasi yang baik dapat mengurangi jumlah percikan, sementara itu, sinar matahari langsung dapat membunuh kuman Micobacterium tuberculosis.(8)
2.1.4. Gejala Tuberkulosis
Penderita TB akan mengalami berbagai gangguan kesehatan, seperti batuk berdahak kronis, demam subfebril, berkeringat tanpa sebab di malam hari, sesak napas, nyeri dada, dan penurunan nafsu makan. Semuanya itu dapat menurunkan produktivitas penderita bahkan kematian. Adapun gejala utama penderita TB yaitu batuk terus-menerus dan berdahak selama 3 minggu atau lebih. Selain itu, gejala yang sering dijumpai yaitu dahak bercampur darah, batuk darah, sesak nafas dan rasa nyeri dada, badan lemah, nafsu makan menurun, berat badan menurun, rasa kurang enak badan (malaise), berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan, dan demam meriang lebih dari satu bulan.(2,8)
Gejala-gejala tersebut diatas dijumpai pula pada penyakit paru selain TB. Oleh sebab itu orang yang datang dengan gejala diatas harus dianggap sebagai seorang “suspek tuberkulosis” atau tersangka penderita TB, dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung. Selain itu, semua kontak penderita TB Paru BTA+ dengan gejala sama, harus diperiksa dahaknya. (2,8)
2.1.5. Penemuan Penderita
Kegiatan penemuan penderita terdiri dari penjaringan suspek, diagnosa, penentuan klasifikasi penyakit dan tipe penderita. Penemuan penderita merupakan langkah pertama dalam kegiatan penanggulangan TB. Penemuan dan penyembuhan penderita TB menular, secara bermakna akan dapat menurunkan kesakitan dan kematian akibat TB, penularan TB pada masyarakat dan sekaligus merupakan kegiatan pencegahan penularan TB yang efektif di masyarakat dengan strategi penemuan:
- Penemuan penderita TB dilakukan secara Passive Promotive Case Finding yaitu penemuan penderita secara pasif dengan promosi aktif. Penjaringan tersangka penderita TB dilakukan di unit pelayanan kesehatan; didukung dengan penyuluhan yang aktif, baik oleh petugas kesehatan maupun masyarakat, untuk meningkatkan penemuan tersangka penderita TB.
- Pemeriksaan terhadap kontak pasien TB, terutama mereka yang BTA+ dan pada keluarga anak yang menderita TB yang menunjukkan gejala yang sama, harus diperiksa dahaknya.
- Penemuan secara aktif dari rumah ke rumah, dianggap tidak Cost Efektif.
Penemuan penderita untuk program penanggulangan TB di Indonesia ditargetkan minimal adalah 70%. Tingkat penemuan ini menggambarkan cakupan penemuan penderita baru TB BTA+ pada wilayah tertentu.(2)
2.1.6. Diagnosis Penderita
Cara mendiagnosis penderita TB adalah:
- Semua suspek TB diperiksa tiga spesimen dahak dalam waktu dua hari, yaitu Sewaktu-Pagi-Sewaktu (SPS):
1) Sewaktu: spesimen (dahak) diambil sewaktu suspek datang pertama kali ke Puskesmas/Rumah Sakit dengan gejala batuk yang dicurigai. Kemudian suspek diberi satu pot spesimen lagi untuk dibawa pulang.
2) Pagi: spesimen diambil pagi pas bangun tidur sebelum suspek melakukan aktifitas, yaitu sewaktu akan datang ke Puskesmas/Rumah Sakit bukan setiap hari. Spesimen dimasukkan ke dalam pot yang diberikan sewaktu pasien pertama kali ke Puskesmas/Rumah Sakit.
3) Sewaktu: spesimen ketiga diambil sewaktu suspek tiba di Puskesmas/Rumah Sakit pada kunjungan selanjutnya. Setiba di Puskesmas/Rumah Sakit berikan satu pot lagi untuk tempat dahaknya di Puskesmas/Rumah Sakit tersebut.
- Diagnosa TB Paru pada orang dewasa ditegakkan dengan ditemukannya kuman TB (BTA). Pada program TB nasional, penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan diagnosa utama. Pemeriksaan lain seperti foto toraks, biakan dan uji kepekaan dapat dilakukan sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya.
- Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan pemeriksaan foto toraks saja. Foto toraks tidak selalu memberikan gambaran yang khas pada TB Paru, sehingga sering terjadi overdiagnosis.
- Gambaran kelainan radiologik paru tidak selalu menunjukkan aktifitas penyakit.
- Untuk lebih jelasnya lihat alur prosedur diagnostik untuk suspek TB Paru.(2,22)
Pada sebagian besar TB Paru, diagnosis terutama ditegakkan dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis dan tidak memerlukan foto toraks. Namun pada kondisi tertentu pemeriksaan foto toraks perlu dilakukan sesuai dengan indikasi sebagai berikut:
- Hanya 1 spesimen dari tiga spesimen dahak SPS hasilnya BTA+. Pada kasus ini pemeriksaan foto toraks diperlukan untuk mendukung diagnosis TB BTA+. (lihat bagan 1.)
- Ketiga spesimen hasilnya tetap negatif setelah ketiga spesimen SPS pada pemeriksaan sebelumnya BTA- dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotik non OAT. (lihat bagan 1.)
- Pasien tersebut diduga mengalami komplikasi sesak nafas berat yang memerlukan penanganan khusus.(2)
| Sumber: Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis Edisi Ke-2 Cetakan Pertama Tahun 2007 |
Gambar 2.1. Alur Diagnosis Penderita TB Paru
2.1.7. Klasifikasi dan Tipe Penderita Tuberkulosis
Penentuan klasifikasi penyakit dan tipe penderita TB memerlukan “definisi kasus” yang memberikan batasan baku dari setiap klasifikasi dan tipe penderita. Ada empat hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan definisi kasus, yaitu:
- Organ tubuh yang sakit : paru atau ekstra paru
1) Tuberkulosis Paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan paru, tidak termasuk pleura (selaput paru). Berdasarkan pemeriksaan dahak, TB Paru dibagi menjadi 2 yaitu : Tuberkulosis Paru BTA positif (BTA+) dan Tuberkulosis Paru BTA negatif (BTA-).
2) Tuberkulosis Ekstra Paru adalah tuberkulosis yang menyerang organ tubuh selain jaringan paru, misalnya pleura (selaput paru), selaput otak, selaput jantung, kelejar limfe, tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin dan lain-lain.(8)
- Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung, yaitu:
1) Tuberkulosis BTA positif (BTA+)
a) Sekurang-kurangnya dua sampai tiga spesimen dahak hasilnya BTA+.
b) Satu spesimen dahak hasilnya BTA+ dan foto toraks dada menunjukkan gambaran tuberkulosis.
c) Satu spesimen dahak hasilnya BTA+ dan biakan kuman TB Positif.
d) Satu atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah tiga spesimen dahak pada pemeriksaan sebelumnya hasil BTA- dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibotik non OAT.
2) Tuberkulosis BTA negatif (BTA-)
a) Paling tidak tiga spesimen dahak hasilnya BTA negatif
b) Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran tuberkulosis
c) Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotik non OAT
d) Ditentukan (pertimbangan) oleh dokter untuk diberi pengobatan.(2,8,21)
- Klasifikasi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya
1) Kasus Baru
Adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (empat minggu).
2) Kasus Kambuh (Relaps)
Adalah pasien TB yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan TB dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, didiagnosis kembali dengan BTA positif (asupan atau kultur).
3) Kasus setelah Putus Berobat (Defaul)
Adalah pasien yang telah berobat dan putus berobat dua bulan atau lebih dengan BTA positif.
4) Kasus setelah Gagal (Failure)
Adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.
5) Kasus Pindahan (Transfer In)
Adalah pasien yang dipindahkan dari UPK yang memiliki register TB lain untuk melanjutkan pengobatan.
6) Kasus Lain
Adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan di atas. Dalam kelompok ini juga termasuk kasus kronik, yaitu pasien yang hasil pemeriksaan masih BTA positif setelah pengobatan ulangan.(2)
- Tingkat keparahan penyakit, yaitu: penyakit ringan dan penyakit berat. Penyakit TB berat bila gambaran foto toraks memperlihatakan gambaran kerusakan paru yang luas dan atau keadaan pasien buruk.(2,21)
2.1.8. Resiko Penularan Tuberkulosis
Resiko penularan setiap tahun Annul Risk of Tuberculosis Infektion (ARTI) tuberkulosis di Indonesia dianggap cukup tinggi (1-3%). Pada daerah dengan ARTI 1% dapat diperkirakan diantara 100.000 penduduk terjadi 100 penderita TB setiap tahunnya, dimana 50 penderita adalah BTA+ penularan akan lebih mudah terjadi pada hunian padat (over crowing), status sosial ekonomi yang tidak menguntungkan dan jenis pekerjaan.(16)
2.1.9. Kebijakan Penanggulangan Tuberkulosis
Kebijakan program penanggulangan TB Paru di Indonesia adalah sebagai berikut :
- Penanggulangan TB di Indonesia dilaksanakan dengan sesuai dengan asas desentralisasi dengan Kabupaten/Kota sebagai titik berat manajemen program dalam kerangka otonomi yang meliputi: perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi serta menjamin ketersediaan sumber daya (dana, tenaga, sarana dan prasarana).
- Penanggulangan TB dilaksanakan dengan menggunakan Stategi Directly Observed Treatment Short-course (DOTS).
- Penguatan kebijakan untuk meningkatkan komitmen daerah terhadap program penanggulangan TB.
- Penguatan strategi DOTS dan pengembangannya ditujukan terhadap penigkatan mutu pelayanan, kemudahan akses untuk penemuan dan pengobatan sehingga mampu memutus rantai penularan dan mencegah terjadi resistensi obat atau Multi Drug Resistance TB (MDR TB).
- Penemuan dan pengobatan dalam rangka penanggulangan TB dilaksanakan oleh seluruh Unit Pelayanan Kesehatan (UPK), meliputi Puskesmas, Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta, Rumah Sakit Paru (RSP), Balai Pengobatan Penyakit Paru-paru (BP4), Klinik Pengobatan lain serta Dokter Praktek Swasta (DPS).
- Penangglangan TB dilaksanakan melalui promosi, penggalangan kerja sama dan kemitraan dengan program terkait, sektor pemerintah, non pemerintah dan swasta dalam wujud Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan TB (Gedurnas TB).
- Peningkatan kemampuan laboratorium di berbagai tingkat pelayanan ditujukan untuk peningkatan mutu pelayanan dan jejaring.
- Obat Anti Tuberkulosis (OAT) untuk penanggulangan TB diberikan kepada pasien secara cuma-cuma dan dijamin ketersediaannya.
- Ketersediaan sumberdaya manusia yang kompeten dalam jumlah yang memadai untuk meningkatkan dan mempertahankan kinerja program.
- Penanggulangan TB lebih diprioritaskan kepada kelompok miskin dan kelompok rentan terhadap TB.
- Penanggulangan TB harus berkolaborasi dengan penanggulangan HIV.
- Pasien TB tidak dijauhkan dari keluarga, masyarakat, dan pekerjaannya.
- Memperhatikan komitmen internasional yang termuat dalam Millenium Development Goals (MDGs).(2)
Adapun Kebijakan Strategi DOTS untuk penanggulangan TB adalah:
- Komitmen politis (pemerintah, manajemen, staff)
- Pemeriksaan dahak mikroskopis (BTA, SPS) yang terjamin mutunya.
- Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan tatalaksana kasus yang tepat, termasuk pengawasan langsung pengobatan (PMO).
- Jaminan ketersedian OAT yang bermutu.
- Sistem pencatatan dan pelaporan penderita dan kinerja program secara keseluruhan.(22)
2.2.Sistem Informasi Geografi (SIG)
2.2.1. Pengertian Sistem Informasi Geografis
Sistem Informasi Geografis (SIG) diartikan sebagai sistem informasi yang digunakan untuk memasukkan, menyimpan, memangggil kembali, mengolah, menganalisis dan menghasilkan data bereferensi geografis atau data geospasial, untuk mendukung pengambilan keputusan dalam perencanaan dan pengelolaan penggunaan lahan, sumber daya alam, lingkungan transportasi, fasilitas kota, dan pelayanan umum lainnya.(23) SIG dirancang untuk mengumpulkan, menyimpan dan menganalisis suatu obyek dimana lokasi geografis merupakan karakteristik yang penting, dan memerlukan analisis yang kritis..(17)
Menurut Depkes (2006) SIG merupakan paket perangkat keras dan lunak komputer, data geografis dan personil yang didesain untuk menghimpun, menyimpan, memperbaharui, memanipulasi, menganalisis dan menampilkan berbagai bentuk informasi dengan referensi geografis. SIG dapat digunakan secara interaktif untuk pengambilan keputusan. Pengembangan SIG penting untuk penanganan data lingkungan yang diperoleh dari satelit dan dapat meramalkan kejadian penyakit, SIG terdiri dari sistem kartografi, sistem digitasi peta, sistem manajemen database, sistim analisis ilmu bumi, sistem pengolahan citra dan sistem analisis statistik.(24) Selain itu, SIG adalah suatu teknologi yang digunakan untuk menganalisa data dari persfektif geografi. SIG menghubungkan lokasi dengan informasi, seperti orang dengan alamat-alamatnya, gedung, atau jalan-jalan dengan informasi jaringan.(25)
Menurut Prof. Jacob Rais (2001), SIG adalah:
“Sistem Informasi berbasis komputer dengan memakai data digital berujuk pada lokasi geografis di muka bumi.”(26)
Menurut ESRI Canada ( ESRI, 2001 ), Geografis information System is:
“a system of computer software, hardware and data, and personnel to help manipulate, analyze and present information that is tied to a spatial location.”(25) (Sebuah sistem perangkat lunak komputer, perangkat keras dan data, serta manusia untuk membantu memanipulasi, menganalisis dan menyajikan informasi yang terkait dengan lokasi spasial).
2.2.2. Subsistem dan Komponen Sistem Informasi Geografi
- a. Subsistem SIG
Dari seluruh definisi diatas menjabarkan subsistem atau fungsi yang sama dalam SIG. Subsistem yang terdapat pada SIG adalah:
1) Subsistem Input Data
Subsistem input data adalah sebuah proses perolehan data baik data spasial ataupun data tabular dan deskriptif ke dalam SIG. Peroleh data berupa perekaman, duplikasi, konversi, dan digitasi data.
2) Subsistem Penyimpanan dan Pengelolaan Data
Subsistem penyimpanan dan pengolahan data merupakan rangkaian proses menyimpan, menata, menyusun dan mengorganisasi data baik spasial, tabular dan deskriptif hasil dari proses perolehan data pada suatu tipe data tertentu menggunakan tata aturan tertentu. Subsistem ini menggunakan metode yang memungkinan kemudahan dalam proses pencarian dan pengubahan data tersebut.
3) Subsistem manipulasi dan analisis data spasial
Subsistem ini merupakan hal yang sangat penting dalam SIG. Kemampuan analisis data spasial merupakan ciri pokok yang harus dimiliki oleh SIG. Subsistem ini yang membedakan dengan sistem informasi lain. Subsistem ini melakukan berbagai proses penggabungan, pemisahan, pengubahan, estimasi, dan pemodelan data spasial.
SIG menggunakan peta sebagai dasar analisis spasial dengan dipadukan berbagai data atribut. Data spasial dan atribut ini dalam bentuk digital. SIG menggunakan data digital berbasis komputer dalam prosesnya, sehingga memungkinkan kemudahan pengolahan dan perubahan dimasa yang akan datang.
Pada SIG modern saat ini, banyak tipe data yang dapat diakses dan diolah oleh sistem, disamping data vektor yang banyak digunakan pada SIG. Data raster seperti foto, citra satelit atau bahkan data video dapat diaplikasikan dalam SIG. Kemampuan mengolah tipe data ini memberikan nilai lebih pada SIG dalam penyelesaian permasalahan data spasial.
Sistem informasi geografis (SIG) memiliki karakteristik pendekatan dan analisis secara spasial. Cara pandang spasial ini yang pada akhirnya memudahkan pengguna sistem informasi melakukan pendekatan, pemahaman dan pengambilan kesimpulan terhadap sebuah permasalahan yang muncul dari sebuah fenomena. Kemampuan SIG dalam pengolahan basis data non spasial dan menggabungkannya dengan data spasial yang ada meningkatkan kemampuan performa SIG dibandingkan sistem informasi lain yang ada.
Pendekatan-pendekatan kelokasian atau lebih dikenal dengan istilah pendekatan keruangan/spasial sangat penting dalam melakukan analisis-analisis fenomena yang terjadi di bumi ini, baik itu yang sifatnya fisik maupun yang bersifat sosial kemasyarakatan seperti ekonomi, politik, lingkungan, dan budaya. Karena, jika fenomena itu bisa ditangkap informasinya secara utuh berikut lokasi dan polanya, hal tersebut bisa membantu dalam menyelesaikan atau mencari solusi dari permasalahan terkait muka bumi.
4) Subsistem hasil dan pelaporan data
Hasil dari subsistem ini berupa laporan dalam bentuk peta-peta, uraian deskriptif, tabel, grafik, dan citra. Subsistem ini harus dapat diolah pada rangkaian kerja berikutnya pada waktu lain. Hasil dari subsistem ini bukan merupakan hasil akhir tetapi dapat sebagai data dasar dalam proses analisis yang lain.(23,27)
- b. Komponen SIG
Secara umum, sistem informasi geografis bekerja berdasarkan integrasi komponen, yaitu: Hardware, Software, Data, Brainware, dan Metode. Kelima komponen tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Hardware (Perangkat Keras)
Perangkat keras SIG berupa komputer beserta instrumennya (perangkat pendukungnya). Data yang terdapat dalam SIG diolah melalui perangkat keras. Perangkat keras dalam SIG terbagi menjadi tiga kelompok yaitu:
a) Alat masukan (input) sebagai alat untuk memasukkan data ke dalam jaringan komputer. Contoh: Scanner, digitizer, CD-ROM.
b) Alat pemrosesan, merupakan sistem dalam komputer yang berfungsi mengolah, menganalisis dan menyimpan data yang masuk sesuai kebutuhan, contoh: CPU, tape drive, disk drive.
c) Alat keluaran (ouput) yang berfungsi menayangkan informasi geografi sebagai data dalam proses SIG, contoh: VDU, plotter, printer.
2) Software (Perangkat Lunak)
Perangkat lunak, merupakan sistem modul yang berfungsi untuk memasukkan, menyimpan dan mengeluarkan data yang diperlukan. Sebuah software SIG haruslah menyediakan fungsi dan tool yang mampu melakukan penyimpanan data, analisis, dan menampilkan informasi geografis.
Dengan demikian elemen yang harus terdapat dalam komponen software SIG adalah:
a) Tools untuk melakukan input dan transformasi data geografis.
b) Sistem Manajemen Basis Data.
c) Tools yang mendukung query geografis, analisis, dan visualisasi.
d) Geographical User Interface (GUI) untuk memudahkan akses pada tool geografi.
3) Data
Hal yang merupakan komponen penting dalam SIG adalah data. Secara fundamental, SIG bekerja dengan 2 tipe model data geografis, yaitu model data vector dan model data raster.
Dalam model data vector, informasi posisi point, garis, dan polygon disimpan dalam bentuk koordinat x,y. Bentuk garis, seperti jalan dan sungai dideskripsikan sebagai kumpulan dari koordinat-koordinat point. Bentuk polygon, seperti daerah penjualan disimpan sebagai pengulangan koordinat yang tertutup. Data raster terdiri dari sekumpulan grid atau sel seperti peta hasil scanning maupun gambar atau image. Masing-masing grid memiliki nilai tertentu yang bergantung pada bagaimana image tersebut digambarkan.
Adapun komponen-komponen data (informasi) dalam SIG adalah :
a) Komponen Posisi Geografis
Komponen ini berupa sistem koordinat geografis berbasis pada model matematis yang dapat ditransformasikan pada sistem yang lain. Koordinat geografis menunjukkan lokasi fenomena yang sering digambarkan dengan koordinat kartesius, easting-northing, ataupun latitude-longitude.
b) Komponen Spasial
Komponen spasial ini merupakan suatu hubungan topologis antar komponen dari entitas data spasial seperti hubungan antara titik dengan titik, titik dengan garis, titik dengan area garis dengan garis, garis dengan area, dan area dengan area yang lainnya. Hubungan ini menjelaskan posisi relatif suatu fenomena, kaitan sebab akibat fenomena, arah, keterkaitan, dan lain-lain.
c) Komponen Atribut
Komponen atribut merupakan data deskribtif dari sebuah obyek data spasial. Komponen atribut ini dapat berupa data tabular, data deskriptif (seperti laporan dan sensus), gambar, grafik, bahkan foto atau data video. Atribut memberikan penjelasan mengenai kualitas dan kuantitas fenomena.
d) Komponen waktu
Komponen waktu merupakan informasi fenomena antar waktu dari data spasial tersebut. Fenomena dijelaskan dengan pembandingan fenomena yang sama dalam waktu yang berbeda, dari satu waktu ke waktu yang lainnya. Komponen ini memberikan penjelasan mengenai berbagai kemungkinan perubahan dan perkembangan kualitas ataupun kuantitas data spasial.
Dengan komponen informasi geografis ini, SIG mampu memberikan gambaran yang komprehensif tentang sebuah fenomena data spasial baik dari sisi lokasi, keterkaitannya dengan fenomena spasial lain, kualitas dan kuantitas fenomena dan perubahannya antar waktu.
4) Brainware (Intelegensi manusia)
Intelegensi manusia merupakan kemampuan manusia dalam pengelolaan dan pemanfaatan SIG secara efektif. Komponen manusia memegang peranan yang sangat menentukan, karena tanpa manusia maka sistem tersebut tidak dapat diaplikasikan dengan baik. Jadi manusia menjadi komponen yang mengendalikan suatu sistem sehingga menghasilkan suatu analisis yang dibutuhkan.
5) Metode
SIG yang baik memiliki keserasian antara rencana desain yang baik dan aturan dunia nyata, dimana metode, model dan implementasi akan berbeda untuk setiap permasalahan.(27,28)
- c. Manfaat SIG
Penerapan pertama kali SIG dipelopori oleh Jhon Snow ketika membuat peta pompa air pada saat wabah kolera pada abad 19. Pemanfaatan SIG dalam bidang kesehatan dapat dilihat pada aplikasi penanganan kesehatan misalnya, penggunaan SIG untuk memutuskan di kawasan mana pusat layanan kesehatan baru akan didirikan berdasarkan atas data-data kependudukan. Selanjutnya, berdasarkan sistem informasi tersebut kita dapat menarik informasi dari peta yang tersedia dalam aplikasi SIG tersebut, atau sebaliknya, memperoleh informasi mengenai peta kawasan tertentu. Proses untuk membuat (menggambar) peta dengan SIG jauh lebih fleksibel, bahkan dibanding dengan menggambar peta secara manual, atau dengan pendekatan kartografi yang serba otomatis.(24)
Selain itu, Sistem informasi geografis dapat dimanfaatkan untuk membuat peta kabupaten mencakup batas administrasi, topografi, tata ruang dan tutupan lahan serta hidrologi. Informasi lain yang penting bagi program kesehatan masyarakat, seperti fasilitas kesehatan, sekolah, tempat perindukan nyamuk serta data epidemiolgi dapat pula ditambahkan. Sumber daya kesehatan, penyakit tertentu dan kejadian kesehatan lain dapat dipetakan menurut lingkungan sekeliling dan infrastrukturnya. Informasi semacam ini ketika dipetakan sekaligus akan menjadi alat yang amat berguna untuk memetakan risiko penyakit, identifikasi pola distribusi penyakit, memantau surveilans dan kegiatan penanggulangan penyakit, mengevaluasi aksesibilitas ke fasilitas pelayanan kesehatan dan memperkirakan jangkauan wabah penyakit.(25)
2.3. Kerangka Konsep
| Gambaran Spasial |
| Gambaran Temporal |
|
|
|
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1.Desain Penelitian
Desain penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif dan penelitian ekologi (tempat) dengan pendekatan spasial Sistem Informasi geografi untuk melihat distribusi kejadian TB berdasarkan wilayah kecamatan di Kota Padang tahun 2007-2009.(29)
3.2.Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kota Padang pada bulan Maret-April tahun 2010.
3.3.Jenis dan Cara Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan untuk analisa spasial adalah data sekunder, yaitu data register TB paru tahun 2009 yang berasal dari Puskesmas dan Rumah Sakit di Dinas Kesehatan Kota Padang dan data Program TB Paru se Kota Padang yang diperoleh dari laporan Program TB bagian P2P Dinas Kesehatan Kota Padang tahun 2009. Register TB ini berisi identitas penderita, unit pelayanan kesehatan tempat pemeriksaan, tanggal mulai berobat, Klasifikasi, tipe penderita, hasil pemeriksaan dahak dan tanggal berhenti berobat.
Sedangkan data yang dikumpulkan untuk analisa temporal adalah data sekunder, yaitu data register TB paru tahun 2007-2009 yang berasal dari Puskesmas dan Rumah Sakit di Dinas Kesehatan Kota Padang dan data Program TB Paru se Kota Padang tahun 2007-2009 yang diperoleh dari laporan Program TB bagian P2P Dinas Kesehatan Kota Padang.
3.4.Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penderita TB paru dengan hasil pemeriksaan BTA+ yang berada di Kota Padang dan tercatat dalam register tuberkulosis Dinas Kesehatan Kota Padang tahun 2007-2009, yaitu berjumlah 1472 Kasus. Selain itu, populasi dalam penelitian ini adalah populasi wilayah (Area Population), yaitu segmen-segmen wilayah yang mengandung jumlah unit penelitian, seperti : keseluruhan kecamatan yang ada di Kota Padang.
Sampel untuk penelitian ini yaitu seluruh populasi penelitian yaitu seluruh penderita TB BTA+, yang memenuhi kriteria inklusi yaitu penderita TB BTA+ yang alamatnya lengkap.
3.5.Pengolahan dan Analisis Data
Pengolahan dan analisis data dilakukan pada data sekunder TB yang diperoleh dari laporan Program TB bagian P2P Dinas Kesehatan Kota Padang tahun 2007-2009 dengan menggunakan software Arview GIS 3.3 untuk menggambarkan distribusi kejadian TB di Kota Padang tahun 2009. Untuk analisa temporal digunakan data TB tahun 2007-2009, sehingga dapat digambarkan tren bulan dengan kasus TB terbanyak.
Data yang berasal dari Register TB di kelompokkan berdasarkan kecamatan yang ada di Kota Padang, kemudian dimasukkan ke dalam field Atributif pada tabel atribut peta Kota Padang pada software Arview GIS 3.3. Setelah dimasukkan dalam tabel, maka data dapat di kelompokkan berdasarkan warna yang dikategorikan, sehingga data dapat disajikan dalam bentuk peta.
3.6.Defenisi Operasional
- Kejadian TB adalah penderita TB paru berdasarkan diagnosa dokter dan didukung dengan hasil pemeriksaan BTA+.
Alat Ukur : Cheklis
Cara Ukur : Dokumentasi
Skala Ukur : Nominal
Hasil Ukur : Kasus baru dan kasus kambuh
- Gambaran spasial merupakan studi kewilayahan atau tempat. Penelitian dilakukan dengan pendekatan spasial yaitu menggambarkan kejadian TB paru berdasarkan wilayah kecamatan di Kota Padang. Jumlah Penderita TB BTA+ akan digambarkan berdasarkan kecamatan di Kota Padang Tahun 2009.
Alat Ukur : Cheklis
Cara Ukur : Dokumentasi
Skala Ukur : Nominal
Hasil Ukur :
1) Penemuan TB BTA+ per kecamatan :
a) rendah : 0-35%
b) sedang : 36-69%
c) tinggi (sesuai target) : ≥ 70%
2) Kejadian TB :
a) Kecamatan dengan kejadian TB tertinggi di Kota Padang
b) Kecamatan dengan kejadian TB terendah di Kota Padang
c) Distribusi TB berdasarkan karasteristik orang disajikan dalam peta
- Gambaran temporal adalah studi berdasarkan waktu. Penelitian menggambarkan waktu kejadian TB paru yang digambarkan berdasarkan bulan, yaitu melihat bulan dengan kejadian TB terbanyak di Kota Padang. Untuk melihat tren ini digunakan data TB dari tahun 2007-2009 sehingga dapat digambarkan tren bulan dengan kasus TB terbanyak.
Alat Ukur : Cheklis
Cara Ukur : Dokumentasi
Skala Ukur : Nominal
Hasil Ukur : Tren bulan dengan kasus TB terbanyak.