Feeds:
Posts
Comments

STUDI EPIDEMIOLOGI TB PARU

DENGAN PENDEKATAN SPASIAL DAN TEMPORAL  SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

DI KOTA PADANG TAHUN 2007-2009

Usulan Penelitian Skripsi

Diajukan ke Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Univesitas Andalas sebagai Pemenuhan Syarat untuk Melaksanakan

Penelitian Skripsi Sarjana Kesehatan Masyarakat

Oleh :

MAIYULIA FITRI

No. BP.  06122013

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS

PADANG, 2010


BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Penyakit Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit kronis (menahun) yang telah lama dikenal oleh masyarakat luas dan ditakuti karena menular.(1) Tuberkulosis disebabkan oleh kuman Micobacterium tuberculosis dan muncul sebagai epidemi kesehatan masyarakat.(2,3)

Tuberkulosis merupakan salah satu penyakit infeksi penting penyebab morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia dan setiap negara berbeda angka insidennya.(4) Sekitar sepertiga populasi dunia diperkirakan telah terinfeksi kuman Micobacterium tuberculosis dengan angka kematian tiga juta orang pertahun, atau 8000 setiap harinya, maka setiap detiknya ada satu orang terinfeksi Micobacterium tuberculosis dan dalam dekade mendatang tidak kurang dari 300 juta orang akan terinfeksi oleh Micobacterium tuberculosis.(4,5) World Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa lebih dari 1,7 milyar orang diseluruh dunia telah terinfeksi Micobacterium tuberculosis dan sekitar 10% berkembang menjadi penyakit.(4)

Laporan WHO tahun 2004 menyebutkan bahwa terdapat 8,8 juta kasus baru TB pada tahun 2002, dengan kasus BTA+ sebanyak 3,9 juta.(6) Secara global, terdapat sekitar 9,27 juta insiden kasus TB pada tahun 2007. Kasus ini meningkat dari 9,24 juta kasus pada tahun 2006, 8,3 juta kasus pada tahun 2000 dan 6,6 juta kasus pada tahun 1990. Sebagian besar dari perkiraan jumlah kasus tahun 2007 berada di Asia (55%) dan di Afrika (31%), dengan proporsi kecil kasus di wilayah Mediterania Timur (6%), Kawasan Eropa (5%) dan Amerika (3%). Lima negara yang menjadi peringkat pertama untuk kejadian TB, dalam hal jumlah total kasus pada tahun 2007 adalah India (2,0 juta), Cina (1,3 juta), Indonesia (0,53 juta), Nigeria (0,46 juta) dan Afrika Selatan (0,46 juta).(7)

Di dunia tercatat ada 22 negara dengan jumlah kasus TB terbanyak, dan 22 negara ini disebut sebagai high burden countries. Indonesia termasuk dalam negara high burden countries.(8) Indonesia tercatat sebagai negara yang memberikan konstribusi penderita TB nomor tiga terbesar di dunia setelah India dan Cina.(9)

Di Indonesia penyakit TB masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dan jumlah penderita TB dari tahun ke tahun terus meningkat.(2) Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 2004, TB merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan saluran nafas, dan nomor satu di antara penyakit infeksi.(10)

Data tahun 2008, kasus TB BTA+ yang ditemukan di Indonesia sebesar 166.376 kasus dari perkiraan 298.392 kasus. Case Detection Rate (CDR) TB di Indonesia yaitu 72,82%. Case Detection Rate dan success rate (SR) TB di Indonesia memperlihatkan kenaikan dari tahun ke tahun, tahun 2005 CDR dan SR TB yaitu 54,0% dan 91,0 %, pada tahun 2006 terjadi kenaikan CDR yaitu 76,0%, tahun 2007 terjadi penurunan yaitu hanya 69,1% dan tahun 2008 terjadi kenaikan CDR yaitu 72,8% tetapi SR mengalami penurunan yaitu 87%.(11)

Kasus baru TB di Indonesia menurut laporan WHO (2009) adalah 119 per 100.000 penduduk.(7) Data insiden TB BTA+ menurut jenis kelamin memperlihatkan bahwa kasus tertinggi terjadi pada kelompok jenis kelamin laki-laki yaitu 94.518 (58,80%), sedangkan insiden pada perempuan yaitu 66.223 kasus (41,20%).(11)

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2007, secara nasional Prevalensi TB adalah 0,99%. Sebanyak 17 provinsi mempunyai prevalensi Tuberkulosis diatas prevalensi nasional dan Sumatera Barat termasuk kedalam 17 provinsi dengan prevalensi TB diatas prevalensi nasional.(12)

Angka perkiraan penderita TB di Sumatera Barat pada tahun 2007 adalah 3.693 orang, dan kasus sembuh sebanyak 2.995 orang (82,76%). Perkiraan CDR pada tahun 2007 adalah 48,3%  terjadi penurunan CDR dari tahun 2006 yaitu 50,1%.(13)

Di Sumatera Barat, cakupan penemuan penderita TB BTA+ atau CDR tahun 2008 berdasarkan laporan tahunan 2009 adalah 45,8%, angka ini sedikit menurun jika dibandingkan dengan pencapaian tahun 2007 sebesar 48,0 %. Namun, dari hasil pengobatan kasus yang diobati pada tahun 2008 menunjukan hasil yang menggembirakan, dimana telah dapat dicapai angka SR sebesar 88,2%.(14)

Berdasarkan laporan tahunan dinas kesehatan Sumatera Barat, tahun 2006 Kota Padang merupakan kota dengan penemuan kasus TB BTA+ tertinggi di Sumatera Barat yaitu 662 kasus, diikuti Kabupaten Pariaman 455 kasus dan Kabupaten Agam 413 kasus.(13)

Perkiraan penemuan penderita TB BTA+ di kota Padang mengalami kenaikan pada tiga tahun terakhir. Tahun 2007 ditemukan penderita TB BTA+ sebesar 585 orang, tahun 2008 yaitu 699 kasus dari perkiraan 4841 kasus, dan tahun 2009 penderita TB BTA+ sebesar 784 kasus dari perkiraan 5216 kasus.(15)

Sistem surveilens TB di Indonesia secara nasional berada di bawah pengawasan Direktorat Jenderal PP-PL (Pemberantasan penyakit dan penyehatan lingkungan) Departemen Kesehatan RI.(16) Untuk perencanaan pengendalian penyakit, sistem surveilen sebaiknya mengidentifikasi lokasi penderita agar dapat dipetakan dengan menggunakan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG). Sistem Informasi Geografis merupakan sistem berbasis komputer yang didesain untuk mengumpulkan, mengolah, memanipulasi, dan menampilkan informasi spasial (keruangan). Data yang digunakan dan dianalisis dalam suatu SIG yaitu berbentuk data peta (spasial).(17)

Sistem informasi geografis dapat dimanfaatkan untuk membuat peta kabupaten dan mendapatkan informasi seperti: fasilitas kesehatan, sekolah dan data epidemiologi. Informasi ini ketika dipetakan, akan menjadi alat yang berguna untuk memetakan risiko penyakit, identifikasi pola distribusi penyakit, memantau surveilens dan kegiatan penanggulangan penyakit, mengevaluasi aksebilitas ke fasilitas pelayanan kesehatan dan memperkirakan jangkauan wabah penyakit.(18) Di Kota Padang penelitian tentang TB sudah banyak dilakukan, tetapi belum ada penelitian yang mengkaji TB dengan tinjauan aspek spasial.

Aspek spasial (wilayah) ini penting untuk dikaji, karena antara satu wilayah dengan wilayah lain mempunyai perbedaan karakteristik. Keragaman karakteristik antar wilayah menentukan kualitas kesehatan pada daerah tersebut.(19) Kajian spasial Sistem Informasi Geografi yang berhubungan dengan TB BTA+ diharapkan dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pembuatan kebijakan dalam upaya penanggulangan TB.

1.2. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah diperolehnya gambaran spacial dan temporal TB di kota Padang tahun 2009 dengan pendekatan SIG.

Selain itu penelitian ini juga bertujuan untuk :

  1. Mengetahui kondisi spasial kejadian TB di Kota Padang
  2. Mengetahui gambaran distribusi TB menurut tren waktu di kota Padang
  3. Mengetahui kecamatan atau wilayah dengan kasus TB tertinggi di Kota Padang
  4. Mengetahui gambaran penemuan kasus TB di kecamatan atau wilayah di Kota Padang tahun 2009.

1.3. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah :

  1. Bagi peneliti

Meningkatkan kemampuan peneliti dalam menganalisis masalah dan menambah wawasan peneliti tentang TB dan meningkatkan keterampilan peneliti melakukan analisis spasial dan temporal dengan pendekatan SIG.

  1. Bagi Dinas Kesehatan Kota Padang

Sebagai masukan, pertimbangan dan informasi bagi  pihak Dinas Kesehatan Kota Padang terutama bagian penganggulangan TB, untuk perencanaan upaya pencegahan dan penanggulangan kejadian TB di kota Padang.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Tuberkulosis

2.1.1. Pengertian Tuberkulosis

Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi kronis menular langsung yang disebabkan oleh bakteri Micobacterium tuberculosis. Tuberkulosis dapat menyerang berbagai organ tubuh manusia, namun lebih sering menyerang organ pernapasan atau paru.(2,20,21)

2.1.2. Penyebab Tuberkulosis

Penyakit TB disebabkan oleh bakteri Micobacterium tuberculosis. Bakteri ini berbentuk batang yang mengelompok (koloni) dan bersifat tahan asam sehingga dikenal juga sebagai Batang Tahan Asam (BTA).(2,21)

2.1.3. Cara Penularan Tuberkulosis

Sumber dari penularan TB adalah penderita dengan TB BTA+ yaitu penderita yang dahaknya megandung kuman Micobacterium tuberculosis. Penularan TB terjadi melalui udara saat penderita batuk, bersin dan berbicara. Pada saat penderita batuk, bersin dan berbicara, penderita akan menyebarkan kuman Micobacterium tuberculosis ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei). Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak.(2,8)

Penularan terjadi jika orang menghirup kuman Micobacterium tuberculosis yang dihasilkan dari percikan penderita tadi. Umumnya, penularan terjadi didalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu yang lama. Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman Micobacterium tuberculosis yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derjat kepositifan hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita tesebut. Faktor yang memungkinkan sesorang terpajan TB ditentukan oleh konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara yang mengandung percikan tersebut.(2,8,21)

Semua orang dapat terinfeksi TB, baik itu laki-laki, perempuan, tua, muda, kaya maupun miskin, terutama yang tinggal di dalam rumah yang gelap, lembab, dan ventilasi udara yang tidak baik.  Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan yang gelap dan lembab. Ventilasi yang baik dapat mengurangi jumlah percikan, sementara itu, sinar matahari langsung dapat membunuh kuman Micobacterium tuberculosis.(8)

2.1.4. Gejala Tuberkulosis

Penderita TB akan mengalami berbagai gangguan kesehatan, seperti batuk berdahak kronis, demam subfebril, berkeringat tanpa sebab di malam hari, sesak napas, nyeri dada, dan penurunan nafsu makan. Semuanya itu dapat menurunkan produktivitas penderita bahkan kematian. Adapun gejala utama penderita TB yaitu batuk terus-menerus dan berdahak selama 3 minggu atau lebih. Selain itu, gejala yang sering dijumpai yaitu dahak bercampur darah, batuk darah, sesak nafas dan rasa nyeri dada, badan lemah, nafsu makan menurun, berat badan menurun, rasa kurang enak badan (malaise), berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan, dan demam meriang lebih dari satu bulan.(2,8)

Gejala-gejala tersebut diatas dijumpai pula pada penyakit paru selain TB. Oleh sebab itu orang yang datang dengan gejala diatas harus dianggap sebagai seorang “suspek tuberkulosis” atau tersangka penderita TB, dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung. Selain itu, semua kontak penderita TB Paru BTA+ dengan gejala sama, harus diperiksa dahaknya. (2,8)

2.1.5. Penemuan Penderita

Kegiatan penemuan penderita terdiri dari penjaringan suspek, diagnosa, penentuan klasifikasi penyakit dan tipe penderita. Penemuan penderita merupakan langkah pertama dalam kegiatan penanggulangan TB. Penemuan dan penyembuhan penderita TB menular, secara bermakna akan dapat menurunkan kesakitan dan kematian akibat TB, penularan TB pada masyarakat dan sekaligus merupakan kegiatan pencegahan penularan TB yang efektif di masyarakat dengan strategi penemuan:

  1. Penemuan penderita TB dilakukan secara Passive Promotive Case Finding yaitu penemuan penderita secara pasif dengan promosi aktif. Penjaringan tersangka penderita TB dilakukan di unit pelayanan kesehatan; didukung dengan penyuluhan yang aktif, baik oleh petugas kesehatan maupun masyarakat, untuk meningkatkan penemuan tersangka penderita TB.
  2. Pemeriksaan terhadap kontak pasien TB, terutama mereka yang BTA+ dan pada keluarga anak yang menderita TB yang menunjukkan gejala yang sama, harus diperiksa dahaknya.
  3. Penemuan secara aktif dari rumah ke rumah, dianggap tidak Cost Efektif.

Penemuan penderita untuk program penanggulangan TB di Indonesia ditargetkan minimal adalah 70%. Tingkat penemuan ini menggambarkan cakupan penemuan penderita baru TB BTA+ pada wilayah tertentu.(2)

2.1.6. Diagnosis Penderita

Cara mendiagnosis penderita TB adalah:

  1. Semua suspek TB diperiksa tiga spesimen dahak dalam waktu dua hari, yaitu Sewaktu-Pagi-Sewaktu (SPS):

1)          Sewaktu: spesimen (dahak) diambil sewaktu suspek datang pertama kali ke Puskesmas/Rumah Sakit dengan gejala batuk yang dicurigai. Kemudian suspek diberi satu pot spesimen lagi untuk dibawa pulang.

2)        Pagi: spesimen diambil pagi pas bangun tidur sebelum suspek melakukan aktifitas, yaitu sewaktu akan datang ke Puskesmas/Rumah Sakit bukan setiap hari. Spesimen dimasukkan ke dalam pot yang diberikan sewaktu pasien pertama kali ke Puskesmas/Rumah Sakit.

3)        Sewaktu: spesimen ketiga diambil sewaktu suspek tiba di Puskesmas/Rumah Sakit pada kunjungan selanjutnya. Setiba di Puskesmas/Rumah Sakit berikan satu pot lagi untuk tempat dahaknya di Puskesmas/Rumah Sakit tersebut.

  1. Diagnosa TB Paru  pada orang dewasa ditegakkan dengan ditemukannya kuman TB (BTA). Pada program TB nasional, penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan diagnosa utama. Pemeriksaan lain seperti foto toraks, biakan dan uji kepekaan dapat dilakukan sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya.
  2. Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan pemeriksaan foto toraks saja. Foto toraks tidak selalu memberikan gambaran yang khas pada TB Paru, sehingga sering terjadi overdiagnosis.
  3. Gambaran kelainan radiologik paru tidak selalu menunjukkan aktifitas penyakit.
  4. Untuk lebih jelasnya lihat alur prosedur diagnostik untuk suspek TB Paru.(2,22)

Pada sebagian besar TB Paru, diagnosis terutama ditegakkan dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis dan tidak memerlukan foto toraks. Namun pada kondisi tertentu pemeriksaan foto toraks perlu dilakukan sesuai dengan indikasi sebagai berikut:

  1. Hanya 1 spesimen dari tiga spesimen dahak SPS hasilnya BTA+. Pada kasus ini pemeriksaan foto toraks diperlukan untuk mendukung diagnosis TB BTA+. (lihat bagan 1.)
  2. Ketiga spesimen hasilnya tetap negatif setelah ketiga spesimen SPS pada pemeriksaan sebelumnya BTA- dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotik non OAT. (lihat bagan 1.)
  3. Pasien tersebut diduga mengalami komplikasi sesak nafas berat yang memerlukan penanganan khusus.(2)

Sumber: Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis Edisi Ke-2 Cetakan Pertama Tahun 2007

Gambar 2.1. Alur Diagnosis Penderita TB Paru


2.1.7. Klasifikasi dan Tipe Penderita Tuberkulosis

Penentuan klasifikasi penyakit dan tipe penderita TB memerlukan “definisi kasus” yang memberikan batasan baku dari setiap klasifikasi dan tipe penderita. Ada empat hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan definisi kasus, yaitu:

  1. Organ tubuh yang sakit : paru atau ekstra paru

1)        Tuberkulosis Paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan paru, tidak termasuk pleura (selaput paru). Berdasarkan pemeriksaan dahak, TB Paru dibagi menjadi 2 yaitu : Tuberkulosis Paru BTA positif (BTA+) dan Tuberkulosis Paru BTA negatif (BTA-).

2)        Tuberkulosis Ekstra Paru adalah tuberkulosis yang menyerang organ tubuh selain jaringan paru, misalnya pleura (selaput paru), selaput otak, selaput jantung, kelejar limfe, tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin dan lain-lain.(8)

  1. Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung, yaitu:

1)        Tuberkulosis BTA positif (BTA+)

a)      Sekurang-kurangnya dua sampai tiga spesimen dahak hasilnya BTA+.

b)      Satu spesimen dahak hasilnya BTA+ dan foto toraks dada menunjukkan gambaran tuberkulosis.

c)      Satu spesimen dahak hasilnya BTA+ dan biakan kuman TB Positif.

d)     Satu atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah tiga spesimen dahak pada pemeriksaan sebelumnya hasil BTA- dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibotik non OAT.

2)      Tuberkulosis BTA negatif (BTA-)

a)      Paling tidak tiga spesimen dahak hasilnya BTA negatif

b)      Foto toraks abnormal menunjukkan gambaran tuberkulosis

c)      Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotik non OAT

d)     Ditentukan (pertimbangan) oleh dokter untuk diberi pengobatan.(2,8,21)

  1. Klasifikasi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya

1)      Kasus Baru

Adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (empat minggu).

2)      Kasus Kambuh (Relaps)

Adalah pasien TB yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan TB dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, didiagnosis kembali dengan BTA positif (asupan atau kultur).

3)      Kasus setelah Putus Berobat (Defaul)

Adalah pasien yang telah berobat dan putus berobat  dua bulan atau lebih dengan BTA positif.

4)      Kasus setelah Gagal (Failure)

Adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.

5)      Kasus Pindahan (Transfer In)

Adalah pasien yang dipindahkan dari UPK yang memiliki register TB lain  untuk melanjutkan pengobatan.

6)      Kasus Lain

Adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan di atas. Dalam kelompok ini juga termasuk kasus kronik, yaitu pasien yang hasil pemeriksaan masih BTA positif setelah pengobatan ulangan.(2)

  1. Tingkat keparahan penyakit, yaitu: penyakit ringan dan penyakit berat. Penyakit TB berat bila gambaran foto toraks memperlihatakan gambaran kerusakan paru yang luas dan atau keadaan pasien buruk.(2,21)

2.1.8. Resiko Penularan Tuberkulosis

Resiko penularan setiap tahun Annul Risk of Tuberculosis Infektion (ARTI) tuberkulosis di Indonesia dianggap cukup tinggi (1-3%). Pada daerah dengan ARTI 1% dapat diperkirakan diantara 100.000 penduduk terjadi 100 penderita TB setiap tahunnya, dimana 50 penderita adalah BTA+ penularan akan lebih mudah terjadi pada hunian padat (over crowing), status sosial ekonomi yang tidak menguntungkan dan jenis pekerjaan.(16)

2.1.9. Kebijakan Penanggulangan Tuberkulosis

Kebijakan program penanggulangan TB Paru di Indonesia adalah sebagai berikut :

  1. Penanggulangan TB di Indonesia dilaksanakan dengan sesuai dengan asas desentralisasi dengan Kabupaten/Kota sebagai titik berat manajemen program dalam kerangka otonomi yang meliputi: perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi serta menjamin ketersediaan sumber daya (dana, tenaga, sarana dan prasarana).
  2. Penanggulangan TB dilaksanakan dengan menggunakan Stategi Directly Observed Treatment Short-course (DOTS).
  3. Penguatan kebijakan untuk meningkatkan komitmen daerah terhadap program penanggulangan TB.
  4. Penguatan strategi DOTS dan pengembangannya ditujukan terhadap penigkatan mutu pelayanan, kemudahan akses untuk penemuan dan pengobatan sehingga mampu memutus rantai penularan dan mencegah terjadi resistensi obat atau Multi Drug Resistance TB (MDR TB).
  5. Penemuan dan pengobatan dalam rangka penanggulangan TB dilaksanakan oleh seluruh Unit Pelayanan Kesehatan (UPK), meliputi Puskesmas, Rumah Sakit Pemerintah dan Swasta, Rumah Sakit Paru (RSP), Balai Pengobatan Penyakit Paru-paru (BP4), Klinik Pengobatan lain serta Dokter Praktek Swasta (DPS).
  6. Penangglangan TB dilaksanakan melalui promosi, penggalangan kerja sama dan kemitraan dengan program terkait, sektor pemerintah, non pemerintah dan swasta dalam wujud Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan TB (Gedurnas  TB).
  7. Peningkatan kemampuan laboratorium di berbagai tingkat pelayanan ditujukan untuk peningkatan mutu pelayanan dan jejaring.
  8. Obat Anti Tuberkulosis (OAT) untuk penanggulangan TB diberikan kepada pasien secara cuma-cuma dan dijamin ketersediaannya.
  9. Ketersediaan sumberdaya manusia yang kompeten dalam jumlah yang memadai untuk meningkatkan dan mempertahankan kinerja program.
  10. Penanggulangan TB lebih diprioritaskan kepada kelompok miskin dan kelompok rentan terhadap TB.
  11. Penanggulangan TB harus berkolaborasi dengan penanggulangan HIV.
  12. Pasien TB tidak dijauhkan dari keluarga, masyarakat, dan pekerjaannya.
  13. Memperhatikan komitmen internasional yang termuat dalam Millenium Development Goals (MDGs).(2)

Adapun Kebijakan Strategi DOTS untuk penanggulangan TB adalah:

  1. Komitmen politis (pemerintah, manajemen, staff)
  2. Pemeriksaan dahak mikroskopis (BTA, SPS) yang terjamin mutunya.
  3. Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan tatalaksana kasus yang tepat, termasuk pengawasan langsung  pengobatan (PMO).
  4. Jaminan ketersedian OAT yang bermutu.
  5. Sistem pencatatan dan pelaporan penderita dan kinerja program secara keseluruhan.(22)

2.2.Sistem Informasi Geografi (SIG)

2.2.1. Pengertian Sistem Informasi Geografis

Sistem Informasi Geografis (SIG) diartikan sebagai sistem informasi yang digunakan untuk memasukkan, menyimpan, memangggil kembali, mengolah, menganalisis dan menghasilkan data bereferensi geografis atau data geospasial, untuk mendukung pengambilan keputusan dalam perencanaan dan pengelolaan penggunaan lahan, sumber daya alam, lingkungan transportasi, fasilitas kota, dan pelayanan umum lainnya.(23) SIG dirancang untuk mengumpulkan, menyimpan dan menganalisis suatu obyek dimana lokasi geografis merupakan karakteristik yang penting, dan memerlukan analisis yang kritis..(17)

Menurut Depkes (2006) SIG merupakan paket perangkat keras dan lunak komputer, data geografis dan personil yang didesain untuk menghimpun, menyimpan, memperbaharui, memanipulasi, menganalisis dan menampilkan berbagai bentuk informasi dengan referensi geografis. SIG dapat digunakan secara interaktif untuk pengambilan keputusan. Pengembangan SIG penting untuk penanganan data lingkungan yang diperoleh dari satelit dan dapat meramalkan kejadian penyakit, SIG terdiri dari sistem kartografi, sistem digitasi peta, sistem manajemen database, sistim analisis ilmu bumi, sistem pengolahan citra dan sistem analisis statistik.(24) Selain itu, SIG adalah suatu teknologi yang digunakan untuk menganalisa data dari persfektif geografi. SIG menghubungkan lokasi dengan informasi, seperti orang dengan alamat-alamatnya, gedung, atau jalan-jalan dengan informasi jaringan.(25)

Menurut Prof. Jacob Rais (2001), SIG adalah:

“Sistem Informasi berbasis komputer dengan memakai data digital berujuk pada lokasi geografis di muka bumi.”(26)

Menurut ESRI Canada ( ESRI, 2001 ), Geografis information System is:

“a system of computer software, hardware and data, and personnel to help manipulate, analyze and present information that is tied to a spatial location.”(25) (Sebuah sistem perangkat lunak komputer, perangkat keras dan data, serta manusia untuk membantu memanipulasi, menganalisis dan menyajikan informasi yang terkait dengan lokasi spasial).

2.2.2. Subsistem dan Komponen Sistem Informasi Geografi

  1. a. Subsistem SIG

Dari seluruh definisi diatas  menjabarkan subsistem atau fungsi yang sama dalam SIG. Subsistem yang terdapat pada SIG adalah:

1)        Subsistem Input Data

Subsistem input data adalah sebuah proses perolehan data baik data spasial ataupun data tabular dan deskriptif ke dalam SIG. Peroleh data berupa perekaman, duplikasi, konversi, dan digitasi data.

2)        Subsistem Penyimpanan dan Pengelolaan Data

Subsistem penyimpanan dan pengolahan data merupakan rangkaian proses menyimpan, menata, menyusun dan mengorganisasi data baik spasial, tabular dan deskriptif hasil dari proses perolehan data pada suatu tipe data tertentu menggunakan tata aturan tertentu. Subsistem ini menggunakan metode yang memungkinan kemudahan dalam proses pencarian dan pengubahan data tersebut.

3)        Subsistem manipulasi dan analisis data spasial

Subsistem ini merupakan hal yang sangat penting dalam SIG. Kemampuan analisis data spasial merupakan ciri pokok yang harus dimiliki oleh SIG. Subsistem ini yang membedakan dengan sistem informasi lain. Subsistem ini melakukan berbagai proses penggabungan, pemisahan, pengubahan, estimasi, dan pemodelan data spasial.

SIG menggunakan peta sebagai dasar analisis spasial dengan dipadukan berbagai data atribut. Data spasial dan atribut ini dalam bentuk digital. SIG menggunakan data digital berbasis komputer dalam prosesnya, sehingga memungkinkan kemudahan pengolahan dan perubahan dimasa yang akan datang.

Pada SIG modern saat ini, banyak tipe data yang dapat diakses dan diolah oleh sistem, disamping data vektor yang banyak digunakan pada SIG. Data raster seperti foto, citra satelit atau bahkan data video dapat diaplikasikan dalam SIG. Kemampuan mengolah tipe data ini memberikan nilai lebih pada SIG dalam penyelesaian permasalahan data spasial.

Sistem informasi geografis (SIG) memiliki karakteristik pendekatan dan analisis secara spasial. Cara pandang spasial ini yang pada akhirnya memudahkan pengguna sistem informasi melakukan pendekatan, pemahaman dan pengambilan kesimpulan terhadap sebuah permasalahan yang muncul dari sebuah fenomena. Kemampuan SIG dalam pengolahan basis data non spasial dan menggabungkannya dengan data spasial yang ada meningkatkan kemampuan performa SIG dibandingkan sistem informasi lain yang ada.

Pendekatan-pendekatan kelokasian atau lebih dikenal dengan istilah pendekatan keruangan/spasial sangat penting dalam melakukan analisis-analisis fenomena yang terjadi di bumi ini, baik itu yang sifatnya fisik maupun yang bersifat sosial kemasyarakatan seperti ekonomi, politik, lingkungan, dan budaya. Karena, jika fenomena itu bisa ditangkap informasinya secara utuh berikut lokasi dan polanya, hal tersebut bisa membantu dalam menyelesaikan atau mencari solusi dari permasalahan terkait muka bumi.

4)        Subsistem hasil dan pelaporan data

Hasil dari subsistem ini berupa laporan dalam bentuk peta-peta, uraian deskriptif, tabel, grafik, dan citra. Subsistem ini harus dapat diolah pada rangkaian kerja berikutnya pada waktu lain. Hasil dari subsistem ini bukan merupakan hasil akhir tetapi dapat sebagai data dasar dalam proses analisis yang lain.(23,27)

  1. b. Komponen SIG

Secara umum, sistem informasi geografis bekerja berdasarkan integrasi komponen, yaitu: Hardware, Software, Data, Brainware, dan Metode. Kelima komponen tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

1)        Hardware (Perangkat Keras)

Perangkat keras SIG berupa komputer beserta instrumennya (perangkat pendukungnya). Data yang terdapat dalam SIG diolah melalui perangkat keras. Perangkat keras dalam SIG terbagi menjadi tiga kelompok yaitu:

a)         Alat masukan (input) sebagai alat untuk memasukkan data ke dalam jaringan komputer. Contoh: Scanner, digitizer, CD-ROM.

b)        Alat pemrosesan, merupakan sistem dalam komputer yang berfungsi mengolah, menganalisis dan menyimpan data yang masuk sesuai kebutuhan, contoh: CPU, tape drive, disk drive.

c)         Alat keluaran (ouput) yang berfungsi menayangkan informasi geografi sebagai data dalam proses SIG, contoh: VDU, plotter, printer.

2)        Software (Perangkat Lunak)

Perangkat lunak, merupakan sistem modul yang berfungsi untuk memasukkan, menyimpan dan mengeluarkan data yang diperlukan. Sebuah software SIG haruslah menyediakan fungsi dan tool yang mampu melakukan penyimpanan data, analisis, dan menampilkan informasi geografis.

Dengan demikian elemen yang harus terdapat dalam komponen software SIG adalah:

a)      Tools untuk melakukan input dan transformasi data geografis.

b)      Sistem Manajemen Basis Data.

c)      Tools yang mendukung query geografis, analisis, dan visualisasi.

d)     Geographical User Interface (GUI) untuk memudahkan akses pada tool geografi.

3)        Data

Hal yang merupakan komponen penting dalam SIG adalah data. Secara fundamental, SIG bekerja dengan 2 tipe model data geografis, yaitu model data vector dan model data raster.

Dalam model data vector, informasi posisi point, garis, dan polygon disimpan dalam bentuk koordinat x,y. Bentuk garis, seperti jalan dan sungai dideskripsikan sebagai kumpulan dari koordinat-koordinat point. Bentuk polygon, seperti daerah penjualan disimpan sebagai pengulangan koordinat yang tertutup. Data raster terdiri dari sekumpulan grid atau sel seperti peta hasil scanning maupun gambar atau image. Masing-masing grid memiliki nilai tertentu yang bergantung pada bagaimana image tersebut digambarkan.

Adapun komponen-komponen data (informasi) dalam SIG adalah :

a)         Komponen Posisi Geografis

Komponen ini berupa sistem koordinat geografis berbasis pada model matematis yang dapat ditransformasikan pada sistem yang lain. Koordinat geografis menunjukkan lokasi fenomena yang sering digambarkan dengan koordinat kartesius, easting-northing, ataupun latitude-longitude.

b)        Komponen Spasial

Komponen spasial ini merupakan suatu hubungan topologis antar komponen dari entitas data spasial seperti hubungan antara titik dengan titik, titik dengan garis, titik dengan area garis dengan garis, garis dengan area, dan area dengan area yang lainnya. Hubungan ini menjelaskan posisi relatif suatu fenomena, kaitan sebab akibat fenomena, arah, keterkaitan, dan lain-lain.

c)         Komponen Atribut

Komponen atribut merupakan data deskribtif dari sebuah obyek data spasial. Komponen atribut ini dapat berupa data tabular, data deskriptif (seperti laporan dan sensus), gambar, grafik, bahkan foto atau data video. Atribut memberikan penjelasan mengenai kualitas dan kuantitas fenomena.

d)        Komponen waktu

Komponen waktu merupakan informasi fenomena antar waktu dari data spasial tersebut. Fenomena dijelaskan dengan pembandingan fenomena yang sama dalam waktu yang berbeda, dari satu waktu ke waktu yang lainnya. Komponen ini memberikan penjelasan mengenai berbagai kemungkinan perubahan dan perkembangan kualitas ataupun kuantitas data spasial.

Dengan komponen informasi geografis ini, SIG mampu memberikan gambaran yang komprehensif  tentang sebuah fenomena data spasial baik dari sisi lokasi, keterkaitannya dengan fenomena spasial lain, kualitas dan kuantitas fenomena dan perubahannya antar waktu.

4)        Brainware (Intelegensi manusia)

Intelegensi manusia merupakan kemampuan manusia dalam pengelolaan dan pemanfaatan SIG secara efektif. Komponen manusia memegang peranan yang sangat menentukan, karena tanpa manusia maka sistem tersebut tidak dapat diaplikasikan dengan baik. Jadi manusia menjadi komponen yang mengendalikan suatu sistem sehingga menghasilkan suatu analisis yang dibutuhkan.

5)        Metode

SIG yang baik memiliki keserasian antara rencana desain yang baik dan aturan dunia nyata, dimana metode, model dan implementasi akan berbeda untuk setiap permasalahan.(27,28)

  1. c. Manfaat SIG

Penerapan pertama kali SIG dipelopori oleh Jhon Snow ketika membuat peta pompa air pada saat wabah kolera pada abad 19. Pemanfaatan SIG dalam bidang kesehatan dapat dilihat pada aplikasi penanganan kesehatan misalnya, penggunaan SIG untuk memutuskan di kawasan mana pusat layanan kesehatan baru akan didirikan berdasarkan atas data-data kependudukan. Selanjutnya, berdasarkan sistem informasi tersebut kita dapat menarik informasi dari peta yang tersedia dalam aplikasi SIG tersebut, atau sebaliknya, memperoleh informasi mengenai peta kawasan tertentu. Proses untuk membuat (menggambar) peta dengan SIG jauh lebih fleksibel, bahkan dibanding dengan menggambar peta secara manual, atau dengan pendekatan kartografi yang serba otomatis.(24)

Selain itu, Sistem informasi geografis dapat dimanfaatkan untuk membuat peta kabupaten mencakup batas administrasi, topografi, tata ruang dan tutupan lahan serta hidrologi. Informasi lain yang penting bagi program kesehatan masyarakat, seperti fasilitas kesehatan, sekolah, tempat perindukan nyamuk serta data epidemiolgi dapat pula ditambahkan. Sumber daya kesehatan, penyakit tertentu dan kejadian kesehatan lain dapat dipetakan menurut lingkungan sekeliling dan infrastrukturnya. Informasi semacam ini ketika dipetakan sekaligus akan menjadi alat yang amat berguna untuk memetakan risiko penyakit, identifikasi pola distribusi penyakit, memantau surveilans dan kegiatan penanggulangan penyakit, mengevaluasi aksesibilitas ke fasilitas pelayanan kesehatan dan memperkirakan jangkauan wabah penyakit.(25)

2.3. Kerangka Konsep

Gambaran Spasial
Gambaran Temporal
Tren Kejadian TB paru BTA Positif  menurut waktu
  1. Penemuan TB BTA+  per kecamatan
  1. Kecamatan dengan kasus tertinggi
Kejadian TB Paru

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1.Desain Penelitian

Desain penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif dan penelitian ekologi (tempat) dengan pendekatan spasial Sistem Informasi geografi  untuk melihat distribusi kejadian TB berdasarkan wilayah kecamatan di Kota Padang tahun 2007-2009.(29)

3.2.Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kota Padang pada bulan Maret-April tahun 2010.

3.3.Jenis dan Cara Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan untuk analisa spasial adalah data sekunder, yaitu data register TB paru tahun 2009 yang berasal dari Puskesmas dan Rumah Sakit di Dinas Kesehatan Kota Padang dan data Program TB Paru se Kota Padang yang diperoleh dari laporan Program TB bagian P2P Dinas Kesehatan Kota Padang tahun 2009. Register TB ini berisi identitas penderita, unit pelayanan kesehatan tempat pemeriksaan, tanggal mulai berobat, Klasifikasi, tipe penderita, hasil pemeriksaan dahak dan tanggal berhenti berobat.

Sedangkan data yang dikumpulkan untuk analisa temporal adalah data sekunder, yaitu data register TB paru tahun 2007-2009 yang berasal dari Puskesmas dan Rumah Sakit di Dinas Kesehatan Kota Padang dan data Program TB Paru se Kota Padang tahun 2007-2009 yang diperoleh dari laporan Program TB bagian P2P Dinas Kesehatan Kota Padang.

3.4.Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penderita TB paru dengan hasil pemeriksaan BTA+ yang berada di Kota Padang dan tercatat dalam register tuberkulosis Dinas Kesehatan Kota Padang tahun 2007-2009, yaitu berjumlah 1472 Kasus. Selain itu, populasi dalam penelitian ini adalah populasi wilayah (Area Population), yaitu segmen-segmen wilayah yang mengandung jumlah unit penelitian, seperti : keseluruhan kecamatan yang ada di Kota Padang.

Sampel untuk penelitian ini yaitu seluruh populasi penelitian yaitu seluruh penderita TB BTA+, yang memenuhi kriteria inklusi yaitu penderita TB BTA+ yang alamatnya lengkap.

3.5.Pengolahan dan Analisis Data

Pengolahan dan analisis data dilakukan pada data sekunder TB yang diperoleh dari laporan Program TB bagian P2P Dinas Kesehatan Kota Padang tahun 2007-2009 dengan menggunakan software Arview GIS 3.3 untuk menggambarkan distribusi kejadian TB di Kota Padang tahun 2009. Untuk analisa temporal digunakan data TB tahun 2007-2009, sehingga dapat digambarkan tren bulan dengan kasus TB terbanyak.

Data yang berasal dari Register TB di kelompokkan berdasarkan kecamatan yang ada di Kota Padang, kemudian dimasukkan ke dalam field Atributif pada tabel atribut peta Kota Padang pada software Arview GIS 3.3. Setelah dimasukkan dalam tabel, maka data dapat di kelompokkan berdasarkan warna yang dikategorikan, sehingga data dapat disajikan dalam bentuk peta.

3.6.Defenisi Operasional

  1. Kejadian TB adalah penderita TB paru berdasarkan diagnosa dokter dan didukung dengan hasil pemeriksaan BTA+.

Alat Ukur             : Cheklis

Cara Ukur            : Dokumentasi

Skala Ukur           : Nominal

Hasil Ukur            : Kasus baru dan kasus kambuh

  1. Gambaran spasial merupakan studi kewilayahan atau tempat. Penelitian dilakukan dengan pendekatan spasial yaitu menggambarkan kejadian TB paru berdasarkan wilayah kecamatan di Kota Padang. Jumlah Penderita TB BTA+ akan digambarkan berdasarkan  kecamatan di Kota Padang Tahun 2009.

Alat Ukur             : Cheklis

Cara Ukur            : Dokumentasi

Skala Ukur           : Nominal

Hasil Ukur            :

1)      Penemuan TB BTA+ per kecamatan :

a)      rendah                              : 0-35%

b)      sedang                              : 36-69%

c)      tinggi (sesuai target)         : ≥ 70%

2)      Kejadian TB   :

a)      Kecamatan dengan kejadian TB tertinggi di Kota Padang

b)      Kecamatan dengan kejadian TB terendah di Kota Padang

c)      Distribusi TB berdasarkan karasteristik orang disajikan dalam peta

  1. Gambaran temporal adalah studi berdasarkan waktu. Penelitian menggambarkan waktu kejadian TB paru yang digambarkan berdasarkan bulan, yaitu melihat bulan dengan kejadian TB terbanyak di Kota Padang. Untuk melihat tren ini digunakan data TB dari tahun 2007-2009 sehingga dapat digambarkan tren bulan dengan kasus TB terbanyak.

Alat Ukur             : Cheklis

Cara Ukur            : Dokumentasi

Skala Ukur           : Nominal

Hasil Ukur            : Tren bulan dengan kasus TB terbanyak.

INVESTIGASI WABAH

WABAH

Wabah : adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka (UU No 4. Tahun 1984).
Suatu wabah dapat terbatas pada lingkup kecil tertentu (disebut outbreak, yaitu serangan penyakit) lingkup yang lebih luas (epidemi) atau bahkan lingkup global (pandemi).

OUTBREAK
Suatu episode dimana terjadi dua atau lebih penderita suatu penyakit yang sama dimana penderita tersebut mempunyai hubungan satu sama lain.

EPIDEMI
Keadaan dimana suatu masalah kesehatan (umumnya penyakit) yang ditemukan pada suatu daerah tertentu dalam waktu yang singkat frekuensinya meningkat.

PANDEMI
Keadaan dimana suatu masalah kesehatan (umumnya penyakit), frekuensinya dalam waktu singkat meningkat tinggi dan penyebarannya telah mencakup wilayah yang luas

ENDEMI
Keadaan dimana suatu masalah kesehatan (umumnya penyakit), frekuensinya pada wilayah tertentu menetap dalam waktu lama berkenaan dengan adanya penyakit yang secara normal biasa timbul dalam suatu wilayah tertentu.

KEJADIAN LUAR BIASA
Kejadian Luar Biasa (KLB) salah satu kategori status wabah dalam peraturan yang berlaku di Indonesia. tatus Kejadian Luar Biasa diatur oleh Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 949/MENKES/SK/VII/2004.

Kejadian Luar Biasa dijelaskan sebagai timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu.

Kriteria tentang KLB mengacu pada Keputusan Dirjen No. 451/9. Suatu kejadian dinyatakan luar biasa jika ada unsur:
1. Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal
2. Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus-menerus selama 3 kurun waktu berturut-turut menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu)
3. Peningkatan kejadian penyakit/kematian 2 kali lipat atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya (jam, hari, minggu, bulan, tahun).
4. Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan 2 kali lipat atau lebih bila dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam tahun sebelumnya.

LANGKAH-LANGKAH INVESTIGASI WABAH
1. Konfimasi / menegakkan diagnosa
• Definisi kasus
• Klasifikasi kasus dan tanda klinik
• Pemeriksaan laboratorium
2. Menentukan apakah peristiwa itu suatu letusan/wabah atau bukan
• Bandingkan informasi yang didapat dengan definisi yang sudah ditentukan tentang KLB
• Bandingkan dengan incidende penyakit itu pada minggu/bulan/tahun sebelumnya
3. Hubungan adanya letusan/wabah dengan faktor-faktor waktu, tempat dan orang
• Kapan mulai sakit (waktu)
• Dimana mereka mendapat infeksi (tempat)
• Siapa yang terkena : (Gender, Umur, imunisasi, dll)
4. Rumuskan suatu hipotesa sementara
• Hipotesa kemungkinan : penyebab, sumber infeksi, distribusi penderita (pattern of disease)
• Hipotesa : untuk mengarahkan penyelidikan lebih lanjut
5. Rencana penyelidikan epidemiologi yang lebih detail Untuk menguji hipotesis :
• Tentukan : data yang masih diperlukan sumber informasi
• Kembangkan dan buatkan check list.
• Lakukan survey dengan sampel yang cukup
6. Laksanakan penyelidikan yang sudah direncanakan
• Lakukan wawancara dengan :
a. Penderita-penderita yang sudah diketahui (kasus)
b. Orang yang mempunyai pengalaman yang sama baik mengenai waktu/tempat terjadinya penyakit, tetapi mereka tidak sakit (control)
• Kumpulkan data kependudukan dan lingkungannya
• Selidiki sumber yang mungkin menjadi penyebab atau merupakan faktor yang ikut berperan
• Ambil specimen dan sampel pemeriksa di laboratorium
7. Buatlah analisa dan interpretasi data
• Buatlah ringkasan hasil penyelidikan lapangan
• Tabulasi, analisis, dan interpretasi data/informasi
• Buatlah kurva epidemik, menghitung rate, buatlah tabel dan grafik-grafik yang diperlukan
• Terapkan test statistik
• Interpretasi data secara keseluruhan
8.Test hipotesa dan rumuskan kesimpulan
• Lakukan uji hipotesis
• Hipotesis yang diterima, dpt menerangkan pola penyakit :
a. Sesuai dengan sifat penyebab penyakit
b. Sumber infeksi
c. Cara penularan
d. Faktor lain yang berperan
9. Lakukan tindakan penanggulangan
• Tentukan cara penanggulangan yang paling efektif.
• Lakukan surveilence terhadap penyakit dan faktor lain yang berhubungan.
• Tentukan cara pencegahan dimasa akan datang
10. Buatlah laporan lengkap tentang penyelidikan epidemiologi tersebut.
• Pendahuluan
• Latar Belakang
• Uraian tentang penelitian yang dilakukan
• Hasil penelitian
• Analisis data dan kesimpulan
• Tindakan penanggulangan
• Dampak-dampak penting
• Saran rekomendasi
sumber : EPIDEMIOLOGI-INFORMATIKA KESEHATAN

HIV/AIDS Ibu dan anak

Pendahuluan
Pada tahun 2000 terjadi peningkatan penyebaran HIV secara nyata melalui pekerja seks komersial, tetapi ada fenomena baru penyebaran HIV/AIDS melalui pengguna narkoba suntik (IDU). Tahun 2002 HIV sudah menyebar ke rumah tangga.
Sejauh ini, lebih dari 6,5 juta perempuan di Indonesia jadi populasi rawan tertular HIV. Lebih dari 24 ribu perempuan usia subur telah terinfeksi HIV dan sedikitnya 9 ribu perempuan hamil terinfeksi HIV positif setiap tahun. Bila tidak ada program pencegahan, lebih dari 30% diantaranya melahirkan bayi yang tertular HIV. Pada tahun 2015, diperkirakan akan terjadi penularan pada 38.500 anak yang dilahirkan dari ibu yang terinfeksi HIV. Sampai tahun 2006, diprediksikan 4.360 anak terkena HIV dan 50% diantaranya meninggal dunia.
Penularan HIV dari ibu ke bayi (MTCT-mother-to-child transmission) selama proses kehamilan, persalinan dan kelahiran atau menyusui disebut sebagai penularan/transmisi perinatal. Penularan secara vertikal terjadi dari ibu yang terinfeksi HIV ke bayinya. Penularan perinatal ini adalah cara penularan HIV yang paling sering pada bayi dan anak.
Anak yang didiagnosis HIV juga akan menyebabkan terjadinya trauma emosi yang mendalam bagi keluarganya. Orang tua harus menghadapi masalah berat dalam perawatan anak, pemberian kasih sayang, dan sebagainya sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan mental anak. Orangtua memerlukan waktu untuk mengatasi masalah emosi, syok, kesedihan, penolakan, perasaan berdosa, cemas, marah, dan berbagai perasaan lain. Dukungan nutrisi pemberian ARV, psikososial dan perawatan membantu anak menghadapi HIV/AIDS.
Kebanyakan wanita mengurus keluarga dan anak-anaknya selain mengurus dirinya sendiri sehingga gangguan kesehatan pada wanita akan mempengaruhi seluruh keluarganya. Wanita dengan HIV harus mendapatkan dukungan dan perawatan mencakup penyuluhan yang memadai tentang penyakitnya, perawatan, pengobatan, serta pencegahan penularan pada anak dan keluarganya.

Pengantar HIV/AIDS
HIV singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. HIV adalah virus penyebab AIDS. Cara kerja HIV adalah dengan menyerang sistem kekebalan tubuh yang fungsinya melindungi tubuh dari serangan berbagai penyakit.
AIDS singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome. AIDS didefenisikan sebagai suatu kumpulan gejala penyakit yang disebabkan menurunnya sistem kekebalan tubuh karena infeksi HIV. Karena HIV selalu menyebabkan AIDS atau AIDS selalu diakibatkan oleh HIV maka saat ini penyebutannya selalu disatukan menjadi HIV/AIDS.
Kasus AIDS pertama kali ditemukan di Indonesia pada 1987. Berdasar pada data statistik, total kasus yang tercatat sejak saat itu (1 Juli 1987) hingga 31 Maret 2008 adalah 11.868 penderita AIDS dan 6.130 positif HIV. Jumlah ini menunjukkan peningkatan sangat tajam. Padahal, seperti diketahui, fenomena kasus HIV-AIDS ibarat gunung es sehingga diduga masih banyak kasus belum terdeteksi.
Bahaya yang ditimbulkan infeksi HIV (human immunodeficiency virus) ini memang tidak langsung terjadi dalam waktu singkat. Bahkan, orang yang terinfeksi bisa hidup normal dalam jangka waktu lima sampai sepuluh tahun untuk sampai pada stadium munculnya gejala klinis. Hal ini merupakan salah satu penyebab mengapa masih banyak kasus yang belum terdeteksi. Penderita baru memeriksakan diri bila sudah timbul gejala-gejala klinis.
Kematian yang disebabkan infeksi HIV kebanyakan bukan karena infeksi virus, melainkan karena turunnya kekabalan tubuh. Virus ini menyerang sistem kekebalan tubuh manusia sehingga manusia mudah terkena penyakit lain atau dikenal dengan infeksi oportunistik. Maka AIDS (acquired immuno deficiency syndrome) dapat didefinisikan sebagai suatu sindrom klinis atau kumpulan gejala-gejala penyakit yang disebabkan human immunodeficiency virus.
Memang orang yang terinfeksi HIV belum tentu menjadi penderita AIDS, bergantung pada tingkat imunitas atau kekebalan tubuh orang tersebut yang dapat dilihat melalui komponen CD4. Jika terjadi penurunan CD4 sampai kurang dari 200, orang akan makin lemah daya tahan tubuhnya dan jatuh pada kondisi AIDS.
Total kematian yang disebabkan HIV-AIDS sejak 1987 hingga sekarang berjumlah 2.486. Kasus-kasus HIV-AIDS sudah ditemukan di beberapa daerah di Indonesia. Mengingat kondisi geografis Indonesia serta kemajuan industri pariwisata dan meningkatnya praktek seks komersial terselubung, makin mempermudah penularan penyakit ini .
Cara-cara penularan HIV/AIDS
Virus HIV ada dalam semua cairan tubuh manusia yang telah terinfeksi HIV. Tetapi hanya virus HIV yang terdapat di dalam:
1. Darah
2. Sperma
3. Cairan vagina
Ada 4 cara penularan HIV:
1. Melalui hubungan seksual dengan pengidap HIV tanpa perlindungan (kondom).
2. Melalui transfusi darah yang tercemar HIV.
3. Penggunaan jarum suntik, tindik, tato atau alat lain yang dapat menimbulkan luka dan tidak disterilkan dan sebelumnya telah dipakai orang yang terinfeksi HIV.
4. Dari ibu hamil yang terinfeksi HIV kepada anak yang dikandungnya.

Selama ini fokus penanggulangan HIV-AIDS pada penasun maupun PSK banyak dilakukan. Namun, pada bayi yang tertular dari ibunya belum banyak mendapat perhatian. Padahal muncul kecendrungan terjadinya peningkatan jumlah wanita terutama ibu rumah tangga yang tertular HIV-AIDS pada usia reproduksi mereka (80%). Jika wanita ini hamil, berpotensi menulari anak yang dikandungnya.
Menurut data epidemiologi AIDS nasional, lebih dari 24 ribu wanita usia subur di Indonesia tertular HIV dan lebih dari 9.000 wanita dengan HIV (+) dalam kondisi hamil tiap tahun.
Kondisi ini amat memprihatinkan dan menuntut kewaspadaan kita karena anak adalah generasi penerus bangsa sehingga status kesehatannya akan menentukan perannya di masa depan. Upaya yang harus dilakukan adalah memutus rantai penularan HIV-AIDS.

Faktor Risiko Penularan HIV dari Ibu ke Bayi
Ada dua faktor utama untuk menjelaskan faktor risiko penularan HIV dari ibu ke bayi (4):
1. Faktor ibu dan bayi
2. Faktor cara penularan

Faktor Ibu
Faktor yang paling utama mempengaruhi risiko penularan HIV dari ibu ke bayi adalah kadar HIV (viral load) di darah ibu pada menjelang ataupun saat persalinan dan kadar HIV di air susu ibu ketika ibu menyusui bayinya.
Umumnya, satu atau dua minggu setelah seseorang terinfeksi HIV, kadar HIV akan cepat sekali bertambah di tubuh seseorang. Kadar HIV tertinggi sebesar 10 juta kopi/ml darah terjadi 3-6 minggu setelah terinfeksi (disebut infeksi primer). Setelah beberapa minggu, biasanya kadar HIV mulai berkurang dan relatif terus rendah selama beberapa tahun pada periode tanpa gejala (asimptomatik). Ketika memasuki masa stadium AIDS (dimana tanda-tanda gejala AIDS mulai muncul), kadar HIV kembali meningkat.
Cukup banyak orang dengan HIV/AIDS (Odha) yang kadar HIV-nya sangat rendah sehingga menjadi sulit untuk dideteksi di dalam darah (kurang dari 100 kopi/ml). Umumnya, kondisi ini terjadi pada Odha yang telah minum obat antiretroviral secara teratur dengan benar. Pada kebanyakan Odha, kadar HIV berkisar antara 10.000 – 100.000 kopi/ml. Risiko penularan HIV sangat kecil jika kadar HIV rendah (kurang dari 1.000 kopi/ml), sementara jika kadar HIV di atas 100.000 kopi/ml risiko penularan HIV dari ibu ke bayi menjadi tinggi.
Risiko penularan akan lebih besar jika ibu memiliki kadar HIV yang tinggi pada menjelang ataupun saat persalinan.
Status kesehatan dan gizi ibu juga mempengaruhi risiko penularan HIV dari ibu ke bayi. Ibu dengan sel CD4 yang rendah (menurunnya sistem pertahanan tubuh) mempunyai risiko penularan yang lebih besar, terlebih jika jumlah sel CD4 kurang dari 200. Ada hubungan langsung antara CD4 dan kadar HIV karena semakin tinggi kadar HIV semakin rendah CD4 di tubuh Odha.
Jika ibu memiliki berat badan yang rendah selama kehamilan serta kekurangan vitamin dan mineral, maka risiko terkena berbagai penyakit infeksi juga meningkat. Biasanya, jika ibu menderita infeksi menular seksual (IMS) atau infeksi reproduksi lainnya maka kadar HIV akan meningkat, sehingga meningkatkan pula risiko penularan HIV ke bayi. Malaria juga bisa meningkatkan risiko penularan, karena parasit malaria merusak plasenta sehingga memudahkan HIV menembus plasenta untuk menginfeksi bayi. Malaria juga meningkatkan risiko bayi lahir prematur yang dapat memperbesar risiko penularan HIV dari ibu ke bayi.
Semakin rendah jumlah sel CD4, akan semakin besar risiko penularan HIV dari ibu ke bayi melalui pemberian air susu ibu (ASI). Sebuah studi menunjukkan bahwa ibu dengan CD4 kurang dari 200 memiliki risiko untuk menularkan HIV ke bayinya jauh lebih besar dibandingkan ibu dengan CD4 di atas 500. Risiko penularan HIV melalui pemberian ASI akan bertambah jika terdapat adanya masalah pada payudara ibu, seperti mastitis, abses, luka di puting payudara. Sebagian besar masalah payudara dapat dicegah dengan teknik menyusui yang baik. Konseling kepada ibu tentang cara menyusui yang baik dengan demikian dapat mengurangi risiko masalah-masalah payudara dan risiko penularan HIV.
Risiko penularan HIV pasca persalinan akan menjadi berlipat (sekitar 30%), jika ibu terinfeksi HIV ketika sedang masa menyusui bayinya karena kadar HIV meningkat pesat pada saat tersebut (infeksi primer) yang bisa memperbesar risiko penularan HIV ke bayi. Dengan demikian, berbagai upaya harus dilakukan untuk mencegah terjadinya penularan HIV pada ibu yang sedang hamil dan menyusui, serta menjaga kondisi kesehatan dan nutrisinya selama masa menyusui.
Faktor Bayi
Bayi yang lahir prematur dan memiliki berat badan lahir rendah diduga lebih rentan untuk tertular HIV dikarenakan sistem organ tubuh bayi tersebut belum berkembang baik, seperti sistem kulit dan mukosa, dll. Sebuah studi di Tanzania menunjukkan bahwa bayi yang dilahirkan sebelum 34 minggu memiliki risiko tertular HIV yang lebih tinggi pada saat persalinan dan masa-masa awal kelahiran.
Seorang bayi dari ibu HIV positif bisa jadi tetap HIV negatif selama masa kehamilan dan proses persalinan, tetapi mungkin akan terinfeksi HIV melalui pemberian ASI.
HIV terdapat di dalam ASI, meskipun konsentrasinya jauh lebih kecil dibandingkan dengan HIV di dalam darah. Antara 10-20% bayi yang dilahirkan oleh ibu HIV positif akan terinfeksi HIV melalui pemberian ASI (hingga 18 bulan atau lebih).
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat risiko penularan HIV melalui pemberian ASI, yaitu:
1. Umur Bayi.
Risiko penularan melalui ASI akan lebih besar pada bayi yang baru lahir. Antara 50–70% dari semua penularan HIV melalui ASI terjadi pada usia enam bulan pertama bayi. Setelah tahun kedua umur bayi, risiko penularan menjadi lebih rendah.
2. Luka di Mulut Bayi.
Bayi yang memiliki luka di mulutnya memiliki risiko untuk tertular HIV lebih besar ketika diberikan ASI.

Faktor Cara Penularan
Sebagian besar penularan HIV dari ibu ke bayi terjadi pada saat persalinan. Ketika proses persalinan, tekanan pada plasenta meningkat yang bisa menyebabkan terjadinya sedikit percampuran antara darah ibu dan darah bayi. Hal ini lebih sering terjadi jika plasenta meradang atau terinfeksi.
Pada saat persalinan, bayi terpapar darah dan lendir ibu di jalan lahir. Kulit dari bayi yang baru lahir masih sangat lemah dan lebih mudah terinfeksi jika kontak dengan HIV. Bayi mungkin juga terinfeksi karena menelan darah ataupun lendir ibu.
Semakin lama proses persalinan berlangsung, risiko penularan HIV dari ibu ke bayi juga semakin meningkat karena akan semakin lama terjadinya kontak antara bayi dengan darah dan lendir ibu. Ketuban pecah lebih dari empat jam sebelum persalinan akan meningkatkan risiko penularan hingga dua kali lipat dibandingkan jika ketuban pecah kurang dari empat jam sebelum persalinan.
Faktor lain yang kemungkinan meningkatkan risiko penularan selama proses persalinan adalah penggunaan elektrode pada kepala janin, penggunaan vakum atau forseps, dan tindakan episiotomi.
Bayi yang diberikan ASI eksklusif kemungkinan memiliki risiko terinfeksi HIV lebih rendah dibandingkan bayi yang mengkonsumsi makanan campuran (mixed feeding), yaitu tak hanya ASI tetapi juga susu formula dan makanan padat lainnya. Penelitian di Afrika Selatan menunjukkan bahwa bayi dari ibu HIV positif yang diberi ASI eksklusif selama tiga bulan memiliki risiko tertular HIV lebih rendah (14,6%) dibandingkan bayi yang mendapatkan makanan campuran, yaitu susu formula dan ASI (24,1%). Hal ini diperkirakan karena air dan makanan yang kurang bersih (terkontaminasi) akan merusak usus bayi yang mendapatkan makanan campuran, sehingga HIV dari ASI bisa masuk ke tubuh bayi.
Semakin lama pemberian ASI, akan semakin besar kumulatif risiko penularan HIV dari ibu ke bayi. Pada usia 5 bulan pertama pemberian ASI diperkirakan risiko penularan sebesar 0,7% per bulan. Antara 6-12 bulan, risiko sebesar 0,5% per bulan; dan antara 13–24 bulan, risiko bertambah lagi sebesar 0,3% per bulan. Dengan demikian, memperpendek masa pemberian ASI dapat mengurangi risiko bayi terinfeksi HIV.
Penularan HIV dari Wanita kepada Bayinya
Penularan HIV ke ibu bisa akibat hubungan seksual yang tidak aman (biseksual, homoseksual), pemakaian narkoba injeksi dengan jarum suntik bergantian bersama pengidap HIV, tertular melalui darah dan produk darah, penggunaan alat kesehatan yang tidak steril, serta alat untuk menoreh kulit. Menurut CDC, penyebab terjadinya infeksi HIV pada wanita secara berurutan dari yang terbesar adalah pemakaian obat terlarang melalui injeksi 51%, wanita heteroseksual 34%, transfusi darah 8%, dan tidak diketahui sebanyak 7%.
Disamping itu, diketahui pula persentase kumulatif AIDS di Indonesia berdasarkan cara penularan s.d. 30 September 2007, dimana cara penulara melalui IDU menempati persentase tertinggi (49,5%) sedangkan untuk penularan melalui perinatal sendiri yaitu sebesar 1,6%. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada grafik berikut:
Transmisi atau penularan dari ibu hamil dengan HIV (+) ke anaknya dapat melalui tiga cara, yaitu selama kehamilan (5%–10%), selama persalinan (10%–20%), dan melalui air susu ibu (ASI) (10%–15%) (2).
Penularan HIV ke bayi dan anak bisa dari ibu, penularannya melalui darah, pelecehan seksual pada anak. Penularan dari ibu ke anak terjadi karena wanita yang menderita HIV/AIDS sebagian besar (85%) berusia subur (15-44 tahun), sehingga terdapat risiko penularan infeksi yang bisa terjadi pada saat kehamilan. Berdasarkan laporan CDC Amerika, prevalensi penularan HIV dari ibu ke bayi 0,01 – 0,7%. Bila ibu baru terinfeksi HIV dan belum ada gejala AIDS kemungkinan bayi terinfeksi sebanyak 20% – 35%, sedangkan bila gejala AIDS sudah jelas pada ibu kemungkinannya mencapai 50%.
Penularan terjadi selama proses persalinan melalui transfusi feromaternal atau kontak antara kulit atau membran mukosa bayi dengan darah atau sekresi maternal saat melahirkan. Semakin lama proses kelahiran, semakin besar risiko penularan. Sehingga lama persalinan bisa dicegah dengan operasi sectio caesaria. Transmisi lain terjadi selama periode post-partum melalui ASI, risiko bayi tertular melalui ASI dari ibu yang positif sekitar 10%.

Diagnosis HIV pada Wanita dan Anak
1. Diagnosa HIV pada Bayi dan Anak
Bayi yang tertular HIV dari ibu bisa saja tampak normal secara klinis selama periode neonatal. Penyakit penanda AIDS tersering ditemukan pada anak adalah pneumonia yang disebabkan oleh Pneumocystis caranii. Gejala umum yng ditemukan pada bayi dengan infeksi HIV adalah gangguan tumbuh kembang, kandidiasis oral, diare kronis, atau hepatosplenomegali (pembesaran hepar dan lien).
Karena antibodi ibu bisa dideteksi pada bayi sampai bayi bersia 18 bulan, maka tes ELISA dan Western Blot akan positif meskipun bayi tidak terinfeksi HIV karena tes ini, berdasarkan ada atau tidaknya antibodi terhadap virus HIV. Tes paling spesifik untuk mengidentifikasi HIV adalah PCR untuk DNA HIV. Kultur HIV yang positif juga menunjukkan pasien terinfeksi HIV. Untuk pemeriksaan PCR bayi harus dilakukan pengambilan sampel darah untuk tes PCR pada dua saat yang berlainan. DNA PCR pertama diambil saat bayi berusia 1 bulan karena tes ini kurang sensitif selama periode 1 bulan setelah lahir. CDC merekomendasikan pemeriksaan DNA PCR setidaknya diulang pada saat bayi berusia 4 bulan. Jika tes ini negatif, maka bayi tidak terinfeksi HIV. Tetapi bila bayi tersebut mendapatkan ASI, maka bayi beresiko tertular HIV sehingga tes PCR perlu diulang setelah bayi disapih. Pada usia 18 bulan, pemeriksaan ELISA bisa dilakukan pada bayi bila tidak tersedia sarana pemeriksaan yang lain.
Anak-anak berusia lebih dari 18 bulan bisa didiagnosis dengan menggunakan kombinasi antara gejala klinis dan pemeriksaan laboratorium. Anak dengan HIV sering mengalami infeksi bakteri kumat-kumatan, gagal tumbuh atau Wasting, limfadenopati menetap, keterlambatan berkembang, sariawan pada mulut dan faring. anak usia berusia lebih dari 18 bulan bisa didiagnosis dengan ELISA dan tes konfirmasi lain seperti pada dewasa. Terdapat 2 klasifkasi yang bisa digunakan untuk mendiagnosis bayi dan anak dengan HIV yaitu menurut CDC dan WHO. CDC mengembangkan klasifikasi HIV pada bayi dan anak berdasarkan hitung limfosit CD4+ dan manifestasi klinis penyakit. Pasien dokategorikan berdasarkan derajat imunosupresi (1, 2, atau3) dan kategori klinis (N, A, B, C, E). Klasifikasi ini memungkinkan adanya surveilans serta perawatan pasien yang lebih baik. Klasifikasi klinis dan imunologis ini bersifat ekslusif, sekali pasien diklasifikasikan dalam suatu kategori, maka klasifikasi ini tidak berubah meskipun terjadi perbaikan status karena pemberian terapi atau faktor lain.
WHO mengembangkan diagnosis HIV hanya berdasarkan penyakit klinis dengan mengelompokkan tanda dan gejala dalam kriteria mayor dan minor. Seorang anak yang mempunyai 2 gejala mayor dan 2 gejala minor bisa didiagnosis HIV meskipun tanpa pemeriksaan ELISA atau tes laboratorium lain.

2. Diagnosa HIV pada Wanita
Gejala HIV pada wanita seringkali ditandai dengan gejala ginekologis, tetapi, belum termasuk dalam gejala HIV/AIDS menurut CDC sehingga dokter tidak mencurigainya sebagai infeksi HIV. Oleh sebab tersebut maka diagnosis HIV/AIDS pada wanita sering terlambat. Faktor lain yang menjadi penyebabnya adalah sulitnya fasilitas untuk didatangi, buruknya penggunaan fasilitas kesehatan, sedikitnya kecurigaan terhadap timbulnya aids pada wanita. Selain itu, wnita yang mempunyai risiko HIV/AIDS tidak menyadari gejala awal dari infeksi HIV. Banyak wanita yang mengetahui status HIV mereka melalui pemeriksaan prenatal.
Gejala ginekologis HIV pada wanita antara lain kandidiasis vulva vagina persisten sering timbul dan tidak responsif terhadap terapi, displasia sering sampai invasif, penyakit inflamasi pelvis disertai abses tuba dan ovarium, ulkus herpes simplek yang timbul lebih dari satu bulan. Gejala lain adalah ulkus genital, human papiloma, sifilis, dan kondiloma kuminata.
Pemeriksaan yang perlu dilakukan pada wanita yang terdiagnosis HIV meliputi:
1. Pengambilan riwayat ginekologis lengkap, termasuk riwayat menstruasi, obstetri, konsepsi dan aktivitas seksual
2. Pemeriksaan fisik termasuk pemeriksaan payudara dan pelvis
3. Pemeriksaan laboratorium: papsmear, kultur servik untuk mencari adanya klamedia, dan gonorhoe, VDRI, dan tes kehamilan jika ada indikasi
4. Mamogram untuk wanita yang berusia 35-39 tahun, dua tahun sekali sampai berusia 49 tahun dan kemudian setiap tahun untuk wanita yang berusia 50 tahun atau lebih
5. Kolposkopi
Komplikasi medis HIV/AIDS pada wanita antara lain esofagitis candida dan pneumocystis carinii. Selain itu juga bisa ditemukan virus human papiloma dan penyakit serviks, virus herpes simpleks, chancroid, sifilis, ulkus genital HIV, penyakit inflamasi pelvis, dan kandidiasis vagina.

Pencegahan Penularan HIV pada Wanita dan Anak
Karena adanya peningkatan kasus penularan HIV dari ibu ke bayi, maka diperlukan program pencegahan penularan infeksi HIV dari ibu ke bayi (PMCT). Progam pencegahan tersebut melibatkan ibu dengan infeksi HIV, anak mereka dan keluarganya ke dalam pengobatan, pelayanan dan dukungan. Dasar dari program pencegahan infeksi HIV ibu ke anak (PMTCT) :
• Tes HIV dan konseling
• Obat antiretroviral (obat yang menurunkan pertambahan dan jumlah virus HIV) pada masa kehamilan dan persalinan
• Pelayanan persalinan yang aman
• Pelayanan pemberian nutrisi bagi bayi yang aman

Adapun upaya lain yang dapat dilakukan untuk mencegah penularan HIV/AIDS dari ibu ke bayi, yaitu persalinan dengan sectio caesaria, serta pemberian susu formula pada bayi .
Upaya tersebut merupakan bagian pencegahan penularan HIV-AIDS dari ibu ke anak atau dikenal dengan istilah PMTCT (prevention mother to child transmission). Pencegahan ini dilakukan secara komprehensif yang terdiri dari empat cara, yaitu pencegahan pada usia reproduktif, pencegahan kehamilan yang tidak direncanakan pada ibu dengan HIV (+), pencegahan penularan dari ibu dengan (+) HIV yang hamil ke bayi yang dikandungnya, serta memberi dukungan psikologis, sosial, dan perawatan kepada ibu HIV (+) beserta bayi dan keluarganya.
Cara yang pertama idealnya dilakukan dengan tidak melakukan hubungan seks bebas. Ibu-ibu dapat tertular melalui hubungan seks dari suami atau pasangannya yang tertular. Kebanyakan suami tersebut adalah pelanggan wanita pekerja seks sehingga upaya ini dapat dilakukan dengan bersikap setia pada pasangannya.
Kenyataannya, apabila terjadi hubungan seks bebas, harus menggunakan kondom. Ini sangat memerlukan kesadaran bagi pria pelanggan wanita pekerja seks bahwa dampak yang ditimbulkan dapat berbuntut panjang dan bahkan merugikan keluarganya.
Cara kedua, apabila seorang ibu telanjur tertular HIV, sebaiknya mengatur kehamilannya agar bayi yang dikandungnya kelak tidak tertular dengan mengikuti KB yang tepat. Selain itu, konseling dan tes HIV sukarela untuk pasangan di klinik VCT (voluntary consulting test).
VCT merupakan pintu masuk penting untuk pencegahan dan perawatan HIV karena merupakan screenning awal bagi pasangan yang tertular HIV-AIDS sehingga menentukan intervensi PMTCT. Akan tetapi, kendalanya adalah keengganan bagi pasangan memeriksakan diri dan layanan klinik VCT yang masih langka. Layanan ini dapat didirikan pemerintah seperti puskesmas maupun rumah sakit serta pihak swasta.
Cara ketiga, sudah dibahas sebelumnya, antara lain pemberian ARV, persalinan dengan seksio caesaria serta susu formula pada bayi. Kendala yang dihadapi adalah ketersediaan ARV yang sesuai dengan kebutuhan.
Pemerintah hendaknya memberikan alokasi anggaran yang tepat agar tidak sampai kekurangan karena putus ARV akan menurunkan tingkat kekebalan secara drastis selain itu juga dapat memicu resistensi. Seksio caesaria juga tidak mudah dilakukan karena memerlukan biaya yang tinggi sehingga diperlukan bantuan bagi mereka yang tidak mampu agar dapat menjalani operasi tersebut.
Meskipun demikian, risiko medis tetap ada selama operasi akibat perlukaan jalan lahir, perlukaan pada janin, yang dapat menyebabkan penularan HIV.
Mengenai pemberian ASI, harus tetap menghargai hak seorang ibu apabila ia tetap ingin memberikan ASI kepada bayinya. Perlu diinformasikan pada ibu tersebut bahwa pemberian ASI dapat meningkatkan risiko bayi tertular meningkat menjadi 5%–20%. Ini memerlukan konseling oleh tenaga kesehatan kepada ibu mengenai alternatif pemberian susu formula ataupun makanan pada bayinya.
Cara keempat atau terakhir yaitu perawatan medis; dapat dilakukan dengan terapi pencegahan, terapi ARV, terapi infeksi oprtunistik, maupun terapi untuk menunjang kehidupan pada penderita yang sudah sampai stadium akhir. Dukungan psikologis dapat dilakukan dengan konseling, dukungan spiritual, pendampingan oleh tenaga kesehatan maupun orang terdekat, serta dukungan masyarakat. Sebaiknya tidak ada diskriminasi bagi ODHA dalam kehidupan sehari-hari sehingga mereka tetap dapat hidup dan terjamin hak asasinya.
Dukungan sosio-ekonomi juga diperlukan agar mereka dapat tetap produktif sehingga dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Ini mengingat bahwa menurut data statistik, sebagian besar penderita HIV-AIDS berada pada kelompok umur produktif.
Dari program PMTCT, tampak program ini memerlukan upaya ekstra dan berkesinambungan segenap instansi tidak hanya di bidang kesehatan. Upaya pencegahan komprehensif ini harus segera dilakukan agar jangan sampai terjadi peningkatan jumlah bayi yang tertular HIV-AIDS.
Pelayanan PMTCT melibatkan pasangan, dimana keduanya (ibu dan pasangan) harus sadar akan pentingnya hubungan seks yang aman selama kehamilan dan menyusui, keduanya melakukan tes dan konsultasi HIV, keduanya peduli dan disediakan pelayanan PMTCT.
Oleh karena itu strategi-strategi dari pencegahan penularan dari ibu ke bayi (PMCTC) :

1. Pencegahan infeksi HIV
• Promosi hubungan seksual yang bertanggung jawab dan aman
• Menyediakan akses kepada kondom
• Menyedialkan pelayanan untuk diagnosis dini dan pengobatan infeksi menular seksual
• Membuat tes HIV dan konseling tersedia luas
• Menyediakan konseling untuk perempuan HIV negatif

2. Pencegahan kehamilan tak diinginkan pada perempuan dengan infeksi HIV :
• Menyediakan pelayanan keluarga berencana yang efektif
• Promosi kepada kontrasepsi yang aman dan efektif
• Promosi hubungan seks yang aman

3. Pencegahan penularan ibu ke bayi
• Menyediakan tes dan konseling HIV
• Menyediakan pengobatan dan pencegahan dengan obat antiretroviral
• Promosi praktek kelahiran yang aman
• Edukasi dan dukungan pada praktek pemberian nutrisi untuk bayi yang aman

4. Menyediakan pelayanan pengobatan, dukungan dan perawatan kepada perempuan dengan infeksi HIV, bayi dan keluarga mereka.
• Menyediakan pelayanan pengobatan, perawatan dan dukungan kepada perempuan
• Menyediakan diagnosis awal, prawatan dan dukungan kepada bayi dan anak yang terinfeksi HIV
• Promosi kepada layanan berbasis komunitas untuk memberikan pelayanan keluarga yang menyeluruh .
Selain hal diatas, pencegahan penularan HIV pada wanita dapat dilakukan secara primer yang mencakup mengubah perilaku seksual dengan menerapkan prinsip ABC, yaitu Abstinence (tidak melakukan hubungan seksual), Be faithful (setia kepada pasangan), dan kondom (pergunakan kondom jika terpaksa melakukan hubungan dengan pasangan). Wanita juga disarankan untuk tidak menggunakan narkoba terutama narkoba suntikan dengan pemakaian jarum yang bergantian, serta pemakaian alat menoreh kulit dan benda tajam secara bergantian dengan orang lain (misalnya tindik, tato, silet, cukur, dll). Petugas kesehatan perlu menerapkan kewaspadaan universal dan menggunakan darah sertaproduk darah yang bebas dari HIV untuk pasien.
Menurut Depkes RI (2003), WHO empat strategi untuk mencegah penularan HIV dari ibu ke bayi dan anak, yaitu :
1. Mencegah jangan sampai wanita terinfeksi HIV/AIDS,
2. Apabila sudah dengan HIV/AIDS, dicegah supaya tidak hamil
3. Apabila sudah hamil, dilakukan pencegahan supaya tidak menular pada bayi dan anaknya,
4. Apabila ibu dan anak sudah terinfeksi maka sebaiknya diberikan dukungan dan perawatan bagi ODHA dan keluarganya.
Penularan HIV dari ibu ke bayi bisa dicegah melalui 4 cara, mulai saat hamil, saat melahirkan, dan setelah lahir yaitu: penggunaan antiretroviral selama kehamilan, penggunaan antiretroviral saat persalinan dan bayi yang baru dilahirkan, penanganan obstetrik selama persalinan, penatalaksanaan selama menyusui. Pemberian antiretroviral bertujuan agar viral load rendah sehingga jumlah virus yang ada dalam darah dan cairan tubuh kurang efektif untuk menularkan HIV. Obat yang bisa dipilih untuk negara berkembang adalah Nevirapine, pada ibu saat persalinan diberikan 200 mg dosis tunggal sedangkan pada bayi isa diberikan 2 mg/kg BB 72 jam pertama setelah lahir dodis tunggal. Obat lain yang bisa dipilih adalah AZT yang diberikan mulai kehamilan 36 minggu 2x 300 mg per hari dan 300 mg setiap jam selama persalinan berlangsung.
Persalinan sebaiknya dipilih dengan metode sectio caesaria karena terbukti mengurangi risiko penularan HIV dari ibu ke bayi sampai 80%. Bila bedah caesar selektif disertai penggunaan terapi antiretroviral, maka risiko dapat diturunkan sampai 87%. Walaupun demikian bedah caesar juga mempunyai resiko karena imunitas ibu yang rendah sehingga bisa terjadi keterlambatan penyembuhan luka, bahkan bisa terjadi kematian saat operasi. Oleh karea itu, persalinan pervagina atau sectio caesaria harus dipertimbangkan sesuai kondisi gizi, keuangan, dan faktor lain. Bila persalinan pervagina yang dipilih tindakan invasif seperti episiotomi rutin, ekstraksi vakum, ekstraksi cunam, memecahkan ketuban sebelum pembukaan lengkap, terlalu sering melakukan periksa dalam, serta memantau analisa gas darah dengan mengambil sampel dari kulit kepala janin selama persalinan harus dihindari karena meningkatkan risiko penularan HIV dari ibu ke janin.

Refensi :

1. Nursalam, Kurniawati ND. Asuhan Keperawatan pada Pasien Terinfeksi HIV/AIDS. Jakarta: Salemba Medika; 2008.

2. Perdani RRW. Waspadai Penularan HIV-AIDS pada Bayi. Lampung; 2008 [updated 2008; cited 2009 31 Maret]; Available from: http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=849.

3. BKKBN. Mengenal HIV/AIDS Lebih Dekat Lagi. Warta Kependudukan. 2007 Februari.

4. Resiko Penularan dari Ibu ke Bayi. 2008 [updated 2008; cited 2009 31 Maret]; Available from: http://www.PMTCT.net

5. Anto. Pencegahan Penularan dari Ibu ke bayi (Prevention of Mother-to-child Transmission -PMTCT). 2008 [updated 2008 18 November; cited 2009 31 Maret]; Available from: http://www.cdc.gov/.

SISTEM SURVEILEN PENYAKIT

PASCA BENCANA

1. Pendahuluan

Bencana merupakan setiap kejadian bahaya yang mengakibatkan kerusakan, gangguan ekonomi, kematian atau penurunan kondisi kesehatan dan pelayanan kesehatan sedemikian rupa sehingga memerlukan tanggapan luar biasa dari pihak luar wilayah tersebut atau penduduk yang mengalaminya.

Bencana, bukan suatu kejadian yang baru di Indonesia. Bencana terjadi hampir di seluruh daerah di Indonesia dan hampir terjadi tiap tahun. Bencana ini dapat terjadi secara alami dan dapat juga akibat ulah manusia serta akibat perkembangan teknologi. Bencana yang terjadi mengakibatkan banyak korban , seperti meninggal, hilang, dan luka-luka. Dibawah ini dapat dilihat diagram mengenai kejadian bencana dan korban yang diakibatkan bencana di indonesia tahun 2008 :

Diagram 1. Kejadian Bencana di Indonesia tahun 2008

KejadianBencana2008.JPG

Sumber : http:// bnpb.go.id /website/index.php

Diagram 2. Korban Meninggal dan Hilang Akibat Bencana Tahun 2008 KorbanMeninggalHilang2008.jpg

Sumber : http:// bnpb.go.id /website/index.php

Dari diagram di atas dapat dilihat bahwa hampir semua bencana terjadi di Indonesia Bencana dapat mengakibatkan berbagai kerugian seperti kerusakan tempat tinggal dan lingkungan, kesakitan, peningkatan kejadian penyakit menular, kelaparan yang dapat mengakibatkan kekurangan gizi, gangguan sosial ekonomi dan kematian sehingga memerlukan tanggapan yang luar biasa. Untuk itu, diperlukan pemantauan dan pengendalian akibat dari bencana tersebut.

Pemantauan dan pengendalian ini dilakukan agar kerugian yang diakibatkan bencana dapat dikurangi. Pemantauan dan pengendalian ini harus dilakukan secara terus-menerus sehingga dapat memantau kejadian dan peningkatan kasus akibat bencana. Pemantauan secara terus-menerus ini sering disebut surveilen.

Karena banyaknya kerugian dan akibat dari bencana yang memerlukan surveilen, maka penulis memfokuskan pembahasan artikel ini pada sistem surveilen penyakit pasca bencana.

II. Surveilen Penyakit dan Faktor Resiko

a. Faktor Resiko

Bencana dapat memperbesar resiko dan penyebaran penyakit. Peningkatan kasus penyakit akan sangat tinggi saat dan pasca bencana, dan dapat juga meningkat sampai tahap kejadian luar biasa. Peningkatan kasus penyakit menjadi KLB sebenarnya dapat dicegah, apabila penyebaran penyakit dapat dicegah dengan pelaksanaan sistem surveilen secara baik.

Peningkatan faktor resiko dan penyebaran penyakit ini terjadi karena adanya perubahan-perubahan pada bidang-bidang berikut :

1. Perpindahan penduduk, pemindahan korban dapat menyebabkan masuknya penyakit menular baik penduduk migrant maupun penduduk asli yang rentan.

2. Kepadatan penduduk, bencana menyebabkan penduduk harus diungsikan ketempat yang aman. Pengungsian penduduk ini menyebabkan adanya kontak yang dekat antar penduduk, sehingga berpotensi untuk meningkatkan penyakit bawaan udara (airborne disease). Selain itu, layanan sanitasi yang tersedia sering tidak cukup untuk mengatasi pertambahan penduduk yang mendadak.

3. Kerusakan dan pencemaran layanan sanitasi dan air, sistem penyedian air dan sistem pembuangan air kotor dan sistem saluran listrik adalah sistem yang sangat rentan dan mudah rusak akibat bencana. Air minum sangat rentan terhadap kontaminasi yang disebabkan oleh kebocoran saluran air kotor dan adannya bangkai binatang di sumber air.

4. Terganggunya program kesehatan masyarakat setelah bencana, tenaga dan dana biasanya dialihkan untuk kegiatan pemulihan. Jika program kesehatan masyarakat (misalnya program pengendalian vector dan vaksinasi) tidak dipelihara dan dipulihkan sesegera mungkin penyebaran penyakit menular dapat meningkat pada populasi yang tidak terlindung.

5. Perubahan ekologi yang mendukung perkembangan vector. Musim hujan yang tidak biasa, disertai atau tanpa banjir, kemungkinan dapat mempengaruhi kepadatan populasi vektor. Seperti pertambahan populasi nyamuk dan hewan pengerat di daerah banjir.

6. Pemindahan hewan peliharaan dan hewan liar. Pemindahan hewan akibat bencana dapat mengakibatkan penularan zoonosis yang ada pada hewan tersebut pada manusia dan hewan lain.

7. Persedian makanan, air, dan penampungan darurat dalam situasi bencana. Kebutuhan dasar penduduk sering disediakan dari sumber baru atau sumber yang berbeda. Hal ini kadang tidak dapat dipastikan apakah aman atau tidak bagi penduduk, atau malah sebagai sumber penyakit menular.

Waring, dalam bukunya yang berjudul ”Communicable Diseases Following Natural Disasters: A Public Health Response”, menuliskan faktor yang mendukung terjadinya KLB Penyakit adalah <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Author>Waring</Author><RecNum>8</RecNum><record><rec-number>8</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">8</key></foreign-keys><ref-type name="Audiovisual Material">3</ref-type><contributors><authors><author>Stephen C. Waring</author></authors></contributors><titles><title>Communicable Diseases Following Natural Disasters: A Public Health Response Associate Director Center for Public Health Preparedness, </title></titles><dates></dates><pub-location>Houston</pub-location><publisher>university of texas school of public health</publisher><urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(3)<!–[if supportFields]><![endif]–>:

· serangan cepat dan dampak luas

· kesulitan sumber air

· pemindahan penduduk secara besar-besaran,

· tempat pengungsian di tempat yang penuh sesak

· sanitasi yang tidak adekuat

· pengelolaan sampah yang compromise

· kekurangan bahan makanan

· kurang gizi

· tingkat imunitas

· perjangkitan KLB sebelum bencana :

infrastruktur yang tidak baik

persediaan yang kurang

kerentanan populasi

Untuk menghindari terjadinya penigkatan penularan dan peningkatan penyakit dapat dilakukan upaya pencegahan dan pengendalian penyakit menular pasca bencana. Adapun prinsip-prinsipnya adalah <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Author>Fauziah</Author><Year>2006</Year><RecNum>2</RecNum><record><rec-number>2</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">2</key></foreign-keys><ref-type name="Book">6</ref-type><contributors><authors><author>Munayah Fauziah</author></authors></contributors><titles><title>Bencana Alam Perlindungan Kesehatan Masyarakat</title></titles><dates><year>2006</year></dates><pub-location>Jakarta</pub-location><publisher>EGC</publisher><urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(2)<!–[if supportFields]><![endif]–>:

1. melakukan sesegera mungkin semua upaya kesehatan masyarakat yang mengurangi resiko penularan penyakit,

2. menyusun semua sistem pelaporan penyakit yang reliabel untuk mengidentifikasi KLB dan untuk memulai upaya pengendalian sesegera mungkin,

3. menyelidiki semua laporan KLB penyakit secara cepat. Klasifikasi awal mengenai situasi dapat mencegah pemakaian yang sebenarnya tidak diperlukan dari sumber daya yang jumlahnya terbatas dan mencegah terputusnya program yang biasa.

b. Sistem Surveilen penyakit

Selama ini pengertian konsep surveilen epidemiologi sering dipahami hanya sebagai kegiatan pengumpulan data dan penanggulangan KLB, pengertian seperti itu menyembunyikan makna analisis dan penyebaran informasi epidemiologi sebagi bagian yang sangat penting dari proses kegiatan surveilen epidemeiologi<!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Year>2003</Year><RecNum>5</RecNum><record><rec-number>5</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">5</key></foreign-keys><ref-type name="Government Document">46</ref-type><contributors><secondary-authors><author>Departemen Kesehatan</author></secondary-authors></contributors><titles><title>Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 1116/menkes/sk/viii/2003 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilen Epidemiologi Kesehatan Menteri kesehatan Republik Indonesia</title></titles><dates><year>2003</year></dates><pub-location>Jakarta</pub-location><publisher>Departemen Kesehatan</publisher><urls><related-urls><url>http://125.160.76.194/bidang/nakes/weblama/Docements/Perturan/Cetak%20Buku/Kepmenkes/KMK%20Surv.Epid.Kes%201116.2003.doc</url></related-urls></urls></record></Cite></EndNote&gt;<![endif]–><!–[if supportFields]><![endif]–>. Surveilen merupakan analisis sistem pengumpulan data dan interpretasi data kesehatan, untuk memberikan umpan balik dan informasi dalam pencegahan penyakit dan mengukur pengendalian penyakit.

Dan Surveilen epidemilogi juga diartikan sebagai suatu proses pengamatan secara terus-menerus dan sistematis terhadap terjadinya penyebaran penyakit serta kondisi yang memperbesar resiko penularan dengan melakukan pengumpulan data, analisis, interpretasi, dan disseminasi atau penyebaran interpretasi data tersebut .

Sistem surveilen epidemiologi merupakan tatanan prosedur penyelenggaraan surveilen epidemiologi yang terintegrasi antara unit-unit penyelenggara surveilen dengan laboratorium, sumber-sumber data, pusat penelitian, pusat kajian dan penyelenggara program kesehatan, meliputi tata hubungan surveilen epidemiologi antar wilayah Kabupaten/Kota, Propinsi dan Pusat <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Year>2003</Year><RecNum>5</RecNum><record><rec-number>5</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">5</key></foreign-keys><ref-type name="Government Document">46</ref-type><contributors><secondary-authors><author>Departemen Kesehatan</author></secondary-authors></contributors><titles><title>Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 1116/menkes/sk/viii/2003 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilen Epidemiologi Kesehatan Menteri kesehatan Republik Indonesia</title></titles><dates><year>2003</year></dates><pub-location>Jakarta</pub-location><publisher>Departemen Kesehatan</publisher><urls><related-urls><url>http://125.160.76.194/bidang/nakes/weblama/Docements/Perturan/Cetak%20Buku/Kepmenkes/KMK%20Surv.Epid.Kes%201116.2003.doc</url></related-urls></urls></record></Cite></EndNote&gt;<![endif]–>(4)<!–[if supportFields]><![endif]–>.

Surveilen Kesehatan masyarakat merupakan bagian yang penting pada situasi bencana dan dalam keadaan darurat, karena bagian vurnerability dari populasi yang terpengaruh, perubahan mendadak yang mengakibatkan ketidakstabilan situasi alam, dan kebutuhan pembagian data kuantitatif dengan cepat pada mitra untuk memungkinkan pengambilan tindakan cepat dan efektif. Selain itu, surveilen, merupakan strategi penting untuk pengendalian dan pencegahan KLB <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Year>2005</Year><RecNum>6</RecNum><record><rec-number>6</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">6</key></foreign-keys><ref-type name="Government Document">46</ref-type><contributors><secondary-authors><author>Office of the WHO Representative to India</author></secondary-authors></contributors><titles><title>Strengthening of post disaster disease surveillance in selected Tsunami affected districts in Tamil Nadu, Kerala, Andhra Pradesh and Pondicherry</title></titles><dates><year>2005</year></dates><pub-location>New Delhi</pub-location><publisher>WHO</publisher><urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(7)<!–[if supportFields]><![endif]–>.

Sedangkan pada kondisi bencana, surveilen penyakit dan faktor resiko merupakan suatu upaya untuk menyediakan informasi kebutuhan pelayanan di lokasi bencana dan pengungsian sebagai bahan tindakan kesehatan segera. Selain itu, surveilen dilakukan untuk menyediakan informasi kematian dan kesakitan penyakit potensial wabah yang terjadi di daerah bencana , mengidentifikasi sedini mungkin kemungkinan terjadinya peningkatan jumlah penyakit yang berpotensi KLB, mengidentifikasi kelompok resiko tinggi terhadap suatu penyakit tertentu, dan mengidentifikasi status gizi buruk dan sanitasi lingkungan <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Year>2007</Year><RecNum>4</RecNum><record><rec-number>4</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">4</key></foreign-keys><ref-type name="Government Document">46</ref-type><contributors><secondary-authors><author>departemen Kesehatan RI</author></secondary-authors></contributors><titles><title>Pedoman Teknis Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Panduan Bagi Petugas Kesehatan yang Bekerja dalam Penanganan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Di Indonesia</title></titles><dates><year>2007</year></dates><pub-location>Jakarta</pub-location><publisher>Depertemen kesehatan RI</publisher><urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(8)<!–[if supportFields]><![endif]–>.

Pelaksanaan surveilen bencana, harus menetapkan sistem surveilen secepat mungkin. Identifikasi sumber daya yang ada, dokter lokal, perawat, para pekerja kesehatan, rumah sakit yang masih berfungsi, persediaan medis yang masih tersedia, akses ke tempat korban seperti jalan, terusan, telekomunikasi, harus segera mungkin dilakukan <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Author>Waring</Author><RecNum>8</RecNum><record><rec-number>8</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">8</key></foreign-keys><ref-type name="Audiovisual Material">3</ref-type><contributors><authors><author>Stephen C. Waring</author></authors></contributors><titles><title>Communicable Diseases Following Natural Disasters: A Public Health Response Associate Director Center for Public Health Preparedness, </title></titles><dates></dates><pub-location>Houston</pub-location><publisher>university of texas school of public health</publisher><urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(3)<!–[if supportFields]><![endif]–>.

Selain identifikasi sumber daya yang ada, juga harus dilakukan penilaian kesehatan cepat yang diselenggarakan secepat mungkin, yang bertujuan segera menilai impact / kebutuhan kesehatan penduduk, mengarahkan perencanaan dan keputusan tepat waktu yang berdasarkan pada pre-impact informasi seperti demografi, geografi, lingkungan, fasilitas kesehatan dan jasa, rute transportasi dan lainnya <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Author>Waring</Author><RecNum>8</RecNum><record><rec-number>8</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">8</key></foreign-keys><ref-type name="Audiovisual Material">3</ref-type><contributors><authors><author>Stephen C. Waring</author></authors></contributors><titles><title>Communicable Diseases Following Natural Disasters: A Public Health Response Associate Director Center for Public Health Preparedness, </title></titles><dates></dates><pub-location>Houston</pub-location><publisher>university of texas school of public health</publisher><urls></urls></record></Cite><Cite><Author>Waring</Author><RecNum>8</RecNum><record><rec-number>8</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">8</key></foreign-keys><ref-type name="Audiovisual Material">3</ref-type><contributors><authors><author>Stephen C. Waring</author></authors></contributors><titles><title>Communicable Diseases Following Natural Disasters: A Public Health Response Associate Director Center for Public Health Preparedness, </title></titles><dates></dates><pub-location>Houston</pub-location><publisher>university of texas school of public health</publisher><urls></urls></record></Cite><Cite><Author>Waring</Author><RecNum>8</RecNum><record><rec-number>8</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">8</key></foreign-keys><ref-type name="Audiovisual Material">3</ref-type><contributors><authors><author>Stephen C. Waring</author></authors></contributors><titles><title>Communicable Diseases Following Natural Disasters: A Public Health Response Associate Director Center for Public Health Preparedness, </title></titles><dates></dates><pub-location>Houston</pub-location><publisher>university of texas school of public health</publisher><urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(3)<!–[if supportFields]><![endif]–>.

Sistem survelein pada waktu bencana dapat dibagi dalam dua fase yaitu fase saat bancana (darurat) dan fase setelah fase darurat, penjelasan dari masing-masing fase dapat dilihat pada tabel di bawah ini <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Author>Kusnanto</Author><RecNum>11</RecNum><record><rec-number>11</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">11</key></foreign-keys><ref-type name="Unpublished Work">34</ref-type><contributors><authors><author>Hari Kusnanto</author></authors></contributors><titles><title>Epidemiologi Bencana</title></titles><dates></dates><pub-location>yogyakarta</pub-location><publisher>Prodi S2 IKM UGM</publisher><urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(9)<!–[if supportFields]><![endif]–> :

Tabel 1. Surveilen dalam Kedaruratan Bencana

Fase Darurat

Fase Post Darurat

Waktu

Metode pengumpulan data

Prioritas utama

Type pengumpulan data

Ukuran populasi

Defenisi kasus

Investigasi wabah

Surveilen dan data yang di gunakan

1-4 bulan

Screening, Penilaian Awal,

Pengamatan dengan walking around,

Mengurangi angka kematian

Dilakukan dengan aktif,

Data kualitatif

Metode survei sample

Tanda dan gejala klinis sederhana,

Bebrapa kondisi umum

Informal

Pengendalian campak dan kolera,

Simpel, data yang di butuhkan untuk tindakan immediated

Dari permulaan bulan dan seterusnya

Survei populasi-reguler dasar,

Sistem informasi kesehatan yang berkelanjutan

Mendeteksi KLB penyakit

rancangan dan pengawasan program,

Aktip dan pasif

lebih kwantitatif

Sensus dan survei bersifat tambahan

Bisa menambahkan konfirmasi laboratorium,

lebih dalam jumlah,

Formal

Laporan Daftar Penyakit,

Menyeluruh

Data untuk menilai mutu, untuk kebutuhan kesehatan dalam waktu yang lama, lebih sedikit isu mendesak. s

( titik berat pad pendekatan kesehatan masyarakat)

Sumber : Epidemiologi Bencana, Hari Kusnanto – Prodi S2 IKM UGM

c. Proses Surveilen di Daerah Bencana

Partisipan dari program surveilen penyakit menerima laporan dari organisasi pemerintah dan non pemerintah. Informasi dari organisasi pemerintah berasal dari penyedia layanan kesehatan lokal yang melayani pasiennya, dan berasal dari petugas dinas kesehatan lokal untuk level pertama atau menengah (seperti kota, kabupaten, dan provinsi) dan dari sini dilanjutkan ke tim epidemiologi nasional <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Author>Western</Author><Year>2003</Year><RecNum>7</RecNum><record><rec-number>7</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">7</key></foreign-keys><ref-type name="Electronic Book">44</ref-type><contributors><authors><author>Karl A. Western</author></authors></contributors><titles><title>Epidemiologic Surveillance after Natural Disaster (PAHO-OPS, 1982, 105 p.)</title></titles><dates><year>2003</year></dates><pub-location>Washington</pub-location><publisher>Pan American Sanitary Bureau, Regional Office of the WHO</publisher><urls><related-urls><url>ww.disaster-info.net/infovolcanes/pdf/eng/doc13950/doc13950-1a.pdf+Epidemiologic+Surveillance+after+Natural+Disaster&amp;cd=20&amp;hl=en&amp;ct=clnk</url></related-urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(10)<!–[if supportFields]><![endif]–>. Informasi juga dapat diterima dari non pemerintah seperti LSM, relawan penganggulangan bencana dan lainnya.

Adapun langkah-langkah dalam pelaksanaan surveilen di daerah bencana adalah :

1. Pengumpulan Data

Pada fase tanggap darurat, kita dituntut untuk melakukan penyelamatan sekaligus mengumpulkan data untuk penilaian cepat (rapid assessment). Beberapa metode penilaian cepat dapat dijadikan alternatif. Metode yang sering digunakan meliputi pengumpulan data dasar, pengamatan dari udara (helikopter, satelit), pengamatan kualitatif “walk-through”, survei singkat dan kasar (quick and dirty), surveilans rutin sampai ke survei khusus <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Author>Fuad</Author><Year>2005 &#xD;</Year><RecNum>9</RecNum><record><rec-number>9</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">9</key></foreign-keys><ref-type name="Electronic Article">43</ref-type><contributors><authors><author>Anis Fuad </author></authors></contributors><titles><title>Peranan Sistem Informasi Geografis Kesehatan dalam Bencana</title></titles><dates><year>2005 &#xD;</year></dates><urls><related-urls><url>(http://anisfuad.wordpress.com)</url></related-urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(11)<!–[if supportFields]><![endif]–>.

Pendekatan walk-through menghasilkan data non kuantitatif, cepat dan tidak memerlukan pelatihan khusus bagi surveyor, tetapi risiko bias lebih besar. Metode survei singkat dan kasar dapat dilakukan oleh tenaga dengan pelatihan minimal, cepat dan berisiko misinterpretasi <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Author>Fuad</Author><Year>2005 &#xD;</Year><RecNum>9</RecNum><record><rec-number>9</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">9</key></foreign-keys><ref-type name="Electronic Article">43</ref-type><contributors><authors><author>Anis Fuad </author></authors></contributors><titles><title>Peranan Sistem Informasi Geografis Kesehatan dalam Bencana</title></titles><dates><year>2005 &#xD;</year></dates><urls><related-urls><url>(http://anisfuad.wordpress.com)</url></related-urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(11)<!–[if supportFields]><![endif]–>.

· Data yang dikumpulkan pada waktu bencana

Pada hari pertama gempa, kegiatan pengumpulan data akan dilakukan secara serempak, hal ini dilakukan untuk menilai dan memenuhi kebutuhan yang mendesak. Dan apabila kondisi ini sudah terpenuhi, data yang dikumpulkan dapat berdasarkan topik tertentu untuk menentukan prioritas lebih lanjut.

Adapun data yang dikumpulkan dalam surveilen bencana adalah data kesakitan dan kematian <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Year>2007</Year><RecNum>4</RecNum><record><rec-number>4</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">4</key></foreign-keys><ref-type name="Government Document">46</ref-type><contributors><secondary-authors><author>departemen Kesehatan RI</author></secondary-authors></contributors><titles><title>Pedoman Teknis Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Panduan Bagi Petugas Kesehatan yang Bekerja dalam Penanganan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Di Indonesia</title></titles><dates><year>2007</year></dates><pub-location>Jakarta</pub-location><publisher>Depertemen kesehatan RI</publisher><urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(8)<!–[if supportFields]><![endif]–>. Selain data kesakitan dan kematian, data yang juga harus dikumpulkan adalah data pendukung. Data pendukung yang harus dikumpulkan dalam surveilen adalah <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Author>Fauziah</Author><Year>2006</Year><RecNum>2</RecNum><record><rec-number>2</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">2</key></foreign-keys><ref-type name="Book">6</ref-type><contributors><authors><author>Munayah Fauziah</author></authors></contributors><titles><title>Bencana Alam Perlindungan Kesehatan Masyarakat</title></titles><dates><year>2006</year></dates><pub-location>Jakarta</pub-location><publisher>EGC</publisher><urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(2)<!–[if supportFields]><![endif]–> :

a. Data mengenai area geografis terkena bencana,

b. Resiko penyakit utama di daerah bencana (misalnya, kolera dan malaria adalah penyakit endemik di daerah bencana), sumber daya yang tersedia,

c. Populasi yang beresiko dan yang terkena dampaknya.

Setiap bencana memerlukan tindakan prioritas dan kebutuhan informasi yang relatif berbeda. Prioritas tindakan dan kebutuhan informasi pada waktu bencana gempa bumi akan berbeda dengan bencana banjir. Namun secara umum, informasi yang dibutuhkan pada waktu penanganan bencana adalah <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Author>Fuad</Author><Year>2005 &#xD;</Year><RecNum>9</RecNum><record><rec-number>9</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">9</key></foreign-keys><ref-type name="Electronic Article">43</ref-type><contributors><authors><author>Anis Fuad </author></authors></contributors><titles><title>Peranan Sistem Informasi Geografis Kesehatan dalam Bencana</title></titles><dates><year>2005 &#xD;</year></dates><urls><related-urls><url>(http://anisfuad.wordpress.com)</url></related-urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(11)<!–[if supportFields]><![endif]–>:

a. wilayah serta lokasi geografis bencana dan perkiraan populasi,

b. status jalur transportasi dan sisem komunikasi,

c. ketersediaan air bersih, bahan makanan, fasilitas sanitasi dan tempat hunian,

d. jumlah korban,

e. kerusakan, kondisi pelayanan, ketersediaan obat-obatan, peralatan medis serta tenaga di fasilitas kesehatan,

f. lokasi dan jumlah penduduk yang menjadi pengungsi dan

g. estimasi jumlah yang meninggal dan hilang.

Pada tahap awal, tindakan kemanusiaan dan pengumpulan informasi dilakukan secara simultan. Pengumpulan data harus dilakukan secara cepat untuk menentukan tindakan prioritas yang harus dilakukan oleh manajemen bencana.

· Kriteria Data yang Dikumpulkan

Data yang dikumpulkan dalam surveilen bencana sebaiknya memenuhi kriteria-kriteria berikut ini <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Author>Kusnanto</Author><RecNum>11</RecNum><record><rec-number>11</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">11</key></foreign-keys><ref-type name="Unpublished Work">34</ref-type><contributors><authors><author>Hari Kusnanto</author></authors></contributors><titles><title>Epidemiologi Bencana</title></titles><dates></dates><pub-location>yogyakarta</pub-location><publisher>Prodi S2 IKM UGM</publisher><urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(9)<!–[if supportFields]><![endif]–>:

a. Simple : data mudah dikumpulkan dan di simpan, logis, suatu yang transparan,

b. Representative : indikator yang digunakan sesuai dengan masalah yang ditemukan, seperti berat per tinggi bukan berat per umur untuk menilai kekurangan gizi akut,

c. Relevant : batas informasi kesehatan masyarakat relevan dapat dan akan dilaksanakan, seperti prevalensi tukak lambung bukanlah indikator prioritas status kesehatan sepanjang fase darurat akut,

d. Timely : pada pendeteksian KLB

(tergantung frekuensi pengumpulan data)

e. Reliable : informasinya didapatkan dengan cara yang terstandar

(definisi kasus, alat, prosedur),

f. Standardized : indicator harus mempunyai arti sama untuk semua pengumpul data pada level tertentu, seperti definisi kasus untuk malaria adalah sama untuk semua CHWs,

g. Continuous : melaksanakan pengukuran yang berulang/continu pada indikator yang sama untuk mendeteksi suatu kecenderungan,

h. Acceptable : dapat diterima bagi populasi yang terpengaruh dan yang berwenang,

i. Flexible : dapat menyesuaikan ke permasalahan kesehatan baru atau perubahan program yang mendadak.

· Sumber Data

Data dikumpulkan melalui laporan langsung dari masyarakat, petugas pos kesehatan, petugas rumah sakit, koordinator penanggulangan bencana setempat. <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Year>2007</Year><RecNum>4</RecNum><record><rec-number>4</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">4</key></foreign-keys><ref-type name="Government Document">46</ref-type><contributors><secondary-authors><author>departemen Kesehatan RI</author></secondary-authors></contributors><titles><title>Pedoman Teknis Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Panduan Bagi Petugas Kesehatan yang Bekerja dalam Penanganan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Di Indonesia</title></titles><dates><year>2007</year></dates><pub-location>Jakarta</pub-location><publisher>Depertemen kesehatan RI</publisher><urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(8)<!–[if supportFields]><![endif]–>. Selain itu, data juga dapat di peroleh dari tenaga kemanusiaan, organisasi non pemerintah, dan berita dari media massa juga penting untuk diperhatikan <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Author>Fauziah</Author><Year>2006</Year><RecNum>2</RecNum><record><rec-number>2</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">2</key></foreign-keys><ref-type name="Book">6</ref-type><contributors><authors><author>Munayah Fauziah</author></authors></contributors><titles><title>Bencana Alam Perlindungan Kesehatan Masyarakat</title></titles><dates><year>2006</year></dates><pub-location>Jakarta</pub-location><publisher>EGC</publisher><urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(2)<!–[if supportFields]><![endif]–>.

2. Pengolahan Dan Penyajian Data

Data surveilen yang terkumpul diolah untuk menyajikan informasi epidemiologi sesuai kebutuhan. Penyajian data meliputi deskripsi maupun grafik data kesakitan penyakit menurut umur dan data kematian menurut penyebab akibat bencana <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Year>2007</Year><RecNum>4</RecNum><record><rec-number>4</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">4</key></foreign-keys><ref-type name="Government Document">46</ref-type><contributors><secondary-authors><author>departemen Kesehatan RI</author></secondary-authors></contributors><titles><title>Pedoman Teknis Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Panduan Bagi Petugas Kesehatan yang Bekerja dalam Penanganan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Di Indonesia</title></titles><dates><year>2007</year></dates><pub-location>Jakarta</pub-location><publisher>Depertemen kesehatan RI</publisher><urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(8)<!–[if supportFields]><![endif]–>.

Surveilen bencana tidak ditujukan untuk memberikan informasi yang teliti mengenai insidensi suatu penyakit. Yang terpenting disini adanya peringatan dini yang dapat mengidentifikasi kapan suatu penyakit atau kumpulan gejala tertentu dapat terjadi di daerah bencana <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Author>Fauziah</Author><Year>2006</Year><RecNum>2</RecNum><record><rec-number>2</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">2</key></foreign-keys><ref-type name="Book">6</ref-type><contributors><authors><author>Munayah Fauziah</author></authors></contributors><titles><title>Bencana Alam Perlindungan Kesehatan Masyarakat</title></titles><dates><year>2006</year></dates><pub-location>Jakarta</pub-location><publisher>EGC</publisher><urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(2)<!–[if supportFields]><![endif]–>.

Keefektifan suatu sistem surveilen dapat dilihat dari peningkatan jumlah pelaporan kasus penyakit dan sindrom yang umum maupun tidak umum. Hal ini karena adanya peningkatan jumlah unit yang melapor, peningkatan kesadaran publik, dan perhatian serta liputan media massa yang mencerminkan peningkatan kasus dari sebelum kejadian bencana <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Author>Fauziah</Author><Year>2006</Year><RecNum>2</RecNum><record><rec-number>2</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">2</key></foreign-keys><ref-type name="Book">6</ref-type><contributors><authors><author>Munayah Fauziah</author></authors></contributors><titles><title>Bencana Alam Perlindungan Kesehatan Masyarakat</title></titles><dates><year>2006</year></dates><pub-location>Jakarta</pub-location><publisher>EGC</publisher><urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(2)<!–[if supportFields]><![endif]–>.

3. Analisis Data

kajian epidemilogi merupakan kegiatan analisis dan interpretasi data epidemiologi yang dilaksanakan oleh tim epidemiologi.

Langkah-langkah pelaksanaan analisis <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Year>2007</Year><RecNum>4</RecNum><record><rec-number>4</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">4</key></foreign-keys><ref-type name="Government Document">46</ref-type><contributors><secondary-authors><author>departemen Kesehatan RI</author></secondary-authors></contributors><titles><title>Pedoman Teknis Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Panduan Bagi Petugas Kesehatan yang Bekerja dalam Penanganan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Di Indonesia</title></titles><dates><year>2007</year></dates><pub-location>Jakarta</pub-location><publisher>Depertemen kesehatan RI</publisher><urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(8)<!–[if supportFields]><![endif]–>:

· menentukan prioritas masalah yang akan dikaji,

· merumuskan pemecahan masalah dengan memperhatikan efektifitras dan efesiensi kegiatan,

· menetapkan rekomendasi sebagai tindakan korektif.

4. Penyebarluasan Informasi

Untuk mencegah timbulnya kejadian luar biasa pada situasi bencana, maka deteksi kasus dan respons pengendalian harus dilakukan secara simultan. Setiap informasi yang mengarah pada munculnya sebuah kasus penyakit prioritas di wilayah bencana (meskipun dalam bentuk rumor), harus ditindak lanjuti dengan proses verifikasi segera dengan melakukan penyelidikan epidemiologis. Tim epidemiolog lapangan harus sesegera mungkin diterjunkan ke lapangan untuk mengambil sampel penderita, melakukan verifikasi laboratorium, yang apabila memungkinkan dengan menggunakan tes cepat (rapid test), agar verifikasi diagnosis dapat dilakukan pada saat itu juga.

Hasil penyelidikan epidemiologis, kemudian didiseminasi pada rapat koordinasi sektor kesehatan, agar semua relawan kesehatan yang berada di wilayah bencana mempunyai informasi tentang risiko penyebaran penyakit di wilayah kerja mereka <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Author>Fuad</Author><Year>2005 &#xD;</Year><RecNum>9</RecNum><record><rec-number>9</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">9</key></foreign-keys><ref-type name="Electronic Article">43</ref-type><contributors><authors><author>Anis Fuad </author></authors></contributors><titles><title>Peranan Sistem Informasi Geografis Kesehatan dalam Bencana</title></titles><dates><year>2005 &#xD;</year></dates><urls><related-urls><url>(http://anisfuad.wordpress.com)</url></related-urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(11)<!–[if supportFields]><![endif]–>.

Diseminasi ini juga diperlukan agar semua stakeholder yang terkait dengan kegiatan pengendalian penyakit dapat berkoordinasi untuk menyatukan sumber daya, dan merencanakan program intervensi yang sistematik. Untuk keperluan itulah mengapa surveilans penyakit pada situasi bencana juga menekankan pada aspek kecepatan mendapatkan data, mengolah, menganalisa dan mendesimenasikan informasi tersebut pada semua pihak terkait <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Author>Fuad</Author><Year>2005 &#xD;</Year><RecNum>9</RecNum><record><rec-number>9</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">9</key></foreign-keys><ref-type name="Electronic Article">43</ref-type><contributors><authors><author>Anis Fuad </author></authors></contributors><titles><title>Peranan Sistem Informasi Geografis Kesehatan dalam Bencana</title></titles><dates><year>2005 &#xD;</year></dates><urls><related-urls><url>(http://anisfuad.wordpress.com)</url></related-urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(11)<!–[if supportFields]><![endif]–>.

d. Proses Kegiatan Surveilen pada tiap-tiap Pemberi Pelayanan dan Tingkat Daerah

Kegiatan surveilen sebaiknya dilakukan pada tiap-tiap pos kesehatan dan terpenting sekali pada tiap tingkat daerah, sehingga penetapan kebutuhan dan laporan data tidak ada yang terlupakan atau data tidak ada yang tidak terlaporkan, sehingga penetapan prioritas kegiatan dan pengambilan keputusan tindakan korektif yang akan diambil benar-benar sesuai dengan kondisi bencana.

Adapun kegiatan surveilen dapat dilakukan pada pos-pos dan tingkat daerah yang akan dijabarkan dibawah ini <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Year>2007</Year><RecNum>4</RecNum><record><rec-number>4</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">4</key></foreign-keys><ref-type name="Government Document">46</ref-type><contributors><secondary-authors><author>departemen Kesehatan RI</author></secondary-authors></contributors><titles><title>Pedoman Teknis Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Panduan Bagi Petugas Kesehatan yang Bekerja dalam Penanganan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Di Indonesia</title></titles><dates><year>2007</year></dates><pub-location>Jakarta</pub-location><publisher>Depertemen kesehatan RI</publisher><urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(8)<!–[if supportFields]><![endif]–>:

1. Pos Kesehatan

Kegiatan surveilen yang dilakukan di pos kesehatan, antara lain :

a. pengumpulan data kesakitan penyakit yang diamati dan kematian melalui pencatatan harian kunjungan rawat jalan

b. validasi data agar data menjadi sahih dan akurat, pengolahan data kesakitan menurut jenis penyakit dan golongan umur per minggu

c. pembuatan dan pengiriman laporan. Dalam kegiatan pengumpulan data kesakitan penyakit yang ditujukan pada penyakit-penyakit yang mempunyai potensi menimbulkan terjadinya wabah, dan masalah kesehatan yang bisa memberikan dampak jangka panjang terhadap kesehatan dan/atau memerlukan fasilitas tinggi.

2. Puskesmas

Kegiatan surveilen yang dilakukan di pos kesehatan, anatar lain :

a. pengumpulan data kesakitan penyakit yang diamati dan kematian melalui pencatatan harian kunjungan rawat jalan dan rawat inap pos kesehatan yang ada di wilayah kerja

b. validasi data agar data menjadi sahih dan akurat,

c. pengolahan data kesakitan menurut jenis penyakit, golongan umur dan tempat tinggal per minggu,

d. pembuatan dan pengiriman laporan.

3. Rumah Sakit

Kegiatan surveilen yang dilakukan di pos kesehatan, antara lain :

a. pengumpulan data kesakitan penyakit yang diamati dan kematian melalui pencatatan rujukan kasus harian kunjunagn rawat jalan dan rawat inap dari para korban bencana,

b. validasi data agar data menjadi sahih dan akurat,

c. pengolahan data kesakitan menurut jenis penyakit, golongan umur dan tempat tinggal per minggu,

d. pembuatan dan pengiriman laporan.

4. kabupaten/Kota

Kegiatan surveilen yang dilakukan di pos kesehatan, antara lain :

a. pengumpulan data berupa data jenis bencana, keadaan bencana, kerusakan sarana kesehatan, kesakitan penyakit yang diamati dan kematian para korban bencana yang berasal dari puskesmas, rumah sakit, atau Poskes khusus.

b. Surveilen aktif untuk penyakit tertentu,

c. validasi data agar data menjadi sahih dan akurat,

d. pengolahan data kesakitan menurut jenis penyakit, golongan umur dan tempat tinggal per minggu,

e. pertemuan tim epidemiologi kabupaten/kota untuk melakukan analisis data dan merumuskan rekomendasi rencana tindak lanjut penyebarluasan informasi.

5. Provinsi

Kegiatan surveilen yang dilakukan di pos kesehatan, antara lain :

a. pengumpulan data kesakitan penyakit yang diamati dan kematian para korban bencana yang berasal dari dinas kabupaten/kota,

b. Surveilen aktif untuk penyakit tertentu,

c. validasi data agar data menjadi sahih dan akurat,

d. pengolahan data kesakitan menurut jenis penyakit, golongan umur dan tempat tinggal per minggu,

e. pertemuan tim epidemiologi provinsi untuk melakukan analisis data dan merumuskan rekomendasi rencana tindak lanjut, penyebarluasan informasi, pembuatan dan pengiriman laporan.

Adanya rekomendasi dari hasil kajian analisis data oleh tim epidemilogi diharapkan dapat menetapkan rencana kegiatan korektif yang efektif dan efisien sesuai kebutuhan. Rencana kegiatan korektif ini diharapkan dapat menurunkan dan menekan peningkatan penyakit khususnya penyakit menular <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Year>2007</Year><RecNum>4</RecNum><record><rec-number>4</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">4</key></foreign-keys><ref-type name="Government Document">46</ref-type><contributors><secondary-authors><author>departemen Kesehatan RI</author></secondary-authors></contributors><titles><title>Pedoman Teknis Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Panduan Bagi Petugas Kesehatan yang Bekerja dalam Penanganan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Di Indonesia</title></titles><dates><year>2007</year></dates><pub-location>Jakarta</pub-location><publisher>Depertemen kesehatan RI</publisher><urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(8)<!–[if supportFields]><![endif]–>.

e. Bentuk-bentuk Pelaporan pada Saat Bencana

Sistem pelaporan pada saat bencana sangat menentukan keberhasilan pengumpulan data, dibawah ini ada beberapa contoh form pelaporan pada kondisi bencana.

1. Bentuk pelaporan penyakit menular yang digunakan Pan American Health Organization <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Author>Western</Author><Year>2003</Year><RecNum>7</RecNum><record><rec-number>7</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">7</key></foreign-keys><ref-type name="Electronic Book">44</ref-type><contributors><authors><author>Karl A. Western</author></authors></contributors><titles><title>Epidemiologic Surveillance after Natural Disaster (PAHO-OPS, 1982, 105 p.)</title></titles><dates><year>2003</year></dates><pub-location>Washington</pub-location><publisher>Pan American Sanitary Bureau, Regional Office of the WHO</publisher><urls><related-urls><url>ww.disaster-info.net/infovolcanes/pdf/eng/doc13950/doc13950-1a.pdf+Epidemiologic+Surveillance+after+Natural+Disaster&amp;cd=20&amp;hl=en&amp;ct=clnk</url></related-urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(10)<!–[if supportFields]><![endif]–> :

Figure 1: Form for Weekly Report of Communicable Diseases Used at the Pan American Health Organization

Country___________________ Week ended___________________ 19___________________ Number___________________

Disease and Category International Classification of Diseases (1975 Revision) Cumulative for Total Week for Total Year

Diseases Subject to the International Health Regulations +

Cholera (001)

Plague (020) Smallpox (050) Sylvatic yellow fever (060.0) Urban yellow fever (060.1) Unspecified yellow fever (060.9)

Diseases under International Surveillance

Influenza (487) Louse-borne (epidemic) typhus (080) Louse-borne relapsing fever (087.0) Malaria (084)

Diseases of the Expanded Program on Immunization

Poliomyelitis, acute (045) Measles (055) Diphtheria (032) Tetanus (excludes neonatorum) (037) Tetanus neonatorum (771.3) Whooping cough (033)

Other Diseases of Regional Interest

Typhoid fever (002.0) Dengue (061) Meningococcal infection (036) Arenaviral hemorrhagic fever (Argentinian or Bolivian hemorrhagic fever) (078.7) Mosquito-borne viral encephalitis (062) Western equine encephalitis (062.1) Eastern equine encephalitis (062.2) St. Louis encephalitis (062.3) Venezuelan equine fever (066.2) Other encephalitides (specify)

Other Diseases of Sub-regional or National Interest

+ Complete information on reverse. … Data not available. – Quantity zero. * Disease not notifiable.

Return one copy to:

Pan American Sanitary Bureau525 Twenty-third St., N.W. Washington, D.C. 20037 U.S.A.

and one copy to:

Caribbean Epidemiology Center P.O. Box 164 Port-of-Spain Trinidad

Date: ___________________ Signature: ___________________ Title: ___________________

Sumber : . Epidemiologic Surveillance after Natural Disaster (PAHO)

4. Contoh format pelaporan untuk pengamatan pola penyakit dan kematian di wilayah bencana <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Year>2006</Year><RecNum>12</RecNum><record><rec-number>12</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">12</key></foreign-keys><ref-type name="Electronic Book">44</ref-type><contributors></contributors><titles><title>Surveilans dan Pengendalian Penyakit Menular Paska Bencana</title></titles><dates><year>2006</year></dates><urls><related-urls><url>http://www.desentralisasi-kesehatan.net/id/moduldm/id/tt_4/bacaan/Surveilans_dan_Pengendalian_Penyakit_Menular.pdf</url></related-urls></urls></record></Cite></EndNote&gt;<![endif]–>(12)<!–[if supportFields]><![endif]–>:

Sumber : Surveilans dan Pengendalian Penyakit Menular Paska Bencana.

5. Pelaporan kejadian bencana melalui sms,

KETERANGAN PELAPORAN KEJADIAN BENCANA

MELALUI SHORT MESSAGE SERVICE (SMS)

Tanggal/Bulan/Tahun (TBT) :……………………. Jenis Bencana (JB) :……………………. Lokasi Bencana (LOK) :……………………. Waktu Kejadian Bencana (PKL) :……………………. Jumlah Penduduk Terancam (PAR) :…………… Orang Jumlah Korban

· a. Meninggal (MGL) :………………..Orang

· b. Hilang (HLG) :………………..Orang

· c. Luka Berat (LB) :………………..Orang

· d. Luka Ringan ( LR ) :……………….Orang

· e. Dirawat

· Puskesmas (RWP) :………………..Orang

· Rumah Sakit (RWS) :………………..Orang

CARA PENULISAN SMS: (TBT)……., (JB)…….., (LOK)……….., (PKL)………, (PAR)……….., (MGL)…….., (HLG)………, (LB)………, (LR)………., (RWP)………, (RWS)………. Catatan : Titik titik diisi dengan angka atau huruf sesuai dengan data-data yang ada Contoh : (TBT)160507, (JB)Banjir, (LOK)ds antasari, (PKL)10.30wib, (PAR)200, (MGL)25, (HLG)10, (LB)25, (LR)75, (RWP)10, (RWS)

Sumber : http://www.ppk-depkes.org

6. Form Pelaporan Register Harian Penyakit pada Korban Bencana,

Form BA-3Pelaporan Register Harian Penyakit pada Korban Bencana

Poskes : ……………..

Kecamatan : ……………..

Kab/Kota : ……………..

Tanggal : …………….. Bulan : ………………….

No.

Nama Penderita

Umur

L/P

Alamat

Ket

Sumber : Fauziah M. Bencana Alam Perlindungan Kesehatan Masyarakat

7. Form Rekapitulasi Penyakit Harian pada Bencana,

Form BA-4 Rekapitulasi Penyakit Harian pada Bencana

Nama Poskes : ……………. Kec. : …………… Kab/Kota : …………….

Tgl mulai Kejadian : ……………. Bulan : ……………

No.

Jenis Penyakit

Diare

ISPA

Kulit

Dst…..

< 1 th

1-5 th

>5 th

total

< 1 th

1-5 th

>5 th

total

< 1 th

1-5 th

>5 th

total

< 1 th

1-5 th

>5 th

total

Sumber : Fauziah M. Bencana Alam Perlindungan Kesehatan Masyarakat

8. Form Laporan Mingguan Penyakit Korban Bencana,

FormBA-5 Laporan Mingguan Penyakit Korban Bencana

Tanggal Kejadian Bencana : …………….. Bulan : …………….

Nama Poskes : …………….. Desa : …………….

Kecamatan : …………….. Kab/Kota : …………….

Minggu kejadian ke : ……………..

No.

Nama Penyakit

Kelompok Umur

< 1 th

1-5 th

> 5 th

Total

Sumber : Fauziah M. Bencana Alam Perlindungan Kesehatan Masyarakat

f. Pengendalian Pengendalian

Bencana mengakibatkan banyaknya kerugian pada manusia.. Selain mungkin kehilangan keluarga, tempat tinggal, harta, ‘penderitaan’ lanjutan siap menunggu. Akibat rusaknya lingkungan, berbagai penyakit dapat menyerang korban yang selamat karena daya tahan menurun, air dan lingkungan tercemar, konsumsi makan yang tidak terjamin.

Peningkatan penyakit menular sangat jarang terjadi seketika bencana melanda. peningakatan ini terjadi setelah beberapa hari setelah bencana melanda. Hal ini, didukung oleh berbagai faktor resiko yang telah diuraikan pada bagian faktor resiko diatas. Walaupun demikian, tim surveilen harus segera melakukan pengamatan dan pengumpulan data untuk mengurangi resiko kesakitan dan untuk pengendalian penyakit agar tidak terjadi KLB, mengurangi kematian, dan kerugian lainnya.

Beberapa penyakit menular yang berpotensi KLB adalah :

f. Diarrhea akut ( mencakup disentri dan kolera)

g. Sindrom Penyakit kuning akut

h. Infeksi/Peradangan berhubung pernapasan akut

i. Malaria

j. Penyakit tipus

k. Demam berdarah

l. Penyakit otak akut

m. Campak

n. Radang selaput [otak,sumsum belakang] pyogenic akut

Beberapa definisi kasus penyakit prioritas yang digunakan WHO dalam

kegiatan surveilans pasca bencana yang di gunakan pada format pelaporan rawat jalan, Surveilans pasca gempa Jogjakarta 2006, <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Year>2006</Year><RecNum>12</RecNum><record><rec-number>12</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">12</key></foreign-keys><ref-type name="Electronic Book">44</ref-type><contributors></contributors><titles><title>Surveilans dan Pengendalian Penyakit Menular Paska Bencana</title></titles><dates><year>2006</year></dates><urls><related-urls><url>http://www.desentralisasi-kesehatan.net/id/moduldm/id/tt_4/bacaan/Surveilans_dan_Pengendalian_Penyakit_Menular.pdf</url></related-urls></urls></record></Cite></EndNote&gt;<![endif]–>(12)<!–[if supportFields]><![endif]–> <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Year>2004</Year><RecNum>13</RecNum><record><rec-number>13</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">13</key></foreign-keys><ref-type name="Electronic Article">43</ref-type><contributors></contributors><titles><title>Pencegahan Wabah Penyakit Pasca-bencana&#xD;</title></titles><dates><year>2004</year></dates><urls><related-urls><url>http://cybermed.cbn.net.id/cbprtl/cybermed/detail.aspx?x=Health+News&amp;y=cybermed|0|0|5|2709</url></related-urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(13)<!–[if supportFields]><![endif]–> :

a. Meningitis

Suspek kasus: Demam tinggi mendadak (>38.5) dengan kaku kuduk. Pada pasien bayi ditandai dengan mencembungnya ubun-ubun.

Probable meningitis bakterial: suspek kasus seperti definisi diatas dengan cairan cerebrospinal yang keruh.

Probable meningococcal meningitis : suspek kasus seperti definisi diatas dengan pengecatan gram menunjukkan bakteri diplococcus gram negatif atau saat terjadi epidemi atau adanya petekie atau rash purpura.

Confirmed case: kasus suspek atau probable seperti definisi dicatat dengan cairan serebrospinal positif terhadap antigen N. meningitis atau kultur positif cairan serebrospinal atau darah terhadap N. meningitidis.

b. Sindroma jaundice akut:

Kumpulan gejala yang ditandai dengan kejadian jaundice dan demam.

c. Infeksi saluran paru akut (ISPA):

Istilah ini diadaptasi dari istilah dalam bahasa Inggris acute respiratory infections (ARI). Istilah ISPA merupakan penyakit infeksi akut yang menyerang sistem pernafasan.

Pencegahan

· Pengadaan rumah dengan ventilasi yang memadai, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Peningkatan gizi balita.

· Menurut dr Bambang Suprianto dari Bagian Anak RSCM, untuk ISPA yang ringan seperti batuk diberikan obat batuk biasa, sedang penderita ISPA yang berat dan pneumonia harus diberi antibiotik.

d. Diare cair akut:

Tinja cair atau lembek tiga kali atau lebih dalam 24 jam terakhir, dengan atau tanpa dehidrasi.

Gejala

· Frekuensi buang air besar melebihi normal

· Kotoran encer/cair

· Sakit/kejang perut

· Demam dan muntah, pada beberapa kasus

Penyebab

  • Anxietas/rasa cemas
  • Keracunan makanan
  • Infeksi virus dari usus
  • Alergi terhadap makanan tertentu

Yang dapat dilakukan

· Minum banyak cairan

· Hindari makanan padat atau yang tidak berperasa selama 1-2 hari

· Minum cairan rehidrasi oral-oralit

  • Periksa dokter bila bertambah berat
  • Diare pada bayi sebaiknya segera dibawa ke dokter

Pencegahan Cuci tangan dengan baik setiap habis buang air besar dan sebelum menyiapkan makanan. Tutup makanan untuk mencegah kontaminasi dari lalat, kecoa dan tikus.

e. Suspek Flu burung:

Demam >38oC dan salah satu atau lebih gejala berikut: Batuk, sakit tenggorokan, sesak nafas, dan

  • Riwayat paparan terhadap hal berikut ini dalam 7 hari sebelum timbul gejala:
  • Kontak dengan burung yang sakit, atau burung yang mati karena suatu penyakit,
  • atau kotorannya
  • Kontak dengan kasus flu burung pada manusia baik yang suspek maupun Terkonfirmasi, atau
  • Setiap orang yang memerlukan rawat inap untuk penyakit serupa influenza dan tinggal di atau berasal dari daerah dimana terdapat outbreak flu burung, atau
  • Setiap orang yang meninggal karena penyakit pernapasan yang tidak diketahui sebabnya.

f. Diare berdarah:

Diare akut dengan darah terlihat pada tinja.

g. Kecuriga terhadap kasus cholera:

Penderita berumur lebih dari 5 tahun dengan dehidrasi berat atau meninggal akibat diare cair akut dengan atau tanpa muntah. Pada penderita berumur lebih dari 2 tahun dengan diare cair akut di daerah dimana sedang terjadi KLB cholera.

Cara penularan

Kuman ini ditularkan lewat makanan dan minuman yang tercemar bakteri vibrio cholera.

Gejala

  • Penderita mengalami mencret ringan dan diikuti dengan mencret hebat dengan tidak dapat menahan buang air besar
  • Tinja encer, berair, dan berwarna coklat keabu-abuan
  • Penderita merasa seperti tertekan dan nyeri di bagian perut bawah, diikuti
  • dengan kekejangan otot yang serupa
  • Perasaan mual dan muntah-muntah biasanya datang setelah mencret berkembang.
  • Kehilangan cairan dengan tiba-tiba membuat penderita merasa haus.
  • Lidah nampak putih dan kering. Kulit mengerut, bola mata cekung, pipi masuk ke dalam, dan pernapasan mendengkur dan sulit
  • Tekanan darah turun dan suhu tubuh bisa di bawah normal dan denyut nadi cepat.

Pengobatan

  • Pengobatan utama pada penderita kolera adalah penggantian cairan tubuh yang keluar.
  • Penggantian cairan dapat dilakukan dengan minum oralit (cairan garam-gula).
  • Bila kehilangan cairan sudah cukup banyak dan penderita sudah tidak dapat menerima cairan dari mulut maka cairan pengganti diberikan melalui infus (cairan ringer laktat).

Pencegahan

· Penyakit ini dapat dicegah dengan menjaga kebersihan air dengan baik

· Buang air besar pada tempat khusus yaitu jamban atau WC

· Menjaga kebersihan makanan dan minuman, dan vaksinasi.

· Jangan lupa untuk selalu menyediakan oralit di rumah sebagai pencegah kehilangan cairan tubuh.

h. Demam berdarah dengue:

Demam tinggi >38.0°C yang terjadi secara mendadak selama 2-7 hari dengan 2 atau lebih gejala berikut ini: sakit kepala, nyeri retro orbital, mialgia, athralgia, rash, leucopenia, dan gejala perdarahan (Test tourniket positif, petechiae, purpura, perdarahan mukosa, saluran pencernaan, tempat suntikan, hematemesis, melena)

i. Malaria:

Penderita dengan demam atau riwayat demam pada 48 jam terakhir (dengan atau tanpa gejala seperti mual, muntah dan diare, sakit kepala, sakit punggung, menggigil, sakit otot) dengan hasil positif pada pemeriksaan laboratorium parasit malaria [apusan darah (tebal atau tipis) atau rapid diagnostic test].

Gejala malaria terdiri atas 3 stadium berurutan:

  • menggigil (selama 15-60 menit), terjadi setelah pecahnya sizon dalam eritrosit dan keluar zat-zat antigenik.
  • Demam (selama 2-6 jam), timbul setelah penderita menggigil, demam dengan suhu badan sekitar 37,5-40 derajat Celcius, pada penderita hiper parasitemia (lebih dari 5%) suhu meningkat sampai lebih dari 40 derajat celcius.
  • Berkeringat (selama 2-4 jam), timbul setelah demam, terjadi akibat gangguan metabolisme tubuh sehingga produksi keringat bertambah. Kadang keringat sampai membasahi tubuh seperti orang mandi. Biasanya setelah berkeringat, penderita merasa sehat kembali.

Di daerah endemis malaria di mana penderita telah imun terhadap malaria gejala klasik di atas timbul tidak berurutan atau muncul gejala lain. Gejala malaria dalam program pemberantasan malaria antara lain demam, menggigil, berkeringat, dan dapat disertai dengan gejala lain seperti sakit kepala, mual dan muntah.

Pengobatan Jenis obat malaria sendiri antara lain:

  • Obat standar : klorokuin dan primakuin
  • Obat alternatif : Kina dan Sp (Sulfadoksin + Primetamin)
  • OBat penunjang : Vitamin B Complex, vitamin C dan SF (Sulfas Ferrosus)
  • Obat malaria berat: Kina HCL 25% injesi (1 ampul 2 cc) – obat standar
  • Klorokuin injeksi ( 1 ampul 2 cc) sebagai obat alternatif

Pencegahan Tidur dengan kelambu dan menggunakan lotion anti nyamuk atau dalam kondisi tertentu bisa menggunakan sampo.(Pencegahan Wabah Penyakit Pasca-bencana, Health News Fri, 31 Dec 2004 13:41:00 WIB )

j. Campak:

Demam dengan ruam maculopapular (i.e. non-vesicular) dan batuk, pilek (hidung berair) atau konjungtivitis (i.e. mata merah) atau setiap penderita dimana petugas kesehatan mencurigai infeksi campak

k. Pneumonia:

Selain ISPA sering juga ditemukan pneumonia yaitu proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli). Terjadinya pneumonia pada anak seringkali bersamaan dengan proses infeksi akut pada bronkus (biasa disebut bronchopneumonia).

Gejala penyakit ini berupa napas cepat dan napas sesak, karena paru meradang secara mendadak. Pada anak <5 tahun: Batuk atau kesulitan bernafas , dan pernapasan 50 kali permenit atau lebih, pada anak berumur 2 bulan hingga 1 tahun atau pernapasan 40 kali per menit atau lebih pada anak berumur 1 hingga 5 tahun, dengan atau tanpa ada tarikan dinding dada ke dalam, atau ada stridor. Pada anak di bawah usia dua bulan, tidak dikenal diagnosis pnemonia.

III. Beda survei dan surveilen

Beda survei dan surveilen dapat dilihat dalam tabel berikut ini <!–[if supportFields]> ADDIN EN.CITE <EndNote><Cite><Author>Kusnanto</Author><RecNum>11</RecNum><record><rec-number>11</rec-number><foreign-keys><key app="EN" db-id="22eef00prfxew5e0pdcxppfb0rvf9vfddx5p">11</key></foreign-keys><ref-type name="Unpublished Work">34</ref-type><contributors><authors><author>Hari Kusnanto</author></authors></contributors><titles><title>Epidemiologi Bencana</title></titles><dates></dates><pub-location>yogyakarta</pub-location><publisher>Prodi S2 IKM UGM</publisher><urls></urls></record></Cite></EndNote><![endif]–>(9)<!–[if supportFields]><![endif]–>:

Tabel 2. Beda Survei dan Surveilen

No.

SURVEI

SURVEILEN

1.

2.

3.

4.

5.

Berkala (intermittent), fokus pada pengumpulan data dasar populasi, aktif

Pengumpulan informasi demografi, morbidity (kesakitan), mortality (kematian), status gizi (kekurangan gizi akut), indikator program (seperti : EPI, ANC, SFP, penggunaan pelayanan kesehatan)

Kemungkinan terbatas pada agen/fasilitas terkait.

Menggunakan sampling yang sesuai, mempertimbangkan kesenjangan informasi pada level komunitas

Memerlukan tim dan sumber daya yang lebih untuk mengorganisir, tapi pada satu waktu hanya biaya.

Berkelajutan, pengumpulan secara sistematis, analisis dan interpretasi data fasilitas dan data dasar, secara pasif

Pengumpulan informasi demografi, morbidity (kesakitan), mortality (kematian), gizi (defisiensi gizi micro), indikator pelayanan kesehatan adn kesehatan lingkungan.

Melibatkan semua agen dan fasilitas kesehatan.

Mengamati mereka yang mengunjungi fasilitas pelayanan dasar, oleh karena itu tidak mewakili semua kelompok yang membutuhkan.

Lebih sedikit mahal karena terintegrasi di dalam pelayanan rutin dan sistem yang berjalan.

<!–[if supportFields]> ADDIN EN.REFLIST <![endif]–>DAFTAR PUSTAKA

1. Efendi F. Konsep Bencana Definisi Bencana (Disaster). Journal [serial on the Internet]. 2007 Date: Available from: http://ferryefendi.blogspot.com/2007/12/konsep-bencana-disaster.html.

2. Fauziah M. Bencana Alam Perlindungan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: EGC; 2006.

3. Waring SC. Communicable Diseases Following Natural Disasters: A Public Health Response Associate Director Center for Public Health Preparedness, . Houston: university of texas school of public health.

4. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 1116/menkes/sk/viii/2003 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilen Epidemiologi Kesehatan Menteri kesehatan Republik Indonesia. In: Kesehatan D, editor. Jakarta: Departemen Kesehatan; 2003.

5. Djafri D. Disaster Surveilen In press 2009.

6. Azam M. Surveilen Epidemiologi

Journal [serial on the Internet]. 2007 Date.

7. Strengthening of post disaster disease surveillance in selected Tsunami affected districts in Tamil Nadu, Kerala, Andhra Pradesh and Pondicherry. In: India OotWRt, editor. New Delhi: WHO; 2005.

8. Pedoman Teknis Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Panduan Bagi Petugas Kesehatan yang Bekerja dalam Penanganan Krisis Kesehatan Akibat Bencana Di Indonesia. In: RI dK, editor. Jakarta: Depertemen kesehatan RI; 2007.

9. Kusnanto H. Epidemiologi Bencana. In.

10. Western KA. Epidemiologic Surveillance after Natural Disaster (PAHO-OPS, 1982, 105 p.). Washington: Pan American Sanitary Bureau, Regional Office of the WHO; 2003 [cited. Available from: ww.disaster-info.net/infovolcanes/pdf/eng/doc13950/doc13950-1a.pdf+Epidemiologic+Surveillance+after+Natural+Disaster&cd=20&hl=en&ct=clnk.

11. Fuad A. Peranan Sistem Informasi Geografis Kesehatan dalam Bencana. Journal [serial on the Internet]. 2005

Date: Available from: (http://anisfuad.wordpress.com).

12. Surveilans dan Pengendalian Penyakit Menular Paska Bencana. 2006 [cited. Available from: http://www.desentralisasi-kesehatan.net/id/moduldm/id/tt_4/bacaan/Surveilans_dan_Pengendalian_Penyakit_Menular.pdf.

13. Pencegahan Wabah Penyakit Pasca-bencana

Journal [serial on the Internet]. 2004 Date: Available from: http://cybermed.cbn.net.id/cbprtl/cybermed/detail.aspx?x=Health+News&y=cybermed|0|0|5|2709.

<!–[if supportFields]><![endif]–>

pertama kali mendengarkan nyanyi ini sungguh menyentuh hati, siapa saja yang mendengarkannya, bukan hanya dari music nya yang indah, tapi liriknya juga seperti sajak puisi indah dan menceritakan keadaan di Gaza..

We Will Not Go Down
Intro : Am x4
Am C
A blinding flash of white light
G Am
Lit up the sky over Gaza tonight
Am C
People running for cover
G Am
Not knowing whether they’re dead or alive
Dm Am
They came with their tanks and their planes
Dm Am
With ravaging fiery flames
Dm F
And nothing remains
C G
Just a voice rising up in the smoky haze
F C
We will not go down
Am G
In the night, without a fight
F C
You can burn up our mosques and our homes and our schools
Am G
But our spirit will never die
Am G
We will not go down
Am
In Gaza tonight
Am C
Women and children alike
G Am
Murdered and massacred night after night
Am C
While the so-called leaders of countries afar
G Am
Debated on who’s wrong or right
Dm Am
But their powerless words were in vain
Dm Am
And the bombs fell down like acid rain
G Am
But through the tears and the blood and the pain
C Em
You can still hear that voice through the smoky haze
F C
We will not go down
Am G
In the night, without a fight
F C
You can burn up our mosques and our homes and our schools
Am G
But our spirit will never die
Am G
We will not go down
Am
In Gaza tonight
F C
We will not go down
Am G
In the night, without a fight
F C
You can burn up our mosques and our homes and our schools
Am G
But our spirit will never die
F C
We will not go down
Am G
In the night, without a fight
Am G
We will not go down
Am
In Gaza tonight

huhhhhhhhhhh…….
dunia ini begitu kejam…
tak berperasaan ..
tak pandang siapa…
semua dilibasnya..
huuuhh…
stress berat …
mengapa engkau datang menghampiri ku ????
ya..
sekarang ini…
apa ini, bagian dari perjuangan ku…
apa ini, cobaan dalam pencapaian harapan ku…
apa ini…????
apa ini, awal kebahagian yang kan aku jalani…
aku harap ya…
pi semua,,,kehendak Nya…
ku hanya bisa berdoa…

haruskah aku harus menangis…
apakah aku harus bersyukur dengan semua ini…
ahhh…aku tak tau,,,,
yang aku tau hari ini aku pusing.. aku bingung..
aku tak tau, seperti apa perasaanku saat ini…
huhhh…

eps.. ini hanya untuk melepas beban yang sedang aku pikul,,,
aku ingin menuangkan semua ini dalam tulisan ku ini…
udah yachhhh…
dachh by,,

Jeruk nipis tidak hanya berfungsi sebagai minuman yang menyegarkan, tetapi jeruk nipis juga memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Walaupun ukurannya kecil, jeruk nipis memiliki banyak kandungan nutrisi yang bermanfaat bagi kesehatan. Buah yang sudah dikonsumsi ribuan tahun yang lalu ini juga bisa mencegah daan menyembuhkan berbagai macam penyakit. Memang ada begitu banyak jeruk, antara lain jeruk keprok, jeruk manis, jeruk sitrun, jeruk sambal, jeruk nipis, jeruk mandarin, dan masih banyak lagi yang lainnya. Akan tetapi, dari segi manfaat tidak ada satu pun yang menyamai jeruk nipis. Dalam artikel ini akan dibahas mengenai manfaat buah jeruk nipis bagi andungan minyak atsiri dalam jeruk nipis lebih tinggi dari jeruk lainnya.
Beberapa manfaat buah jeruk nipis yang secara umum sudah diketahui sejak lama misalnya untuk:

1. Obat batuk. Umumnya, buah jeruk nipis dibelah, kemudian pada permukaan belahannya diberi olesan kapur sirih, dipanaskan, kemudian perasan airnya diminum bersama air jernih karena air jeruk nipis berfungsi sebagai pelancar dahak yang dapat menyebabkan batuk-batuk, hingga akan cepat dapat dikeluarkan. Akibatnya, rasa batuk-batuk akan dapat dikurangi. Ada pula yang mencampur air perasan buah jeruk nipis dengan buah cengkeh, kalau perlu ditambah gula-batu sedikit campur dengan air panas, setelah melarut baru diminum. Ini pun manfaatnya akan sama seperti cara di atas tadi.

2. Melemaskan rasa tegang pada otot, misal pada tangan, kaki, ataupun bagian lainnya, dengan cara: Air perasan jeruk nipis ditambah sedikit air, kemudian digosokkan hingga rata pada bagian yang dirasakan sakit atau tegang. Bahkan, ada pula air perasan buah jeruk ditambahkan ke dalam air hangat di dalam ember kecil, kemudian digunakan untuk merendam kaki bagian bawah maka rasa pegal-pegal atau sakit akan hilang secepatnya.

3. Menurunkan rasa panas badan, terutama pada anak-anak. Air perasan jeruk nipis ditambah selembar daun sirih, ditambah air hangat, digunakan untuk bahan pengompresan maka rasa panas akan cepat hilang kalau dibandingkan hanya dengan air tanpa campuran.

4. Obat antimabuk, yaitu sebelum atau selama perjalanan panjang meminum perasan air buah jeruk nipis, terutama bagi mereka yang biasa dilanda mabuk perjalanan. Bahkan, bagi orang-orang tertentu hanya dengan mencium bau remasan kulit jeruknya saja sudah lebih dari cukup untuk menghilangkan rasa mabuk di perjalanan walau perjalanan jauh pun.

5. Bagi mereka yang menderita gangguan pada saat buang air kecil maka meminum air perasan buah jeruk nipis ditambah gula batu sedikit agar tidak terlalu asam, ternyata banyak manfaatnya. Bahkan, kepenatan yang sering dialami oleh seseorang karena terlalu banyak menggunakan ”otaknya” dengan cara ini pun akan banyak membantu untuk meringankan.

6. Di lingkungan masyarakat Jawa, banyak ibu-ibu yang menggunakan air perasan buah jeruk nipis untuk mengecilkan dan ”mengeringkan” peranakan sehabis melahirkan dengan cara mencampur air perasan dengan kapur sirih, kemudian dijadikan parem, serta dibalurkan ke bagian perut selama 40 hari. Bahkan, ada pula yang kemudian membiasakan meminum air perasan buah jeruk tsb. yang dicampur sedikit garam, sedikit kapur sirih dengan air hangat.

7. Menghilangkan bau keringat, bau ketiak, serta bau badan lainnya. Air perasan buah jeruk nipis banyak membantu dengan cara mencampurkan perasan itu dengan sedikit kapur sirih, kemudian dijadikan obat gosok ke bagian badan yang menghasilkan bau tsb.

sumber:
dari berbagai sumber